EtIndonesia. Situasi di Iran pada Jumat malam, 9 Januari 2026, mencapai titik yang sangat emosional dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir. Rekaman-rekaman yang beredar dari ibu kota Teheran memperlihatkan pemandangan yang mengguncang: puluhan ribu warga turun ke jalan, mengubah malam kota menjadi lautan manusia, api, dan teriakan perlawanan.
Di bawah langit malam yang gelap gulita, siluet massa tampak bergerak seperti gelombang pasang. Kobaran api berwarna jingga kekuningan menyala di berbagai sudut kota, menerangi wajah-wajah penuh amarah sekaligus harapan. Asap tebal membubung ke udara, sementara sekelompok besar demonstran menari mengelilingi api unggun raksasa—sebuah pemandangan yang menyerupai ritual kuno, namun sarat makna pembebasan.
Cahaya api memantul di wajah para demonstran yang saling berpegangan tangan, berputar, bernyanyi, dan mengangkat ponsel dengan lampu menyala. Atmosfer yang tercipta bukan sekadar aksi unjuk rasa, melainkan terasa seperti pesta pembebasan kolektif setelah lebih dari 40 tahun penindasan.
Teriakan Penggulingan Rezim dan Simbol Perlawanan
Dalam rekaman lain dari malam yang sama, massa besar terdengar meneriakkan slogan-slogan yang secara terbuka menuntut penggulingan rezim Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Ketika sebuah kembang api dinyalakan dari tengah kerumunan, langit malam Teheran seketika terang benderang. Alih-alih gentar, massa justru bersorak, bertepuk tangan, dan bernyanyi dengan penuh semangat.
Bagi rakyat Iran, protes ini bukanlah luapan emosi sesaat. Aksi tersebut mencerminkan akumulasi penderitaan selama lebih dari empat dekade, sekaligus tekad untuk memperjuangkan masa depan yang bebas, bermartabat, dan sejahtera bagi generasi mendatang. Banyak demonstran menyatakan bahwa mereka turun ke jalan tanpa lagi takut mati.
Teheran: Jalanan Dikuasai Massa, Aparat Nyaris Tak Terlihat
Sejumlah video memperlihatkan lautan manusia di berbagai titik Teheran, dengan ujung kerumunan yang tidak terlihat. Di Jalanan Sepehr-e Ferdows, puluhan ribu orang memenuhi ruas jalan sambil meneriakkan:
“Ini adalah pertempuran terakhir kita!”, “Dinasti Pahlavi pasti akan kembali!”
Yang paling mencolok, hampir tidak terlihat kehadiran aparat kepolisian atau pasukan keamanan Islam di banyak lokasi. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa rezim Islam telah kehilangan kendali atas ibu kota.
Sekitar pukul 02 : 00 dini hari waktu setempat, massa masih terus membludak. Para demonstran mendirikan barikade, membakar bendera Islam, dan menghalangi kemungkinan masuknya pasukan keamanan. Hampir di setiap rekaman dari berbagai sudut kota, yang terlihat hanyalah manusia—tak jelas lagi di mana awal dan akhir kerumunan.
Di beberapa alun-alun Teheran, warga tampak mengenakan dan mengibarkan bendera Singa dan Matahari, simbol kerajaan Iran, menandakan nostalgia sekaligus harapan akan perubahan sistem pemerintahan.
Aksi Simbolik: Pembakaran Potret dan Kendaraan Keamanan
Di Lapangan Zafaraniyeh dan Jalan Pasdaran, ribuan demonstran berkumpul di tengah gelap malam. Kilauan lampu ponsel membentuk lautan cahaya yang menggetarkan. Massa meneriakkan slogan secara serempak, menciptakan gema yang terdengar hingga jauh.
Dalam salah satu video paling mencolok, massa membakar potret raksasa Qasem Soleimani. Api melahap wajah tokoh tersebut, serpihan beterbangan di tengah asap tebal, diiringi sorak sorai dan tepuk tangan.
