Garda Revolusi Iran (IRGC) menuding kelompok teroris sebagai dalang kerusuhan yang meluas di berbagai wilayah Iran. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, IRGC menegaskan akan menjaga sistem pemerintahan dan menyebut keamanan nasional sebagai “garis merah”.
Pernyataan itu disampaikan saat pemerintah Iran mengisyaratkan akan memperketat penindakan terhadap demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir. IRGC menuduh kelompok teroris menyerang pangkalan militer dan aparat penegak hukum selama dua malam berturut-turut, menyebabkan korban jiwa serta pembakaran fasilitas umum dan properti warga.
Aparat Dikerahkan, Penangkapan DilakukanSeiring tudingan tersebut, aparat keamanan dilaporkan dikerahkan ke sejumlah wilayah. Seorang saksi mata di Iran bagian barat mengatakan pasukan Garda Revolusi telah turun ke lapangan dan melepaskan tembakan.
Kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan, sebanyak 100 orang yang disebut sebagai perusuh bersenjata ditangkap di Baharestan, dekat Teheran. Militer reguler Iran juga menyatakan siap “melindungi kepentingan nasional, infrastruktur strategis, dan fasilitas publik”.
Kerusuhan Meluas di Tengah Internet PadamDi tengah pemadaman internet yang menyulitkan verifikasi, laporan kekerasan terus bermunculan, seperti dikutip Reuters. Sejumlah video yang beredar di media sosial pada Sabtu (10/1) menunjukkan aksi unjuk rasa lanjutan di beberapa kawasan Teheran serta kota-kota lain seperti Rasht (utara), Tabriz (barat laut), Shiraz, dan Kerman (selatan). Reuters menyebut belum dapat memverifikasi keaslian video-video tersebut.
Di Karaj, sebelah barat Teheran, media pemerintah melaporkan sebuah gedung milik pemerintah kota dibakar dan menyebut pelakunya sebagai “perusuh”. Televisi pemerintah juga menayangkan prosesi pemakaman anggota aparat keamanan yang diklaim tewas dalam bentrokan di Shiraz, Qom, dan Hamedan.
Protes Berujung Seruan PolitikAksi demonstrasi yang bermula sejak 28 Desember akibat lonjakan inflasi dengan cepat berubah menjadi tuntutan politik. Dalam video yang diverifikasi Reuters dari kawasan Saadatabad, Teheran, massa terdengar meneriakkan, “Mati untuk diktator” dan “Mati untuk Khamenei”.
Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel berada di balik kerusuhan. Tekanan internasional pun meningkat, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya “siap membantu” Iran dalam “mencari kemerdekaan”.
Korban BerjatuhanKelompok HAM Iran, HRANA, mencatat sedikitnya 50 demonstran dan 15 aparat keamanan tewas, sementara sekitar 2.300 orang ditangkap sejak aksi protes berlangsung.
Seorang dokter di Iran barat laut mengungkapkan bahwa sejak Jumat (9/1), rumah sakit menerima puluhan demonstran yang terluka. Beberapa di antaranya mengalami luka berat akibat pemukulan, cedera kepala, patah tulang, hingga luka sayatan dalam.
Setidaknya 20 orang di satu rumah sakit terkena tembakan peluru tajam, dan lima di antaranya dilaporkan meninggal dunia.




