Sebuah video yang diunggah oleh ibu dengan akun Instagram @bibbinns menarik perhatian warganet. Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang balita dengan sengaja memasukkan jarinya ke dalam mulut hingga akhirnya muntah. Perilaku ini pun memicu pertanyaan banyak orang tua, apakah hal tersebut masih termasuk wajar pada usia balita, atau justru menjadi tanda masalah tertentu?
Apakah Kebiasaan Itu Masih Normal atau Perlu Khawatir?Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan bahwa perilaku memasukkan jari ke mulut hingga memicu muntah bisa saja termasuk dalam rentang normal, tergantung usia anak serta frekuensi dan konteks kejadiannya.
-Pada usia bayi (0–12 bulan)
Memasukkan tangan atau jari ke mulut merupakan bagian dari fase oral dan proses eksplorasi. Di usia ini, refleks muntah (gag reflex) bayi masih sangat sensitif, sehingga rangsangan ringan di area belakang lidah dapat dengan mudah memicu muntah. Kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan akan berkurang seiring bertambahnya usia.
-Memasuki usia balita awal (1–3 tahun)
Perilaku tersebut masih bisa ditemukan, namun orang tua perlu mulai memperhatikan intensitas dan penyebabnya. Jika hanya terjadi sesekali, biasanya masih tergolong wajar.
“Namun bila sering, disengaja, dan tampak berulang, orang tua perlu mulai mengamati penyebab di balik perilaku tersebut,” ujar dr. Aisya saat dihubungi kumparanMOM, Selasa (6/1).
-Usia di atas 3 tahun
Sementara itu, pada usia di atas 3 tahun, perilaku memasukkan jari ke mulut hingga muntah yang terjadi sering dan menetap sudah tidak dianggap normal dan sebaiknya dievaluasi lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.
Menurut dr. Aisya, ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab perilaku ini. Salah satunya adalah refleks fisiologis, terutama pada bayi dan balita kecil yang refleks muntahnya masih sangat sensitif. Sentuhan di area tertentu mulut bisa langsung memicu muntah tanpa adanya niat khusus dari anak.
Selain itu, ada faktor lain di antaranya:
1. Regulasi emosi
Balita yang belum mampu mengekspresikan perasaan dengan kata-kata terkadang melampiaskan rasa tidak nyaman, frustasi, bosan, atau cemas melalui perilaku tertentu, termasuk memasukkan jari ke mulut.
2. Cari perhatian
Jika setiap kali anak muntah orang tua bereaksi berlebihan, seperti panik, marah, atau memberi perhatian ekstra, anak bisa menganggap perilaku tersebut sebagai cara efektif untuk mendapatkan respons dari orang tuanya, sehingga cenderung diulang.
3. Kebiasaan atau perilaku berulang
Jika disertai tanda lain seperti keterlambatan bicara, kurangnya kontak mata, atau perilaku repetitif lainnya, maka diperlukan skrining tumbuh kembang lebih lanjut dan konsultasi ke Dokter Spesialis Anak (DSA).
“Lalu faktor medis tertentu. Misalnya refluks lambung, gangguan pencernaan, atau sensitif oral tertentu, meskipun ini relatif lebih jarang,” tutup dr. Aisya.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5469257/original/080829500_1768102593-WhatsApp_Image_2026-01-11_at_10.20.48.jpeg)


