Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) ditutup naik pada perdagangan Jumat (9/1). Indeks S&P 500 mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa didorong oleh penguatan saham Broadcom dan emiten produsen chip lainnya.
Sementara itu, laporan pasar tenaga kerja AS ternyata lebih lemah dari perkiraan sehingga tidak banyak mengubah ekspektasi pelaku pasar terkait rencana penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) tahun ini.
Menjelang musim laporan keuangan kuartal keempat, valuasi Wall Street dinilai relatif tinggi. Berdasarkan data LSEG, indeks S&P 500 diperdagangkan pada kisaran 22 kali estimasi pendapatan, turun dari level 23 kali pada November, namun masih di atas rata-rata lima tahunnya di level 19 kali.
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, indeks S&P 500 naik 0,65% ke level 6.966,28. Indeks Nasdaq naik 0,82% menjadi 23.671,35, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,48% ke posisi 49.504,07. Secara mingguan, S&P 500 menguat 1,6%, Nasdaq naik 1,9%, dan Dow Jones bertambah 2,3%.
Sebanyak sembilan dari 11 sektor dalam indeks S&P 500 ditutup di zona hijau. Sektor material memimpin penguatan dengan kenaikan 1,8%, disusul sektor utilitas yang naik 1,24%.
Kepala manajemen portofolio Horizon Investments Zachary Hill mengatakan, investor kini semakin selektif dalam menyikapi tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Mengenai tema AI secara keseluruhan, investor semakin memperdalam analisis dan memilih pemenang serta pecundang dalam hal sub-tema dan nama-nama individual,” ujar Hill, dikutip dari Reuters, Senin (12/1).
Ia menilai perkembangan tersebut sebagai sinyal positif karena pasar dinilai semakin mendekati fase monetisasi AI, ketika teknologi ini mulai memberikan dampak nyata terhadap peningkatan pendapatan perusahaan.
Dari sisi data ekonomi, laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat lebih dari perkiraan pada Desember. Meski demikian, penurunan tingkat pengangguran ke level 4,4% mengindikasikan pasar tenaga kerja belum mengalami pelemahan signifikan.
Saham-saham sektor chip mencatatkan kenaikan signifikan. Saham Lam Research naik 8,7% ke level US$ 218,36 setelah Mizuho menaikkan target harga saham perusahaan tersebut menjadi US$ 220 dari sebelumnya US$200. Saham Broadcom naik 3,8%, Nvidia menguat 1%, dan Tesla naik 2,1%, yang turut menopang penguatan S&P 500 dan Nasdaq.
Saham Meta Platforms melonjak 10,5% setelah perusahaan menyepakati pembelian listrik dari pembangkit nuklir untuk mendukung kebutuhan energinya. Sementara itu, saham Intel melesat hampir 11% setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan telah menggelar pertemuan yang dinilai "sangat baik” dengan CEO Intel, Lip-Bu Tan.
Di sisi lain, Mahkamah Agung AS belum mengeluarkan putusan terkait legalitas tarif besar-besaran yang diberlakukan Trump. Ketidakpastian ini membuat investor menunggu kejelasan lebih lanjut dan berpotensi memicu volatilitas pasar apabila tarif tersebut dibatalkan.
Saham-saham pemberi pinjaman hipotek turut menguat setelah Trump memerintahkan pembelian aset senilai US$ 200 miliar untuk menekan biaya perumahan. Saham LoanDepot melonjak 19,3%, Rocket Companies naik 9,6%, dan Opendoor Technologies naik 13,1%. Indeks Perumahan Philadelphia juga naik 5,7% ke level tertinggi sejak Oktober.
Jumlah saham yang menguat di indeks S&P 500 lebih banyak dibandingkan yang melemah, dengan rasio 1,3:1. Sepanjang sesi, S&P 500 mencatatkan 48 rekor tertinggi baru dan enam rekor terendah baru. Nasdaq mencatatkan 140 rekor tertinggi baru dan 62 rekor terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS tercatat cukup tinggi, dengan 17 miliar saham berpindah tangan, melampaui rata-rata 20 sesi sebelumnya sebesar 16,4 miliar saham



