Survei KedaiKOPI Ungkap Kriteria Pemimpin Ideal Masyarakat: Integritas-Ketegasan

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Lembaga Survei KedaiKOPI merilis laporan lengkap hasil riset kualitatif bertajuk "Eksplorasi Kriteria Pemimpin Ideal Nasional", Minggu (11/1).

Penelitian dengan metode Focus Group Discussion (FGD) ini dilaksanakan pada 2-3 Desember 2025, melibatkan 30 responden dari beragam latar belakang termasuk akademisi, NGO, mahasiswa, jurnalis, ibu rumah tangga, pengemudi ojek online, pedagang, pengusaha, ketua RT, dan guru, dengan komposisi 73,3 persen laki-laki dan 26,7 persen perempuan.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI Hendri Satrio (Hensat) menjelaskan, riset ini bertujuan untuk memberikan masukan bagi masyarakat tentang kriteria pemimpin yang ideal untuk dipilih ke depannya.

"Jadi hari ini kita tidak bicara tentang siapa, kita tidak bicara tentang nama, tapi kita memberikan masukan kepada rakyat Indonesia, ini loh sebetulnya dari hasil FGD kita, pemimpin idealnya itu seperti apa," kata Hensat.

Laporan FGD Lembaga Survei KedaiKOPI Desember 2025 menyoroti perbedaan pandangan elite dan non-elite terhadap kriteria pemimpin ideal, dengan elite condong ke strategi makro dan non-elite ke respons mikro sehari-hari.

Fokus utama terletak pada karakter, kompetensi, serta isu kebijakan prioritas. Perbedaan ini mencerminkan kesenjangan pendidikan dan akses informasi di masyarakat.

Dari segi karakter pemimpin, kelompok elite memandang merakyat melalui blusukan untuk bangun image serta orientasi kesejahteraan, dengan tegas lewat perencanaan strategis dan ambil risiko.

Non-elite lebih menekankan gesture empatik, tampilan sederhana, serta respons cepat pada krisis seperti bencana atau Affan.

Visioner lebih kuat di elite sebagai tujuan jangka panjang, sementara non-elite sulit menerjemahkannya kecuali via strategi saat ini; religius jadi shortcut moral non-elite via ritual dan Palestina.

Dari segi kompetensi pemimpin, elite mengukur kecerdasan dari kualitas berpikir berbasis data logika, dengan problem solving strategis termasuk tim kompeten regulasi serta wawasan geopolitik ekologis tata kelola.

Non-elite prioritaskan ijazah legitimasi, komunikasi bahasa keseharian, arahan langsung bawahan, serta pemerataan akses dasar. Kredensial sama-sama butuh pengalaman prestasi tanpa kontroversi, tapi non-elite tambah keluarga bersih.

Sisi isu kebijakan, temuan KedaiKOPI menggambarkan elite prioritaskan geopolitik kedaulatan global, lingkungan keadilan moratorium tambang, serta good governance regulasi BUMN militer.

Non-elite fokus pungli birokrasi BPJS kanal aduan, bansos pangan murah populer, serta Palestina sebagai geopolitik terbatas. Keduanya sepakat pemerataan pendidikan kesehatan ekonomi, tapi non-elite lebih dekat ke kebutuhan langsung.

Rektor Institut Harkat Negeri Sudirman Said mengatakan, ada 4 kriteria yang selalu konsisten muncul untuk menentukan pemimpin yang ideal untuk masyarakat, yaitu integritas, kompetensi, inspirasional, dan memiliki visi terhadap lingkungan ke depan yang luas.

"Semakin jujur lingkungan yang diurus akan semakin tinggi integritas yang dibutuhkan, dan riset ini seperti menjadi justifikasi yang saya katakan," kata Sudirman.

Ia pun menilai wajar ketika ada perbedaan persepsi untuk penentuan pemimpin yang ideal bagi masyarakat antara masyarakat elite dan non-elite.

"Menurut saya wajar antara elite dan non-elite itu beda persepsi terkait pemimpin ini, karena elite ini memang fokus pada hulu seperti good governance dan lainnya sementara non-elite fokus hilir dan nyata," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Pakar Hukum Tata Negara Feri Amsari menilai, hasil survei KedaiKOPI ini secara prinsip tidak banyak berubah dari sejak dahulu hingga saat ini.

"Bagi saya banyak hal dari riset ini menjelaskan harapan publik dari pemimpin yang sebenarnya saat ini, kriteria yang dijelaskan dalam riset ini seperti memvalidasi keinginan masyarakat akan pemimpin sejak lama," kata Feri.

Sementara Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia Talitha Chairunissa menyoroti masyarakat Indonesia memilih pemimpin masalah ketegasan juga cepat tanggap dalam menyelesaikan masalah.

"Ketegasan itu masih dinyatakan sebagai satu hal penting bagi voters di Indonesia, masyarakat Indonesia senang sekali dengan pemimpin yang tegas," kata Talitha.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemerhati Sebut Biaya Pembongkaran Tiang Monorel Tak Lebih dari Rp 300 Juta
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Tak Ada Ampun Untuk Konten Pornografi, Indonesia Jadi Negara Pertama Blokir Grok
• 4 jam lalunarasi.tv
thumb
Teriakan Juara Berkumandang, Bobotoh Sambut Bus Persib Bandung dengan Flare Jelang Duel Kontra Persija Jakarta
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Habiburokhman Soal Kritik Komedi Pandji: KUHP-KUHAP Baru, Pengkritik Tak Dipidana Sewenang-wenang
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Gunung Sampah Longsor, Puluhan Orang Terjebak Belum Ditemukan
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.