Menbud Fadli Zon Dorong Pemetaan Talenta Seni Berbasis Talent DNA

jpnn.com
16 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mendorong penguatan sistem pemetaan talenta seni berbasis data sebagai fondasi kebijakan pengembangan kebudayaan nasional.

Dia menilai pemetaan sumber daya manusia kebudayaan perlu dilakukan secara menyeluruh agar pengembangan talenta tidak lagi bertumpu pada asumsi.

BACA JUGA: Menbud Fadli Zon Bilang Industri Musik Bisa jadi Motor Penggerak Ekonomi Berkelanjutan

Fadli menilai pendekatan Talent DNA memiliki potensi untuk diterapkan secara nasional karena mampu mengidentifikasi bakat terpendam sejak dini dan membuka ruang kolaborasi lintas sektor.

“Kalau ini menjadi program nasional, kita bisa mengetahui bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia,” ujar Menbud Fadli Zon, dalam keterangan resmi, Senin (12/1).

BACA JUGA: Kemendikdasmen Tetapkan Permendikdasmen 25 Tahun 2025 tentang Manajemen Talenta Murid

Pernyataan itu disampaikan saat rapat pembahasan pemetaan SDM kebudayaan dan manajemen talenta di Gedung Kementerian Kebudayaan, Jakarta, yang turut memaparkan hasil pemetaan berbasis Talent DNA oleh ESQ Group.

Dalam forum tersebut, Fadli menegaskan perlunya menempatkan seni setara dengan bidang lain dalam pembangunan talenta nasional.

BACA JUGA: Kemhan dan ESQ Jajaki Kolaborasi Pengelolaan SDM Lewat AI Talent DNA

“Pemerintah berencana mengedepankan STEM ke depan. Itu bisa ditambahkan menjadi STEAM, dengan memasukkan arts di dalamnya,” katanya.

Founder ESQ Group, Ary Ginanjar Agustian, menjelaskan pemetaan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan enam bulan sebelumnya dengan kementerian. Proses dilakukan melalui Talent DNA yang diisi siswa dari SMA Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, dan SMAN 31 Jakarta.

“Objektif pengisian Talent DNA ini adalah memfasilitasi siswa untuk menggali minat, bakat, dan potensi talenta seni,” ujar Ary.

Ary menyebut pemetaan mencakup enam bidang seni, yakni seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, serta seni media dan animasi.

Metode ini juga melihat Drive Network Action yang menggambarkan motif, kecenderungan perilaku, dan cara berinteraksi setiap individu. “Motif manusia itu berbeda-beda, cara bergaulnya juga berbeda,” jelasnya.

Hasil riset yang dipaparkan Vice President ESQ Group, Dwitya Agustina, menunjukkan potensi seni dari 870 siswa tersebar merata di berbagai bidang dengan pola keunggulan berbeda di setiap sekolah.

Mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori, sehingga pembinaan seni dinilai perlu lebih banyak berbasis praktik. “Guru seni harus mengenal potensi muridnya,” kata Dwitya.

Menbud Fadli turut menekankan pentingnya pengakuan kompetensi non-akademik dalam ekosistem kebudayaan, termasuk kemampuan maestro dan pelaku budaya yang terbentuk melalui pengalaman panjang.

Kementerian Kebudayaan terus mendorong manajemen talenta berbasis data sebagai dasar perumusan kebijakan pembinaan seni yang lebih tepat sasaran di tingkat pusat maupun daerah. (jlo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sering Terjadi namun Kerap Diabaikan, Apakah Pembengkakan pada Area Intim Pria Berbahaya?
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Update Jadwal Baru Perkenalan Pelatih Timnas Indonesia John Herdman oleh PSSI
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
5 Drakor Terbaru On-Going dengan Rating Tinggi, Ada yang Bisa Nonton di Netflix
• 16 jam lalubeautynesia.id
thumb
ICJR: Tak Ada Pidana yang Dilanggar Pandji Lewat Stand Up Mens Rea
• 8 jam laluidntimes.com
thumb
Film Algojo Gunakan Jakarta Utara sebagai Latar, Adegan Lebih Autentik
• 9 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.