Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Aceh
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mendorong percepatan revitalisasi persawahan yang terdampak bencana di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, agar kembali produktif dan mendukung ketahanan pangan daerah.
Hal tersebut disampaikan Tito saat meninjau persawahan Aih Badak di Kecamatan Dabun Gelang, Minggu, 11 Januari 2026. Kunjungan ini dilakukan dalam kapasitasnya sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera.
“Untuk sawah yang terdampak seperti di Aceh, nanti akan masuk program optimalisasi lahan. Sawah yang ada direvitalisasi kembali,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Minggu, 11 Januari 2026.
Ia menjelaskan, pemulihan sektor pertanian akan dikoordinasikan dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Pemerintah pusat telah memetakan sawah-sawah terdampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, sejalan dengan agenda swasembada pangan nasional.
Tito menyebut terdapat dua skema pemulihan pertanian, yakni optimalisasi lahan dan cetak sawah. Optimalisasi lahan difokuskan pada sawah eksisting yang terdampak bencana melalui pembersihan lumpur, perbaikan irigasi, serta pemberian benih, pupuk, dan alat mesin pertanian.
“Kalau di Aceh, ini masuk optimalisasi lahan. Lumpurnya dibersihkan, lalu dibantu benih, pupuk, irigasi, sampai alsintan,” ucap Tito.
Sementara itu, cetak sawah dilakukan dengan membuka lahan baru, yang memerlukan waktu lebih panjang. Untuk wilayah terdampak bencana, pemerintah memilih opsi optimalisasi agar sawah dapat segera kembali ditanami.
Selain sektor pertanian, Mendagri menilai kondisi perekonomian Gayo Lues mulai pulih. Aktivitas pasar, warung, restoran, hotel, hingga toko-toko kembali berjalan. Pasokan BBM di SPBU dan LPG juga dinilai aman.
Namun, Tito mengingatkan masih ada permukiman warga yang terdampak cukup parah. Ia meminta pemerintah daerah segera menyelesaikan pendataan rumah rusak ringan, sedang, dan berat.
Pemerintah menyiapkan bantuan masing-masing Rp15 juta untuk rusak ringan, Rp30 juta untuk rusak sedang, dan Rp60 juta untuk rusak berat.
Untuk rumah rusak berat, opsi pembangunan hunian tetap masih menghadapi kendala ketersediaan lahan. Pemerintah Kabupaten Gayo Lues mengajukan kebutuhan anggaran sekitar Rp25 miliar untuk pembebasan lahan.
“Nanti akan saya sampaikan ke Menteri Perumahan,” ucap Tito.
Mendagri juga membuka peluang bagi warga terdampak untuk masuk dalam program bantuan sosial reguler, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Program Prakerja, serta Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan.
Akses jalan darat di Gayo Lues juga dilaporkan berangsur pulih sehingga distribusi logistik dapat berjalan meski masih terbatas. Terkait permintaan bantuan beras, Tito memastikan telah berkoordinasi dengan Bulog.
“Untuk bencana, beras diberikan negara secara gratis, bukan seperti beras stabilisasi harga,” tutur Tito.
Editor: Redaksi TVRINews


