JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 diperkirakan masih dalam tren positif setelah sempat memecahkan rekor baru di level 9.000. Penguatan ini terjadi di tengah kondisi makroekonomi yang cenderung menantang. Investor saham disarankan mengikuti pergerakan arus uang untuk mendulang keuntungan.
Senin (12/1/2026), IHSG dibuka di level 9.001, meski pada perdagangan sesi awal melemah hingga ditutup di posisi 8.947. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini melanjutkan tren positif yang terbentuk sejak 2025, di mana IHSG menguat 22,13 persen hingga level 8.646,94 per 31 Desember 2025 serta membukukan rekor All-Time High (ATH) sebanyak 24 kali.
Pada awal Rabu (7/1/2026), IHSG ditutup di level tertinggi sepanjang masa di 8.944,8, sebelum menembus area psikologis 9.000 secara intraday (perdagangan harian) pada Kamis (8/1/2026).
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dalam keterangannya, Senin (12/1/2026), menyampaikan bahwa reli IHSG sejak awal tahun ditopang oleh saham-saham sektor komoditas dan pertambangan.
“Kenaikan IHSG sejak awal tahun ini banyak didorong oleh saham-saham komoditas. Kami masih melihat potensi berlanjutnya kenaikan di sektor tersebut,” kata Rully.
Ia menambahkan, tren penguatan harga beberapa komoditas utama, khususnya emas, masih berpengaruh. Terkait kenaikan harga komoditas safe haven seperti emas, Rully menilai itu tidak lepas dari ketidakpastian geopolitik dan makro ekonomi. Ini termasuk efek kondisi ekonomi dalam negeri yang secara fundamental kurang menggembirakan, katanya.
Tekanan dari sisi fiskal menjadi salah satu isu struktural yang terus dicermati pelaku pasar. Defisit fiskal Indonesia selama 2025 melebar menjadi Rp 695,1 triliun atau sekitar 2,92 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), tertinggi sejak masa pandemi Covid-19.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menilai pelebaran defisit tersebut mencerminkan tekanan serius dari sisi penerimaan negara.
“Penerimaan negara pada 2025 turun 3,3 persen secara tahunan, jauh di bawah target pemerintah. Ini membayangi prospek fiskal di tengah sikap belanja pemerintah yang masih akomodatif,” ujarnya.
Meski belanja negara meningkat, terutama pada belanja sosial dan belanja modal untuk mendukung agenda pertumbuhan pemerintahan baru, kebutuhan pembiayaan diperkirakan tetap tinggi. Besarnya jatuh tempo surat berharga negara (SBN) dan rendahnya kepemilikan asing membuat penguatan basis penerimaan menjadi krusial ke depan.
Dari sisi eksternal, tekanan global turut membayangi pasar keuangan domestik. Rupiah mengalami pelemahan cukup tajam seiring meningkatnya sentimen ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.
Nilai tukar rupiah bahkan untuk pertama kalinya sejak April 2025 ditutup di atas level Rp 16.800 per dolar AS. Kondisi tersebut mempersempit ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), sehingga BI diperkirakan akan cenderung berhati-hati dengan fokus utama pada stabilitas nilai tukar.
Di pasar saham, sentimen positif masih ditopang oleh derasnya aliran masuk dana (inflow) asing. BI mencatat, pembelian bersih investor asing sekitar Rp 1,44 triliun pada pekan pertama Januari 2026. Secara mingguan, IHSG menguat 0,13 persen ke level 8.936, dengan inflow asing di pasar reguler mencapai sekitar Rp 1,6 triliun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan, dalam keterangan terpisah, mengatakan pergerakan IHSG pekan ini juga turut dipengaruhi sentimen ekonomi global. Salah satunya, sikap bank sentral Jepang yang lebih ketat terhadap kondisi perekonomian mereka, sehingga memicu penarikan uang di aset keuangan berisiko seperti pasar saham.
Namun, reli harga komoditas global menjadi penyeimbang. Selain emas, harga tembaga juga mencatatkan rekor tertinggi, didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor teknologi kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik. Kondisi ini memberikan sentimen positif bagi saham-saham barang baku dan energi di BEI.
Untuk jangka pendek, khususnya pada pekan perdagangan 12–15 Januari 2026 yang lebih singkat karena libur Isra’ Mi’raj, pelaku pasar masih melihat IHSG berada dalam fase kenaikan atau bullish. Fenomena ”January Effect” juga turut berperan, karena di awal tahun, manajer investasi biasanya cenderung melakukan reinvestasi portofolio.
Ia pun menyarankan para investor jangka pendek atau trader untuk memantau saham-saham yang mengalami kenaikan harga karena pergerakan dana (money flow) investor dalam jumlah besar. Pada Jumat (9/1/2026) sore lalu, misalnya, sempat terlihat money flow di sektor properti. "Tapi, tetap ingat dengan risiko manajemen masing-masing," katanya.
Selain itu, ia mengimbau para trader dan investor untuk mencermati sentimen kunci, yaitu rilis data neraca perdagangan untuk periode Desember 2025 yang dijadwalkan pada pekan ini.
"Pasar menantikan apakah surplus perdagangan Indonesia masih berlanjut di tengah fluktuasi harga komoditas global. Angka surplus yang kuat akan memperkokoh nilai tukar rupiah dan menjaga minat investor asing," kata David.




