Pantau - Turnamen Grand Tournament Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) Goes to School 2025 di Tunjungan Plaza, Surabaya, Kamis (8 Januari 2026), menjadi simbol pergeseran paradigma dalam dunia pendidikan, ketika gim daring bukan lagi dipandang sebagai ancaman, tetapi sebagai sarana pembentukan karakter siswa.
Acara ini mempertemukan puluhan pelajar yang bertanding di panggung utama dan layar besar, disaksikan langsung oleh penonton yang antusias.
Dinas Pendidikan Kota Surabaya tidak mengambil pendekatan represif terhadap gim daring, tetapi justru menggandeng pengembang Moonton Games untuk meluncurkan kampanye edukatif bertajuk “Belajar dulu, baru mabar” — slogan yang kini menjadi kontrak sosial antara siswa, guru, dan orang tua.
Gim Jadi Sarana Pendidikan, Bukan Sekadar HiburanMenurut Erina Tan, Kepala Bidang Pengembangan Ekosistem Gim Moonton Games, partisipasi mereka dalam program ini bukan untuk mendorong anak bermain tanpa batas, melainkan untuk memperkuat literasi digital dan menanamkan nilai-nilai kerja sama, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan di dunia nyata.
Dalam turnamen ini, siswa SD dan SMP belajar sportivitas, cara menerima kekalahan, hingga merayakan kemenangan tanpa arogansi.
Program ini juga mengubah cara guru menyikapi penggunaan gawai di sekolah.
Melalui inisiatif MLBB Teacher Ambassador, guru kini berperan sebagai mentor yang membimbing siswa dalam menyeimbangkan waktu belajar dan bermain.
Lebih dari 328 sekolah di Jawa Timur telah terlibat dalam program ini.
Kepala Dinas Pendidikan Surabaya, Febrina Kusumawati, menegaskan bahwa keseimbangan adalah kunci, dan bahwa gim hanya boleh menjadi bagian dari hidup siswa selama prestasi akademis tetap terjaga.
Sistem yang dikembangkan menciptakan insentif belajar, di mana siswa harus berprestasi terlebih dahulu untuk bisa bermain dan ikut kompetisi.
Membangun Atlet E-Sports yang Disiplin dan SehatSurabaya dipilih sebagai proyek percontohan nasional karena memiliki infrastruktur digital yang kuat dan dukungan dari Pemkot terhadap ekonomi kreatif.
Menurut Kadispora Jawa Timur, Hadi Wawan, program ini menjadi fondasi pembinaan atlet e-sports usia dini yang selama ini kurang terstruktur.
Dengan masuknya turnamen resmi ke sekolah, proses pembinaan kini:
Lebih terukur
Disertai aturan ketat
Didampingi oleh tenaga ahli
Turnamen ini juga membuktikan bahwa bermain gim bukan lagi aktivitas pasif, tetapi kompetisi atletik mental yang membutuhkan fokus dan strategi.
Selain itu, siswa dikenalkan dengan profesi lain dalam industri e-sports, seperti analis, manajer tim, shoutcaster, dan penyelenggara acara.
Tujuan utamanya adalah menjadikan siswa bukan hanya konsumen teknologi, tetapi pelaku aktif di industri digital.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa kesehatan fisik dan mental tetap menjadi prioritas.
Siswa terus diingatkan akan bahaya durasi layar berlebih dan pentingnya aktivitas fisik.
Surabaya ingin melahirkan atlet e-sports yang cerdas, disiplin, dan sehat, yang bisa menjadi juara di gim setelah menjadi juara di kehidupan nyata.
Melalui kolaborasi, keterbukaan, dan disiplin, MLBB Goes to School 2025 menjadi standar baru pendidikan digital nasional dengan prinsip sederhana yang kuat: “Belajar dulu, baru mabar.”



