Sebuah sekolah menengah negeri di Chongqing memaksa para siswa untuk mencukur rambut dan menarik biaya. Seorang siswa laki-laki dipukuli oleh tiga guru pria karena melakukan perlawanan, lalu tetap dipaksa dicukur. Setelah orang tua melapor ke polisi, akibat tekanan tinggi yang mereka terima, mereka terpaksa menyelesaikan kasus ini secara “damai” di luar jalur hukum.
EtIndonesia. Pada 7 Januari, beredar di internet sejumlah video yang memperlihatkan sebuah bangku plastik biru diletakkan di bawah gedung pengajaran. Di sampingnya, seorang siswa laki-laki dijatuhkan ke tanah dan ditekan paksa oleh beberapa guru pria.
Seorang pria lain memegang alat cukur dan mencukur rambut siswa tersebut secara paksa. Siswa itu berjuang keras melawan, sementara para guru menarik topinya, mencekik lehernya, dan menekannya dengan kekuatan. Di sekitar lokasi serta di koridor lantai atas, banyak siswa berseragam sekolah menonton kejadian tersebut.
Menurut laporan media daratan Tiongkok, insiden itu terjadi di SMA Negeri Pertama Dianjiang (Chongqing Dianjiang No. 1 Middle School). Sekolah ini terletak di Kabupaten Dianjiang, Kota Chongqing, dan merupakan salah satu sekolah menengah negeri unggulan di Chongqing.
Berdasarkan pengakuan warganet setempat, sekolah tersebut mewajibkan siswa mencukur rambut dan mengenakan biaya sebesar 10 yuan per orang. Seorang siswa laki-laki menolak dicukur, lalu ditekan ke tanah oleh tiga guru pria dan ditendang hingga terluka.
1月7日,重庆垫江一中,学校强制给学生剃头,10元一次。一名学生因拒绝剃头,被三名体育老师按倒在地并用脚踢伤。事后,学校逼迫被打学生家长签了谅解书,使得本已被抓的老师被释放。学生们不服,在网路上发帖求租,但相关信息却被迅速删除。 pic.twitter.com/IKYAAsRj3d
— 昨天 (@YesterdayBigcat) January 8, 2026Setelah video terkait beredar luas di internet, opini publik pun gempar. Dengan dukungan warganet, siswa dan orang tuanya melaporkan kejadian tersebut ke polisi, dan guru yang memukuli sempat ditangkap. Namun kemudian orang tua siswa mendapat tekanan untuk menandatangani “surat perdamaian”, sehingga guru yang ditangkap pun segera dibebaskan.
Menurut pengakuan siswa di sekolah tersebut, saat itu seorang siswa bermarga Jiang hanya mengatakan di kelas, “Saya tidak mau potong.” Seorang guru langsung menekan kepalanya dengan keras hingga membentur meja. Tiga guru kemudian menekannya ke lantai dan memukulinya sampai sudut mulutnya berdarah dan ia hampir pingsan.
Setelah itu, beberapa guru mengangkatnya keluar kelas “seperti babi” untuk dicukur rambutnya secara paksa, lalu melemparkannya ke ruang peralatan dan “mengurungnya”. Siswa tersebut mengalami luka akibat tendangan dan sempat dirawat di rumah sakit. Orang tuanya melapor ke polisi, tetapi tetap dipaksa “berdamai”. Guru yang memukuli disebut “masuk pagi, sore sudah keluar”.
Banyak siswa dari sekolah-sekolah lain merasa marah dan tidak terima, lalu memposting permintaan bantuan di internet. Namun, informasi terkait dengan cepat dihapus. Siswa yang mengunggah video mendapat “sanksi”, dan siswa dari sekolah-sekolah sekitar juga ditekan agar “tidak menyebarkan” informasi.
Pada 8 Januari, pihak sekolah terkait menanggapi media dengan menyatakan bahwa siswa tersebut “gaya rambutnya tidak sesuai ketentuan”. Selanjutnya, sekolah mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa guru bagian pendidikan moral telah “menangani siswa dengan cara yang tidak pantas terkait rambut yang diwarnai atau dikeriting”, dan telah diberikan “kritik dan pembinaan”, diperintahkan untuk “meminta maaf secara langsung kepada siswa dan orang tuanya”, serta “telah memperoleh pengertian” dari pihak keluarga.
Namun, berdasarkan video yang beredar di internet, siswa tersebut hanya terlihat memiliki rambut yang agak panjang dan tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda rambut diwarnai atau dikeriting.
Warganet pun meluapkan kemarahan mereka lewat komentar:
“Sekolah ini seperti lembaga kekerasan, mirip wilayah Myanmar utara,”
“Hari ini bisa memaksa potong rambut, besok bisa memaksa mengambil organ tubuh siswa,”
“Dulu Dinasti Qing berkata ‘pertahankan rambut berarti kehilangan kepala’, sekarang ‘tidak mau dicukur berarti dipukuli’,”
“Sistem penjara dimasukkan ke kampus, sejak kecil dilatih untuk terbiasa dipenjara,”
“Inilah Partai Komunis yang jahat, rezim preman.”
Chen Zhenjin – NTDTV.com




