Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengungkapkan pihaknya menjadikan bidang riset ketahanan pangan, kebencanaan, dan teknologi strategis sebagai fokus utama pada 2026.
Melalui keterangan di Jakarta, Senin, Arif memaparkan pihaknya menargetkan peningkatan produktivitas padi hingga 15 ton per hektare, pengurangan ketergantungan impor bawang putih dalam dua tahun, serta pengembangan varietas unggul hortikultura dan protein hewani dalam bidang riset ketahanan pangan.
Baca juga: Arah baru riset pertanian Indonesia di era nakhoda baru
"BRIN juga mendorong riset pangan masa depan (future food), seperti daging analog, cultured meat, serta teknologi pengawetan pangan hemat energi yang memungkinkan penyimpanan beras lebih dari dua tahun tanpa menurunkan kualitas," katanya.
Di bidang kebencanaan, kata Arif, BRIN menyiapkan klaster riset khusus, termasuk teknologi pangan darurat dan alat penyedia air bersih portabel yang dapat digunakan di wilayah terdampak bencana.
"Teknologinya sudah ada, sekarang bagaimana diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas," ujarnya.
Lebih lanjut, Arif menyebutkan riset teknologi strategis berupa kecerdasan buatan (AI), energi, hingga bioteknologi menjadi riset jangka menengah dan panjang.
Menuju 2030, kata dia, BRIN akan fokus pada isu scaling, integrasi teknologi, dan kepercayaan publik (trust), dengan prioritas pada kecerdasan buatan, energi dan baterai generasi baru, dekarbonisasi industri, serta teknologi hijau.
Baca juga: BRIN fokus riset pangan, energi, air untuk kawal program pemerintah
Baca juga: Dubes RI untuk AS: Riset beras inovatif bisa jawab tantangan global
Sementara menuju 2050, ungkap Arif, riset akan diarahkan pada sistem sosio-teknis otonom, bioteknologi lanjut, synthetic biology, ekonomi antariksa, hingga penyimpanan data berbasis DNA.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya dimensi sosial agar kemajuan teknologi tidak menimbulkan kesenjangan budaya (cultural lag).
"Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan," tutur Arif Satria.
Melalui keterangan di Jakarta, Senin, Arif memaparkan pihaknya menargetkan peningkatan produktivitas padi hingga 15 ton per hektare, pengurangan ketergantungan impor bawang putih dalam dua tahun, serta pengembangan varietas unggul hortikultura dan protein hewani dalam bidang riset ketahanan pangan.
Baca juga: Arah baru riset pertanian Indonesia di era nakhoda baru
"BRIN juga mendorong riset pangan masa depan (future food), seperti daging analog, cultured meat, serta teknologi pengawetan pangan hemat energi yang memungkinkan penyimpanan beras lebih dari dua tahun tanpa menurunkan kualitas," katanya.
Di bidang kebencanaan, kata Arif, BRIN menyiapkan klaster riset khusus, termasuk teknologi pangan darurat dan alat penyedia air bersih portabel yang dapat digunakan di wilayah terdampak bencana.
"Teknologinya sudah ada, sekarang bagaimana diproduksi massal dan dimanfaatkan secara luas," ujarnya.
Lebih lanjut, Arif menyebutkan riset teknologi strategis berupa kecerdasan buatan (AI), energi, hingga bioteknologi menjadi riset jangka menengah dan panjang.
Menuju 2030, kata dia, BRIN akan fokus pada isu scaling, integrasi teknologi, dan kepercayaan publik (trust), dengan prioritas pada kecerdasan buatan, energi dan baterai generasi baru, dekarbonisasi industri, serta teknologi hijau.
Baca juga: BRIN fokus riset pangan, energi, air untuk kawal program pemerintah
Baca juga: Dubes RI untuk AS: Riset beras inovatif bisa jawab tantangan global
Sementara menuju 2050, ungkap Arif, riset akan diarahkan pada sistem sosio-teknis otonom, bioteknologi lanjut, synthetic biology, ekonomi antariksa, hingga penyimpanan data berbasis DNA.
Namun demikian, ia menekankan pentingnya dimensi sosial agar kemajuan teknologi tidak menimbulkan kesenjangan budaya (cultural lag).
"Teknologi harus maju, tetapi aspek sosial tidak boleh tertinggal. Tanpa itu, inovasi tidak akan berkelanjutan," tutur Arif Satria.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/4843081/original/038659200_1716722680-Pidato_Megawati_Tutup_Rakernas_V_PDIP-ANGGA_5.jpg)



