Sekitar dua ribu orang di London menggelar demonstrasi menuntut perubahan rezim di Iran di luar kediaman Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, pada Minggu (11/1).
Aksi tersebut diwarnai dengan kibaran bendera Iran, Israel, dan Inggris, serta simbol-simbol yang mendukung Reza Pahlavi, putra mendiang Shah terakhir Iran yang kini hidup di pengasingan.
Sejumlah peserta membawa poster bergambar Reza Pahlavi, yang dianggap sebagai salah satu tokoh utama dalam oposisi Iran yang masih terpecah.
Aksi unjuk rasa ini turut melibatkan Organisasi Stop the Hate, yang dikenal sering mengoordinasikan demonstrasi pro-Israel. Kelompok tersebut berperan penting dalam pengorganisasian acara, termasuk penyediaan panggung bagi para pembicara untuk menyampaikan pidato di hadapan massa.
Sementara itu, ketegangan di Iran terus meningkat. Sebuah kelompok hak asasi manusia melaporkan bahwa lebih dari 500 orang tewas akibat kerusuhan yang melanda negara tersebut. Di sisi lain, pemerintah Iran mengancam akan menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat apabila Presiden Donald Trump melaksanakan ancamannya untuk melakukan intervensi demi mendukung para demonstran.
Hingga kini, otoritas Iran belum merilis angka resmi korban jiwa. Kantor berita Reuters menyatakan tidak dapat memverifikasi secara independen jumlah korban yang dilaporkan oleh kelompok hak asasi manusia tersebut.