Rekaman lain menunjukkan kendaraan milik pasukan keamanan Iran dibakar. Api besar menjulang, asap hitam pekat membubung tinggi, menciptakan kontras dramatis dengan cahaya kota di kejauhan.
Masih pada malam yang sama, sebuah masjid di Lapangan Kachi turut dibakar. Menurut keterangan warga, bangunan tersebut berfungsi sebagai basis kelompok bersenjata rezim, bukan semata tempat ibadah.
Protes Meluas ke Seluruh Iran
Gelombang perlawanan tidak hanya terjadi di Teheran.
- Mashhad (9 Januari malam)
Kota terbesar kedua Iran dan kampung halaman Khamenei lumpuh total. Puluhan ribu orang memenuhi jalan, meski listrik sempat dipadamkan. Massa tetap turun ke jalan dengan lampu ponsel menyala, meneriakkan: “Reza Pahlavi kembali!” - Shiraz
Gedung Bank Pertanian Iran dan Komite Bantuan Ekonomi dibakar. Puing kendaraan hangus berserakan di sekitar lokasi. - Isfahan
Rekaman dari ketinggian menunjukkan api besar menyala di beberapa titik kota, sementara teriakan massa terdengar hingga beberapa blok jauhnya. - Yazd, Ahvaz, Bandar Abbas, Arak, dan Hamedan
Demonstran menguasai pusat kota, membakar barikade, papan reklame rezim, hingga gedung pemerintahan bertingkat.
Di Khoy, wilayah dengan mayoritas etnis Azerbaijan, massa meneriakkan: “Kami semua adalah prajurit Dinasti Pahlavi! Kami rela mempertaruhkan nyawa!”
Peta sebaran aksi menunjukkan bahwa demonstrasi telah menjalar ke hampir seluruh penjuru Iran—dari Teheran hingga Tabriz, dari Mashhad hingga Bandar Abbas.
Internet Diputus, Starlink Jadi Penyelamat Informasi
Dalam beberapa hari terakhir, pemerintah Iran memutus akses internet secara luas untuk mencegah mobilisasi massa. Namun langkah ini dinilai gagal. Berkat jaringan Starlink yang dibuka oleh Elon Musk, ribuan rekaman lapangan tetap berhasil dikirim ke luar negeri.
Respons Amerika Serikat dan Ancaman Internasional
Pada 9 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran sedang menghadapi “masalah besar”. Dalam konferensi pers, Trump menegaskan bahwa jika rezim kembali menembaki rakyatnya, Amerika Serikat akan mempertimbangkan intervensi dengan menghantam titik-titik vital rezim—tanpa pengerahan pasukan darat.
Trump juga menyebut bahwa setelah menyelesaikan krisis Venezuela, fokus Washington kini tertuju pada Iran. Di sisi lain, Israel disebut telah berada dalam posisi siaga tinggi. Jika diperlukan, jet tempur F-35 Israel dapat dikerahkan ke wilayah udara Teheran dalam waktu singkat atas persetujuan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Korban Berjatuhan, Situasi Masih Berkembang
Hingga dini hari 10 Januari 2026, laporan menyebutkan aparat keamanan kembali melepaskan tembakan ke arah massa di sejumlah wilayah. Ratusan orang dilaporkan luka-luka dan tewas, meskipun angka pasti masih terus diverifikasi karena kondisi komunikasi yang terbatas.
Iran di Persimpangan Sejarah
Mengutip pernyataan Xi Jinping tentang “perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad”, banyak pengamat menilai bahwa tahun 2026 benar-benar membuka babak baru sejarah dunia. Baru sepuluh hari memasuki tahun ini, dunia berpotensi menyaksikan runtuhnya lebih dari satu rezim diktator.
Di Iran, satu kesimpulan mulai menguat di kalangan rakyat dan pengamat internasional:
gelombang perlawanan ini tampaknya sudah sulit dihentikan, dan runtuhnya rezim Khamenei kini dinilai hanya tinggal menunggu waktu.




