Pantau - Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, menegaskan pentingnya Indonesia meningkatkan kewaspadaan strategis di tengah eskalasi geopolitik global, khususnya pasca operasi militer Amerika Serikat di Venezuela.
Peringatan ini disampaikan menyusul langkah Washington yang dinilai berpotensi meluas ke kawasan lain dengan nilai strategis energi dan posisi tawar ekonomi-politik.
"Indonesia harus membaca perkembangan ini dengan jernih. Penguatan kedaulatan energi, ketahanan ekonomi, dan konsistensi politik luar negeri bebas aktif menjadi kunci agar tidak terjebak dalam pusaran konflik kekuatan besar," ungkap Umam.
Venezuela Dinilai Bukan Target Terakhir ASUmam menyatakan bahwa Venezuela hanyalah satu bab dari narasi geopolitik yang lebih luas, dengan kemungkinan langkah koersif serupa diarahkan ke wilayah lain.
"Venezuela hanyalah satu bab dalam narasi yang lebih besar. Operasi militer serupa sangat mungkin diarahkan ke negara atau wilayah lain yang memiliki nilai strategis energi dan posisi tawar ekonomi-politik," ujarnya.
Negara-negara yang disebut memiliki kerentanan serupa antara lain Greenland, Iran, Kolombia, Chili, dan sejumlah negara di kawasan Selatan Global.
Menurut Umam, aksi militer Amerika Serikat juga merupakan bentuk demonstrasi kekuatan koersif untuk menegaskan bahwa tatanan global tetap harus bergerak sesuai kepentingan AS.
Meskipun pengaruh ekonomi-politik Washington disebut mengalami penurunan, langkah militer ini juga menjadi bagian dari strategi perang psikologis.
Tujuannya, menurut Umam, adalah menciptakan efek gentar, mendorong perimbangan kekuatan baru, serta memunculkan perlawanan asimetris dan instabilitas global.
Serangan AS Tangkap Maduro dan Sita Minyak VenezuelaSebelumnya, pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa keduanya akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam jaringan narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman terhadap kepentingan AS.
Dalam pernyataannya, Trump juga mengumumkan bahwa otoritas sementara Venezuela telah menyetujui penyerahan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada Amerika Serikat.
Wakil Presiden AS JD Vance menjelaskan bahwa tujuan utama operasi ini adalah untuk membatasi pendanaan narkoterorisme dan memperkuat kontrol Amerika atas sumber daya energi global.
"Siapa pun pemimpin negara itu nantinya, dia harus mau bekerja sama dengan Amerika Serikat," ujar Vance dalam wawancara dengan Salem News Channel pada Selasa, 6 Januari 2026.
Vance menilai bahwa kebijakan Venezuela sebelumnya telah memberi akses energi murah kepada pesaing asing dan digunakan untuk aktivitas yang mengancam AS.




