EtIndonesia. Iran kini memasuki hari ke-13 gelombang protes nasional yang terus membesar dan semakin sulit dikendalikan. Video-video yang berhasil keluar dari dalam negeri—meski di tengah pemutusan internet nasional—menunjukkan gelombang besar warga Iran turun ke jalan secara serentak di berbagai kota, meneriakkan slogan-slogan keras seperti “Ini adalah pertempuran terakhir!” dan “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”
Aksi-aksi tersebut menandai eskalasi paling serius dalam krisis politik Iran dalam beberapa dekade terakhir, dengan tuntutan terbuka untuk runtuhnya rezim teokrasi Islam dan pemulihan sistem monarki di bawah Dinasti Pahlavi.
Internet Diputus, Represi Aparat Berlanjut
Sejak awal Januari, pemerintah Iran menerapkan pemblokiran internet nasional secara ketat, yang secara signifikan membatasi arus informasi keluar negeri. Namun, sejumlah rekaman tetap berhasil diselundupkan ke luar Iran dan beredar luas di media sosial.
Video-video tersebut memperlihatkan tindakan represif aparat keamanan, termasuk penembakan terhadap demonstran, pengejaran massa di jalan-jalan kota, serta bentrokan keras di berbagai wilayah.
Warga Iran di diaspora menggambarkan situasi ini dengan satu ungkapan simbolik: “Singa Persia telah terbangun.”
Korban Jiwa Terus Bertambah
Menurut laporan Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia pada 9 Januari 2026, sedikitnya:
- 51 demonstran tewas,
- 9 di antaranya berusia di bawah 18 tahun,
- Ratusan lainnya mengalami luka-luka,
- Lebih dari 2.200 orang ditahan oleh aparat keamanan.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa banyak rumah sakit di kota-kota besar penuh sesak oleh korban luka, sementara tenaga medis bekerja dalam tekanan ketat aparat keamanan.
Demonstrasi Meluas ke Kota-kota Strategis
Produser dan jurnalis multimedia berbasis London, Farzat Fattasi, membagikan ulang sejumlah video di platform X yang menunjukkan gelombang massa demonstran di berbagai wilayah, termasuk:
- Provinsi Razavi Khorasan
- Mashhad
- Kawasan Makilabad
Sementara itu, laporan gabungan media diaspora menyebutkan bahwa demonstrasi besar, bentrokan, dan pembakaran terjadi di banyak kota, termasuk Teheran, Isfahan, Shiraz, Mashhad, dan Tabriz.
Balai Kota Karaj Terbakar, Jadi Simbol Perlawanan
Salah satu peristiwa paling mengejutkan terjadi di Karaj, kota strategis di Iran utara. Pada malam 9 Januari hingga dini hari 10 Januari 2026, Gedung Balai Kota Pusat Karaj dilaporkan dilalap api besar.
Api terlihat muncul serentak dari beberapa titik, dengan cepat menjalar hingga ke atap gedung bertingkat tersebut. Asap hitam pekat membumbung tinggi dan menerangi langit malam dengan cahaya merah menyala.
Menurut warga setempat, gedung itu selama ini digunakan sebagai pusat koordinasi dan komando pasukan keamanan lokal, sehingga menjadi target utama para demonstran. Insiden ini segera menjadi simbol paling mencolok dari gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran.
Seruan Terbuka untuk Kembalinya Dinasti Pahlavi
Di tengah eskalasi ini, tuntutan politik para demonstran semakin jelas. Mereka secara terbuka menyerukan:
- Runtuhnya rezim teokrasi Islam
- Pemulihan sistem monarki
- Kembalinya Dinasti Pahlavi
Menariknya, tiga pejabat pemerintah Iran yang berbicara secara anonim kepada The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa secara pribadi mereka merindukan kembalinya Dinasti Pahlavi.
Salah satu dari mereka bahkan mengatakan: “Saya ingin raja saya kembali.”
Eksekusi Demonstran dan Peringatan Keras dari AS
Organisasi HAM Iran dan media diaspora melaporkan insiden penembakan langsung terhadap demonstran oleh tentara dan polisi. Bahkan, sumber-sumber Israel menyebut bahwa pemerintah Iran telah mengeksekusi demonstran untuk malam kedua berturut-turut, dan menyerukan agar Amerika Serikat turun tangan.
Pada 9 Januari 2026, Donald Trump menyampaikan pernyataan keras: “Iran sedang menghadapi masalah besar. Jika mereka mulai membantai rakyatnya seperti dulu, kami akan terlibat.”
Reaksi PBB dan Tekanan Internasional
Pada hari yang sama, Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan keprihatinan mendalam atas penggunaan kekuatan mematikan oleh aparat Iran.
PBB menyerukan:
- Penghentian kekerasan terhadap demonstran
- Pemulihan kebebasan internet
- Penghormatan terhadap hak demonstrasi damai
Sejumlah negara Eropa dan Amerika juga mendesak Iran untuk segera menghentikan represi.
Isu Dukungan Tiongkok dan Peran Starlink
Masih pada 9 Januari, beredar unggahan di platform X yang mengklaim bahwa otoritas resmi Tiongkok siap memberikan dukungan intelijen dan logistik kepada Iran untuk menghadapi apa yang disebut sebagai “konspirasi eksternal”.
Namun, hingga kini:
- Xinhua dan kanal resmi Tiongkok lainnya tidak memuat pernyataan tersebut
- Sikap resmi Kementerian Luar Negeri Tiongkok tetap menekankan penolakan terhadap campur tangan asing dan seruan stabilitas regional
Di sisi lain, setelah Iran memutus internet nasional, Starlink milik Elon Musk memainkan peran krusial dengan menyalurkan informasi dari Iran ke dunia internasional secara real-time.
Platform X juga secara resmi mengganti emoji bendera Iran menjadi simbol Singa dan Matahari, lambang historis Iran sebelum Revolusi Islam. Pada saat yang sama, publik menemukan bahwa Ali Khamenei menghapus bendera Iran dari foto profil akun X miliknya—sebuah langkah simbolik yang memicu spekulasi luas.
Dampak Global dan Pandangan Washington
Perkembangan di Iran terjadi bersamaan dengan penangkapan diktator Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, memperkuat persepsi bahwa rezim-rezim otoriter global tengah menghadapi tekanan besar.
Anggota DPR AS dari Carolina Selatan, Joe Wilson, menyebut situasi ini sebagai titik balik sejarah, dan menilai rakyat Iran kini berada di momen penentuan nasib mereka sendiri, dengan dukungan Presiden Trump.
Dalam wawancara eksklusif dari Washington, Wilson menyatakan bahwa dunia berubah sangat cepat dan bahwa era “perdamaian melalui kekuatan” tengah meruntuhkan pemerintahan otoriter satu per satu.
Kesimpulan: Iran di Persimpangan Sejarah
Memasuki pertengahan Januari 2026, Iran berdiri di persimpangan sejarah yang genting. Dengan korban jiwa yang terus bertambah, simbol-simbol kekuasaan yang terbakar, dan tekanan internasional yang meningkat, masa depan negara itu kini sangat bergantung pada pilihan rakyatnya sendiri—serta bagaimana komunitas global akan merespons krisis yang terus membara ini.



