Carlos Fortes dan Matheus Pato, Dua Nama Jadi Magnet Liga 1: Dari Proyek Baru Persebaya Surabaya hingga Kebutuhan Mendesak PSM Makassar

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Bursa transfer paruh musim selalu melahirkan cerita yang tak sepenuhnya lahir dari pernyataan resmi. Kadang ia muncul dari gestur kecil, dari unggahan singkat, bahkan dari satu emoji yang ditinggalkan di kolom komentar. Dalam lanskap seperti itu, dua nama kembali mencuat dan mulai dikaitkan dengan Liga 1: Matheus Pato dan Carlos Fortes.

Persebaya Surabaya menjadi titik awal percakapan. Setelah memastikan arah proyek jangka menengah bersama Bernardo Tavares, Green Force bergerak perlahan tapi jelas. Tidak gegabah, tidak berisik, namun sarat pesan. Nama Gustavo Fernandes yang muncul lebih dulu di lini belakang menjadi penanda awal: Persebaya sedang membangun ulang fondasi, bukan menempelkan kepingan lama.

Pilihan terhadap Gustavo—bek tengah Brasil berusia 26 tahun yang merumput di Liga Portugal 2—menegaskan satu hal penting. Bernardo Tavares tidak ingin Persebaya menjadi “PSM versi Surabaya”. Ia datang membawa filosofi, bukan nostalgia. Sejak awal, publik berspekulasi bahwa Bernardo akan mengangkut kembali pemain-pemain kepercayaannya dari Makassar, termasuk Yuran Fernandes. Namun arah yang diambil justru berbeda. Bernardo memilih profil, bukan relasi.

Jika Gustavo Fernandes merepresentasikan pendekatan baru di lini belakang, maka Matheus Pato menjadi cerita lain yang berkembang secara organik—tanpa rilis resmi, tanpa bocoran agen, tanpa pernyataan manajemen.

Satu emoji tepuk tangan di kolom komentar Instagram Persebaya, saat klub itu mengumumkan era baru bersama Bernardo Tavares, langsung memantik tafsir. Di tengah euforia dan kepekaan tinggi bursa transfer, gestur sederhana itu terasa terlalu “berarti” untuk diabaikan.

Matheus Pato bukan nama asing di Liga 1. Eks bomber Borneo FC itu pernah menjadi salah satu penyerang paling komplet di kompetisi domestik. Ia bukan sekadar finisher, tetapi juga pekerja keras dalam sistem. Pergerakannya tanpa bola cerdas, pressing-nya agresif, dan kemampuannya membuka ruang bagi lini kedua membuatnya berbeda dari tipikal striker asing instan.

Karakter itu pula yang membuat publik langsung mengaitkannya dengan Bernardo Tavares.

Meski tak pernah bekerja langsung dalam satu klub, filosofi keduanya seolah beririsan. Saat membesut PSM Makassar, Bernardo selalu menegaskan bahwa penyerang adalah bagian dari struktur kolektif, bukan aktor tunggal. Striker harus memulai pressing, ikut menutup ruang, dan memahami kapan harus mengorbankan diri demi sistem.

Pato adalah tipe penyerang seperti itu.

Di Borneo FC, ia bukan hanya mencetak gol, tetapi juga menjadi pemicu intensitas permainan. Ia menekan bek lawan, turun membantu build-up, dan tetap berbahaya di kotak penalti. Dalam konteks Persebaya yang sedang membangun identitas baru—lebih disiplin, lebih terstruktur—nama Matheus Pato terasa masuk akal, bukan sensasional.

Namun Persebaya bukan satu-satunya klub yang mungkin tersenyum melihat dinamika ini.

Di Makassar, PSM justru berada dalam situasi berlawanan. Juku Eja menutup putaran pertama dengan rentetan hasil buruk, empat kekalahan beruntun, dan krisis ketajaman yang tak bisa lagi ditutupi narasi proses. Situasi makin rumit dengan sanksi FIFA berupa registration ban yang membatasi ruang gerak manajemen.

Namun jika sanksi itu bisa diselesaikan lebih cepat, PSM jelas membutuhkan sosok penyerang berpengalaman—bukan sekadar pelapis, melainkan figur yang bisa langsung memberi dampak. Dalam konteks itulah, nama Carlos Fortes kembali relevan.

Carlos Fortes bukan penyerang asing yang asing dengan tekanan Liga Indonesia. Ia pernah mencetak 10 gol bersama PSIS Semarang dan 20 gol bersama Arema FC, menjadi salah satu striker paling produktif dalam beberapa musim terakhir. Secara profil, Fortes adalah penyerang target man yang kuat dalam duel, efektif dalam bola mati, dan memiliki naluri gol tinggi di kotak penalti.

Terbaru, Fortes resmi berpamitan dengan klubnya, SZ Dongwu, setelah musim 2025 berakhir. Melalui unggahan Instagram pribadinya pada Jumat (2/1/2026), ia mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan—sebuah sinyal klasik pemain yang membuka opsi baru.

Bagi klub-klub Liga 1, situasi ini adalah peluang.

Untuk PSM Makassar, Fortes bisa menjadi solusi instan jika embargo FIFA dicabut. Pengalaman, fisik, dan rekam jejak golnya cocok untuk tim yang sedang mencari stabilitas. Sementara bagi Persebaya, Fortes mungkin bukan profil utama dalam sistem Bernardo, tetapi tetap menjadi opsi realistis jika klub membutuhkan alternatif striker berpengalaman.

Dua nama, dua jalur, satu benang merah: Liga 1 masih relevan bagi mereka.

Matheus Pato dan Carlos Fortes berada di persimpangan yang sama—sama-sama berpengalaman, sama-sama pernah berjaya, dan sama-sama kini berada dalam posisi membuka kemungkinan. Apakah mereka akan kembali ke Indonesia, dan klub mana yang paling siap menampungnya, akan ditentukan oleh detail-detail kecil: kebutuhan sistem, ruang finansial, dan keberanian mengambil keputusan.

Di bursa transfer, tak semua cerita dimulai dari meja negosiasi. Sebagian lahir dari tanda-tanda halus. Dan musim ini, Liga 1 kembali belajar membaca isyarat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menjaga Anak dari Predator di Ruang Siber
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
PSSI Bakal Perkenalkan Pelatih Baru Timnas Bola Indonesia John Herdman Besok
• 6 jam lalubisnis.com
thumb
Usai Operasi Tangkap Tangan, KPK Tetapkan 5 Tersangka, Termasuk Kepala Kantor Pelayanan Pajak
• 14 jam lalufajar.co.id
thumb
Liga gokart listrik pertama di Indonesia resmi digelar di Tangerang
• 39 menit laluantaranews.com
thumb
Nilai Perdagangan RI-China Tembus 135,2 Miliar Dolar AS
• 18 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.