Bisnis.com, CIREBON - Komoditas bawang merah kembali menjadi sumber tekanan harga paling volatil di Kota Cirebon sepanjang periode 2022–2025.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon menunjukkan pergerakan inflasi bulanan bawang merah mengalami fluktuasi ekstrem, baik dalam bentuk lonjakan inflasi maupun deflasi dalam yang berdampak signifikan terhadap inflasi daerah.
Puncak inflasi tertinggi selama periode tersebut terjadi pada Maret 2025, ketika harga bawang merah melonjak 70,81%.
Lonjakan ini memberikan andil inflasi sebesar 0,27%, menjadikannya salah satu penyumbang utama inflasi kelompok pangan di Kota Cirebon dalam empat tahun terakhir.
Plt Kepala BPS Kota Cirebon Ujang Mauludin menjelaskan bahwa lonjakan harga tersebut tidak terlepas dari faktor musiman dan gangguan pasokan.
"Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang sangat sensitif terhadap musim tanam, kondisi cuaca, serta kelancaran distribusi. Ketika pasokan terganggu sementara permintaan meningkat, lonjakan harga menjadi sulit dihindari," kata Ujang Mauludin, Senin (12/1/2026).
Baca Juga
- Tekanan Mereda, Harga Pangan Strategis Cirebon Bergerak Turun
- Lebih dari 200.000 Orang Gunakan Kereta Api di Daop 3 Cirebon selama Nataru
- Cirebon Diincar Perusahaan Sawit, Pemerintah Siap Awasi Lahan Warga
Sebaliknya, tekanan harga terdalam tercatat pada Juli 2024, saat bawang merah mengalami deflasi sebesar 30,51% dengan andil deflasi 0,14%.
Penurunan tajam ini mencerminkan kondisi kelebihan pasokan di pasar, yang umumnya terjadi pada periode panen raya bawang merah di sejumlah daerah sentra produksi.
Menurut Ujang, fluktuasi ekstrem tersebut menggambarkan belum seimbangnya sistem pasokan dan distribusi.
"Ketika panen melimpah, harga bisa jatuh cukup dalam karena keterbatasan penyerapan dan penyimpanan. Sebaliknya, saat pasokan menipis, harga bisa melonjak tajam," katanya.
Memasuki tahun 2025, pola pergerakan harga bawang merah menunjukkan kecenderungan yang relatif berbeda.
Sepanjang 12 bulan terakhir tahun 2025, komoditas ini lebih sering mengalami deflasi dibandingkan inflasi, meskipun masih terjadi lonjakan pada bulan tertentu.
Kondisi ini mengindikasikan pasokan yang relatif lebih terjaga dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap rentan terhadap gangguan musiman.
BPS mencatat, meskipun deflasi lebih dominan, volatilitas harga bawang merah tetap tinggi. Hal ini menandakan bahwa stabilitas harga belum sepenuhnya terbentuk secara struktural.
"Tren deflasi tidak selalu berarti kondisi ideal. Bagi konsumen memang menguntungkan, tetapi jika berlangsung terlalu dalam dan lama, petani berpotensi terdampak dari sisi pendapatan," ujar Ujang.
Ia menambahkan, pengendalian inflasi komoditas hortikultura tidak cukup dilakukan melalui langkah jangka pendek.
Diperlukan penguatan manajemen pasokan, termasuk pengaturan pola tanam, distribusi antardaerah, serta pengembangan sistem penyimpanan agar fluktuasi harga tidak terlalu tajam.
Secara keseluruhan, data BPS Kota Cirebon menunjukkan bahwa bawang merah masih menjadi komoditas strategis yang berperan besar dalam dinamika inflasi daerah.
Tanpa perbaikan tata kelola pasokan dan distribusi, komoditas ini berpotensi terus menjadi pemicu utama gejolak harga pangan di Kota Cirebon.





