Membangun Generasi Emas Lewat Kolaborasi Berkelanjutan, Program Keluarga SIGAP Perkuat Peran Desa dan Layanan Kesehatan

liputan6.com
4 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan tengah melakukan transformasi sistem kesehatan dengan fokus pada penguatan layanan primer, termasuk edukasi masyarakat mengenai imunisasi, perilaku hidup bersih, dan gizi. Sejalan dengan agenda tersebut, Program Keluarga SIGAP dikembangkan untuk mempromosikan tiga perilaku utama bagi keluarga dengan anak usia 0–24 bulan, yaitu: imunisasi rutin, lengkap dan tepat waktu; Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS); serta pemberian makanan bergizi.

Hingga saat ini, Program Keluarga SIGAP telah hadir di Kabupaten Banjar (Kalimantan Selatan), Brebes (Jawa Tengah), dan Sukabumi (Jawa Barat), menjangkau 638 desa melalui pelatihan 6.239 kader, 4.737 kelas ibu baduta, hingga 83.298 kunjungan rumah. Hasilnya?

Advertisement

Keluarga SIGAP berhasil menyentuh 84.628 baduta, sekaligus meningkatkan pemahaman orang tua akan pentingnya imunisasi, kebiasaan hidup bersih, dan gizi seimbang. Meski begitu, capaian ini menjadi langkah awal yang perlu dijaga keberlanjutannya agar manfaatnya terus dirasakan masyarakat.

Mengapa Perlu Dukungan Desa?

Untuk masyarakat, keberlanjutan program ini berarti bahwa anak-anak dapat tumbuh sehat, bebas stunting, dan siap meraih masa depan. Bagi pemerintah desa, ini adalah salah satu kesempatan untuk mewujudkan amanat Undang-Undang Desa: mengelola sumber daya dan anggaran demi pembangunan manusia. Dengan mengintegrasikan kegiatan Keluarga SIGAP ke dalam RPJMDes dan RKPDes, kita dapat memastikan program ini menjadi bagian dari perencanaan desa, bukan hanya sekadar proyek sementara.

Langkah Nyata: Lokakarya dan Forum Komitmen
Lokakarya dan Forum Komitmen Program Keluarga SIGAP. (Istimewa)

Pada November 2025, sebanyak 638 desa di tiga kabupaten mengikuti lokakarya pertama untuk memahami manfaat Program Keluarga SIGAP sekaligus pentingnya penganggaran lewat dana desa. Berlanjut ke tahap berikutnya, sebanyak 96 desa menyatakan komitmen keberlanjutan dengan mengikuti Lokakarya Kedua berupa Forum Komitmen yang digelar pada Desember 2025 hingga Januari 2026. Forum ini menjadi ruang penyelarasan sinergi antara pemerintah kabupaten, desa, dan dinas terkait, dengan fokus pada kolaborasi pendanaan APBDes dan DAK Non-Fisik/BOK Puskesmas. Sinergi ini diharapkan memperkuat integrasi sekaligus memastikan keberlanjutan Program Keluarga SIGAP.

Dalam forum ini, para Kepala Desa, Camat, Kepala Urusan Perencanaan, dan KTU Puskesmas duduk bersama untuk:

  • Menyusun rencana kegiatan SIGAP dalam dokumen perencanaan desa.
  • Memetakan sumber pendanaan: mana yang didukung desa, mana yang bisa dibiayai melalui DAK/BOK.
  • Berbagi praktik baik dari desa dan Puskesmas yang sudah berhasil.

Penasihat Advokasi Keluarga SIGAP, Nuwirman, yang juga menjadi fasilitator utama dalam kegiatan lokakarya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, keberlanjutan program hanya dapat terwujud ketika desa dan Puskesmas berjalan beriringan.

“Keberlanjutan program harus berbasis kolaborasi. Desa dan Puskesmas perlu bersinergi agar upaya perubahan perilaku berjalan konsisten,” ujarnya.

