Dinamika politik domestik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan yang patut dicermati secara serius. Polarisasi politik, konflik elite, dan perdebatan publik yang kerap berujung pada saling delegitimasi telah menyita energi bangsa.
Padahal, pada saat yang sama, dunia sedang bergerak menuju tatanan geopolitik baru dengan kawasan Indo Pasifik sebagai pusat perhatiannya. Dalam situasi ini, Indonesia sesungguhnya memiliki posisi strategis yang sangat menentukan.
Pertanyaannya kemudian menjadi relevan: Apakah Indonesia mampu memainkan peran penting di Indo Pasifik jika konflik politik di dalam negeri terus dibiarkan berlarut? Tanpa persatuan dan konsolidasi nasional, potensi besar yang dimiliki Indonesia justru berisiko tidak termanfaatkan secara optimal.
Indo Pasifik sebagai Pusat Perebutan Kekuatan DuniaKawasan Indo Pasifik saat ini menjadi pusat dinamika politik, ekonomi, dan keamanan global. Persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, ketegangan di Laut Cina Selatan, penguatan kerja sama keamanan kawasan, hingga kompetisi pengaruh di negara berkembang menjadikan kawasan ini sebagai medan strategis abad ke dua puluh satu. Negara besar berlomba memperluas pengaruhnya, sementara negara menengah berusaha memperkuat posisi tawarnya.
Indonesia berada di jantung kawasan tersebut. Letak geografis yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, jumlah penduduk yang besar, dan posisi sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara menjadikan Indonesia memiliki modal strategis yang tidak dimiliki banyak negara lain. Ditambah dengan keaktifan Indonesia dalam berbagai forum regional dan global, posisi Indonesia sejatinya sangat potensial sebagai kekuatan penentu.
Namun, dunia tidak hanya menilai suatu negara dari kekuatan ekonomi dan geografisnya. Stabilitas politik domestik dan konsistensi arah kebijakan juga menjadi indikator penting. Tanpa keduanya, modal strategis Indonesia berisiko kehilangan daya pengaruh.
Konflik Politik Domestik dan Pelemahan Kepentingan NasionalKonflik politik merupakan bagian dari demokrasi. Perbedaan pandangan, kritik, dan kompetisi kekuasaan adalah hal yang wajar dalam sistem politik terbuka. Akan tetapi, konflik tersebut menjadi problematik ketika berkembang menjadi polarisasi ekstrem dan menggeser fokus dari kepentingan nasional ke kepentingan jangka pendek kelompok tertentu.
Dalam konteks Indonesia, dinamika politik pasca-pemilihan umum sering menyisakan fragmentasi sosial yang cukup tajam. Ruang publik dipenuhi perdebatan yang emosional dan personal, sementara diskursus mengenai agenda strategis jangka panjang cenderung terpinggirkan. Akibatnya, perhatian terhadap peran Indonesia di tingkat global tidak berkembang secara memadai.
Kondisi ini berpotensi melemahkan posisi Indonesia di mata dunia. Negara yang tidak solid secara internal akan sulit tampil sebagai mitra yang kredibel dan konsisten. Bahkan, konflik domestik yang berkepanjangan dapat membuka ruang bagi tekanan atau pengaruh eksternal terhadap kebijakan nasional.
Persatuan Nasional sebagai Fondasi Kepemimpinan GlobalSejarah menunjukkan bahwa negara yang mampu memainkan peran besar di panggung dunia selalu ditopang oleh persatuan nasional yang kuat. Persatuan tidak berarti meniadakan perbedaan, tetapi mengelola perbedaan dalam kerangka kepentingan bersama yang lebih besar.
Bagi Indonesia, persatuan nasional merupakan prasyarat utama untuk memperkuat peran globalnya. Politik luar negeri yang bebas dan aktif hanya dapat dijalankan secara efektif jika didukung oleh stabilitas politik domestik dan kesamaan visi elite nasional. Tanpa konsensus tersebut, kebijakan strategis akan mudah berubah dan kehilangan arah.
Persatuan juga menjadi kunci bagi kepemimpinan Indonesia di Asia Tenggara. Kawasan ini membutuhkan Indonesia yang kuat, stabil, dan mampu menjadi rujukan. ASEAN akan sulit mempertahankan relevansinya jika negara kuncinya justru sibuk dengan konflik internal.
Menegaskan Posisi Indonesia di Kawasan Indo PasifikIndonesia perlu menegaskan posisinya sebagai kekuatan penyeimbang yang aktif di kawasan Indo Pasifik. Posisi ini bukan berarti berpihak pada salah satu kekuatan besar, melainkan berperan menjaga stabilitas kawasan melalui diplomasi, kerja sama, dan dialog. Untuk menjalankan peran tersebut, Indonesia membutuhkan visi geopolitik yang jelas dan konsisten.
Konflik politik domestik harus dikelola secara dewasa dan bertanggung jawab. Elite politik, akademisi, media, dan masyarakat sipil memiliki tanggung jawab moral untuk mengarahkan perdebatan publik pada agenda strategis bangsa. Politik seharusnya menjadi instrumen untuk memperkuat negara, bukan justru melemahkannya.
Indo Pasifik adalah masa depan tatanan dunia. Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi salah satu kunci kekuatan global di kawasan ini. Namun, peluang historis tersebut hanya dapat diwujudkan jika bangsa ini mampu melampaui konflik politik domestik dan bersatu dalam visi kebangsaan yang lebih besar. Di sinilah kedewasaan demokrasi Indonesia diuji secara nyata.



