Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah sepanjang tahun lalu mencatatkan kinerja terburuk di ASEAN. Mata uang garuda tertekan dibanding nilai mata uang negara-negara tetangga, mulai dari ringgit Malaysia, baht Thailand, dolar Singapura, kip Laos, riel Kamboja, kyat Myanmar, peso Filipina, dan dong Vietnam.
Melansir data Refinitiv, sejak awal tahun hingga data terakhir menjelang penutupan 2025, tepatnya Selasa (30/12/2025) pukul 10.30 WIB, rupiah terdepresiasi 15,21% terhadap ringgit, 14,02% terhadap baht, 10,74% terhadap dolar Singapura, 5,25% terhadap kip, 4,29% terhadap kyat, 2,96% terhadap peso, dan 1,2% terhadap dong.
Chief Economist Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, kondisi itu tak terlepas dari kemampuan Indonesia dalam menarik investasi asing yang jauh lebih rendah ketimbang negara-negara tetangga, seperti Malaysia yang banyak meraup pasokan dolar dari investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) dari perusahaan teknologi besar.
"Itu kan beberapa tahun terkahir tekno, seperti Oracle, Meta, Alphabet semua masuk ke sana bikin data center, yang dari Silicon Valley maupun Eropa, semi conductor itu, makanya investasi di FDI mereka kencang, sehingga mata uang ringgit nya 5 tahun terakhir besar," kata David saat ditemui di Menara BCA jelang akhir pekan lalu, dikutip Senin (12/1/2026).
Bila merujuk data penanaman modal asing (PMA) atau FDI Indonesia, hingga kuartal III-2025 memang anjlok dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasinya sepanjang sembilan bulan pada 2025 hanya Rp 644,6 triliun, turun 1,49% dibanding Rp 654,40 triliun periode yang sama pada 2024.
Sementara itu, Malaysia justru menikmati kenaikan nilai investasi asing hingga 41,33% dalam sembilan bulan pada 2025 dibanding periode yang sama tahun lalu. Nilainya pada Januari-September 2025 sebesar RM 150,8 miliar, sedangkan pada Januari-September 2024 hanya RM 106,7 miliar.
Kondisi ini yang menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap ringgit terus merosot. Sejak awal dibukanya perdagangan valuta asing pada awal 2025, kurs rupiah terhadap ringgit Malaysia (MYR) masih berada di level Rp 3.591/MYR.
Namun seiring berjalannya waktu, rupiah justru terus tertekan dari mata uang Negeri Jiran hingga data terakhir kurs rupiah berada di posisi Rp 4.138/MYR atau secara kumulatif (year-to-date/ytd) rupiah melemah 15,21%.
Hal ini menjadikan ringgit sebagai mata uang yang mana rupiah kalah paling dalam di antara mata uang ASEAN lainnya.
Head of Banking Research and Analytics BCA Victor George Petrus Matindas menambahkan, rendahnya kecenderungan investor global untuk masuk ke Indonesia juga tak terlepas dari berbagai faktor risiko yang mereka anggap sangat tinggi di Indonesia, seperti tekanan fiskal yang ditandai dengan pelebaran defisit APBN.
"Ini related juga dengan mereka lihat risiko fiskal seperti apa. Bunga SBN dan rupiah kita agak ter punished dari sisi situ," tuturnya.
(arj/haa)



