Jakarta, ERANASIONAL.COM — Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Jakarta Utara sejak Senin dini hari mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah. Genangan air mulai terjadi sejak pukul 04.00 WIB dan terus meningkat hingga pagi hari, Senin (12/01/2026).
Salah satu wilayah terdampak adalah Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja. Banjir yang melanda kawasan tersebut menyebabkan aktivitas warga terganggu, termasuk kegiatan belajar mengajar. Siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Tugu Utara terpaksa dipulangkan lebih awal karena akses menuju sekolah dan lingkungan sekitarnya terendam air.
Ketua RT 018 RW 08 Kelurahan Tugu Utara, Iping, menyebut banjir kali ini merupakan yang terparah dalam satu dekade terakhir. Bahkan, rumah miliknya turut terendam dengan ketinggian air mencapai sekitar 70 sentimeter atau setinggi paha orang dewasa.
“Banjir tahun ini lebih parah dibandingkan 10 tahun lalu. Air sudah masuk ke rumah warga dan mencapai sekitar 70 sentimeter,” ujar Iping saat dihubungi Eranasional di Jakarta.
Ia menilai, selain faktor curah hujan yang tinggi, kondisi drainase yang tersumbat sampah turut memperparah genangan air. Oleh karena itu, ia mendorong adanya kerja bakti rutin untuk membersihkan saluran air agar tidak tersumbat.
Iping juga meminta pihak kelurahan dan pemerintah setempat segera melakukan perbaikan infrastruktur, khususnya peninggian jalan umum dan kawasan permukiman di Komplek UKA agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Selain itu, ia mengusulkan pembenahan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di wilayah UKA, khususnya yang berada di RT 02 dan RT 03. Menurutnya, kapasitas TPS yang tidak memadai menyebabkan sampah mudah berserakan, terutama saat banjir.
“Perlu dibangun bak sampah yang lebih besar dan tertata agar sampah tidak terbawa air ketika banjir,” katanya.
Banjir Tahun Ini
Sementara itu, warga Komplek UKA lainnya, Halimah, mengungkapkan banjir tahun ini jauh lebih ekstrem dibandingkan tahun sebelumnya. Ketinggian air yang mencapai betis hingga paha orang dewasa memaksanya menjemput anaknya di sekolah dengan berjalan kaki.
“Banjir masuk ke kawasan perumahan dan pasar tradisional. Anak-anak sekolah terpaksa dipulangkan karena akses tidak bisa dilalui,” ujar Halimah dalam keterangan tertulisnya.
Ia juga menyoroti kondisi TPS di wilayah UKA yang dinilai kurang mendapat perhatian dari pemerintah kota maupun kecamatan. Menurutnya, persoalan sampah menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir.
Halimah berharap pemerintah provinsi dan pemerintah kota segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kota, termasuk perbaikan drainase dan peninggian jalan di kawasan rawan banjir.
“Banjir kali ini sampai membuat kegiatan sekolah lumpuh. Kami berharap ada langkah nyata agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tandasnya.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5386099/original/078137900_1760954214-4.jpg)

