Pantau - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, menyampaikan bahwa pada tahun 2026, BRIN akan fokus pada tiga bidang utama riset: ketahanan pangan, kebencanaan, dan teknologi strategis, guna mendukung pemenuhan kebutuhan nasional dan pembangunan berkelanjutan.
Fokus Riset Ketahanan PanganArif Satria menjelaskan bahwa BRIN memiliki sejumlah target ambisius dalam riset ketahanan pangan di tahun 2026, antara lain:
- Peningkatan produktivitas padi hingga 15 ton per hektare untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.
- Pengurangan ketergantungan impor bawang putih dalam waktu dua tahun ke depan dengan cara mengembangkan varietas unggul dan teknologi pertanian yang lebih efisien.
- Pengembangan varietas unggul hortikultura dan protein hewani untuk memastikan keberagaman sumber pangan.
Penelitian terkait pangan masa depan, seperti daging analog, cultured meat, dan teknologi pengawetan pangan hemat energi.
Riset di Bidang KebencanaanBRIN juga menyiapkan klaster riset khusus di bidang kebencanaan. Beberapa fokus utama riset kebencanaan yang dipersiapkan adalah:
- Teknologi pangan darurat dan alat penyedia air bersih portabel untuk daerah terdampak bencana.
- Meskipun teknologi terkait sudah ada, BRIN akan memprioritaskan produksi massal dan pemanfaatan teknologi secara luas agar dapat segera diterapkan di daerah-daerah yang membutuhkan.
Pada riset teknologi strategis, BRIN akan fokus pada beberapa bidang yang memiliki potensi besar untuk kemajuan jangka menengah dan panjang:
- Kecerdasan buatan (AI), energi, dan bioteknologi menjadi prioritas utama riset strategis di tahun 2026.
- Menjelang 2030, BRIN akan menekankan pada scaling teknologi, integrasi teknologi, dan kepercayaan publik.
- Beberapa prioritas utama termasuk kecerdasan buatan, energi dan baterai generasi baru, dekarbonisasi industri, serta teknologi hijau.
Arif Satria juga menyampaikan bahwa BRIN telah menyiapkan riset jangka panjang yang akan berfokus pada:
- Sistem sosio-teknis otonom.
- Bioteknologi lanjut dan synthetic biology.
Ekonomi antariksa dan penyimpanan data berbasis DNA yang berpotensi mengubah cara manusia menyimpan dan mengelola informasi di masa depan.
Dimensi Sosial dalam Pengembangan TeknologiArif menekankan bahwa teknologi yang dikembangkan oleh BRIN harus berjalan seiring dengan perkembangan sosial. Ia mengingatkan pentingnya menghindari kesenjangan budaya (cultural lag) agar inovasi tetap berkelanjutan dan tidak menciptakan ketimpangan sosial.
"Kami ingin agar teknologi yang kami kembangkan tidak hanya menguntungkan dari sisi teknis, tetapi juga memberikan manfaat sosial yang luas dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap budaya atau struktur sosial masyarakat," ungkap Arif.