Team Leader Program Keluarga SIGAP Ardi Prastowo mengajak desa untuk berperan aktif melalui pengalokasian APBDes dan pemanfaatan DAK maupun BOK Puskesmas.

“Ini bukan hanya soal pendanaan, tetapi komitmen bersama untuk menurunkan stunting dan membangun generasi sehat,” kata Ardi Prastowo.

Kegiatan Penyuluhan Program Keluarga SIGAP. (Istimewa)

Pada lokakarya pertama tersebut, Analisis Kebijakan Ahli Madia Direktorat Fasilitasi Pemanfaatan Dana Desa Kementerian Desa PDT, Sappe MP Sirait, yang hadir sebagai salah satu narasumber menekankan pentingnya pemahaman yang utuh terkait pemanfaatan Dana Desa untuk kesehatan dasar. Ia berharap, melalui forum ini, desa-desa mampu mengoptimalkan penggunaan anggaran.

“Komitmen kami adalah memastikan setiap desa memiliki akses layanan kesehatan yang lebih baik dan mendukung keberlanjutan program Keluarga SIGAP (Imunisasi, cuci tangan pakai sabun, nutrisi),” kata Sappe MP Sirait.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Dr. Widya Wiri Utami, MPH, menyampaikan bahwa berbagai program kesehatan yang dijalankan mulai menunjukkan hasil positif.

“Dampak dari program ini terlihat dari capaian pelaksanaan imunisasi, CTPS, dan pemberian nutrisi untuk baduta sebagai bagian dari percepatan penurunan stunting tahun 2025,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya juga telah menyiapkan kebijakan strategis untuk 2026 agar upaya tersebut semakin terintegrasi dan berkelanjutan demi terwujudnya generasi sehat di Kabupaten Banjar.

Sementara itu, Emi Sri Hartati, SKM dari Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, menekankan bahwa keberhasilan sebuah program, cita-cita maupun tujuan tidak bisa berjalan sendiri. Menurutnya, upaya menurunkan angka stunting membutuhkan kerja bersama lintas sektor.

“Diperlukan dukungan, kolaborasi dan sinergi dari para camat, kepala desa serta Puskesmas untuk mempercepat penurunan stunting pada tahun 2026. Kami berharap keberlanjutan program perubahan perilaku dapat terus berjalan demi mewujudkan Brebes lebih sehat sehingga bisa menjadikan Brebes Beres,” kata Emi.

Di sisi lain, Kepala Bidang Upaya dan Pembiayaan Kesehatan Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Sukabumi, H. Cucu Sumintardi, SKM, MKM, menyampaikan bahwa Program Keluarga SIGAP sejalan dengan visi daerah dalam menyiapkan generasi emas yang sehat dan berkualitas.

“Kami melihat peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan dan kader, serta orang tua yang lebih aktif ke Posyandu berkat alat peraga dan sosialisasi tiga perilaku SIGAP. Keberlanjutan program ini membutuhkan komitmen bersama antara sektor kesehatan dan pemerintah desa agar praktik baik ini terus berjalan,” ujarnya.

Keberlanjutan Keluarga SIGAP bukan hanya sekadar program, tetapi investasi untuk masa depan anak. Dengan dukungan pemerintah desa, dinas terkait, dan masyarakat, kita bisa memastikan setiap anak mendapatkan haknya: imunisasi lengkap, hidup bersih, dan gizi seimbang.

 

(*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
DPRD Jabar Cermati Dampak Tren Elektrifikasi terhadap Pendapatan Daerah
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras: Proyek Asal-asalan di Jabar Tidak Akan Dilunasi!
• 6 jam lalumatamata.com
thumb
BI Ramal Penjualan Ritel Naik pada Akhir 2025, Waspadai Inflasi Jelang Ramadan
• 1 jam lalukatadata.co.id
thumb
JPO Sarinah Kembali Hadir, Pemprov Janji Fasilitas Tetap Berfungsi
• 18 jam laludetik.com
thumb
Harga Emas Galeri24-UBS Stabil pada Senin 12 Januari, Cek Rincian Harga Terbarunya
• 10 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.