Mega-merger Rio Tinto dan Glencore, Berpotensi jadi Raksasa Tambang Terbesar Dunia

bisnis.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana penggabungan atau merger Rio Tinto dan Glencore berpotensi menciptakan perusahaan tambang terbesar di dunia dengan nilai kapitalisasi pasar gabungan mencapai US$207 miliar atau sekitar Rp3.482,77 triliun (asumsi kurs Rp16.825 per US$), menggeser BHP Group Ltd, yang kini di posisi pertama.

Dikutip dari Reuters, Senin (12/1/2025), Rio Tinto saat ini masih dalam tahap awal pembicaraan untuk membeli Glencore. Pekan lalu, perusahaan tersebut menyatakan bahwa kesepakatan ini diharapkan melibatkan pembelian saham penuh atas sebagian atau seluruh saham Glencore oleh Rio Tinto.

Nilai pasar perusahaan gabungan akan melampaui BHP Group Australia sebesar U$161 miliar atau sekitar Rp2.708,82 triliun.

Rio Tinto saat ini dikenal sebagai penambang bijih besi terbesar di dunia, memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$142 miliar. Perusahaan ini memproduksi 298,1 juta metrik ton bahan baku pembuatan baja atau 12% dari total pasokan pada 2024, menurut data S&P Global Market Intelligence.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Rio Tinto juga termasuk di antara produsen tembaga teratas dunia, menempati peringkat ketujuh pada 2024 dengan produksi sebesar 649.720 metrik ton, berdasarkan data Market Intelligence.

Sementara itu, Glencore, salah satu produsen logam dasar terbesar di dunia, bernilai US$65 miliar pada penutupan terakhirnya. Glencore menduduki peringkat keempat sebagai penambang tembaga terbesar pada tahun 2024 dengan produksi sekitar 1 juta metrik ton.

Baca Juga

  • Glencore Divestasi Saham Harita Nickel (NCKL) Senilai Rp276,9 Miliar
  • Kepemilikan Glencore International Investment di Harita Nickel (NCKL) Susut 18,28 Juta Saham
  • Kolaborasi Rio Tinto-Sumitomo Garap Tambang Tembaga Emas Winu

Glencore juga merupakan produsen kobalt yang signifikan, mineral kunci dalam baterai dan elektronik. Perusahaan ini menempati peringkat kedua dalam produksi kobalt global dengan 32.712 metrik ton pada 2024.

Menurut data Market Intelligence, Glencore juga memproduksi batu bara, nikel, dan seng. Sementara itu, portofolio Rio Tinto juga mencakup aluminium dan litium. 

Keduanya tampak berambisi untuk meningkatkan cadangan logam, termasuk tembaga di tengah harga komoditas yang melonjak. Apalagi, tembaga dinilai akan diuntungkan dari transisi energi dan permintaan kecerdasan buatan. 

Hal ini juga telah memicu gelombang ekspansi proyek dan upaya pengambilalihan, termasuk penggabungan Anglo American dan Teck Resources yang sedang berlangsung untuk menciptakan perusahaan raksasa industri yang berfokus pada tembaga.

Saham Glencore yang terdaftar di AS naik 6% setelah pembicaraan dikonfirmasi. Namun, saham Rio Tinto yang terdaftar di Australia berakhir 6,3% lebih rendah, mencerminkan skeptisisme investor terhadap kesepakatan dan kekhawatiran bahwa Rio Tinto akan membayar terlalu mahal.

"Pasar saham memberi tahu Anda apa yang ingin Anda ketahui. Investor tidak senang dengan ini," kata Hugh Dive, Kepala Investasi Atlas Funds Management, sekaligus pemegang saham Rio Tinto. 

Dia mengakui konsep bisnis yang beralih fokus ke tembaga memang menarik. Kendati demikian, dia mewanti-wanti rekam jejak perusahaan raksasa yang melakukan akuisisi atau merger, tetapi berakhir buruk. 

"Kita telah melihat banyak merger besar terjadi di puncak pasar dan pada akhirnya sangat merugikan dari waktu ke waktu," imbuhnya.

Magnet Pasar Tembaga

Rio Tinto dan Glencore sama-sama berupaya mengalihkan bisnis ke tembaga, komoditas yang sangat diminati seiring dunia mengadopsi bentuk energi yang lebih ramah lingkungan dan meningkatnya penggunaan pusat data yang boros energi untuk kecerdasan buatan (AI).

Dalam laporan S&P Global, permintaan tembaga global diperkirakan akan meningkat 50% pada 2040 menjadi 42 juta metrik ton. Sementara produksi tembaga akan mencapai puncaknya 33 juta metrik ton pada 2030. 

Namun, laporan tersebut juga menyebutkan potensi defisit pasokan global diperkirakan akan mencapai 10 juta metrik ton pada 2040, 25% di bawah proyeksi permintaan.

Total produksi tembaga Rio Tinto dan Glencore pada 2024 mencapai sekitar 1,7 juta metrik ton, melampaui produksi pemimpin industri BHP Group Ltd., yang menghasilkan 1,5 juta metrik ton, dan peringkat kedua Corporación Nacional del Cobre, dengan 1,4 juta metrik ton.

Rio Tinto dan Glencore memiliki kepentingan di beberapa tambang tembaga terkemuka di Chili, menciptakan potensi sinergi jika kesepakatan tersebut diselesaikan. 

Di samping itu, Rio Tinto memegang 30% saham di tambang Escondida, tambang tembaga terbesar di dunia berdasarkan produksi, dengan pangsa global 5,5% pada tahun 2024. 

Sementara itu, Glencore memiliki 44% saham di tambang Collahuasi, tambang penghasil tembaga terbesar ketiga pada 2024. Laporan S&P Global menyebut mega-merger berpotensi mendukung pasokan di tengah meningkatnya permintaan tembaga di dunia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Deretan Shio yang Kurang Beruntung di Imlek 2026, Waspadalah!
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Prabowo: Waktu Muda Saya Tergolong Agak Nakal
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Harga Emas Antam (ANTM) Melesat Tembus Rekor Baru di Rp2,63 Juta per Gram
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemprov Banten Mulai Bangun Sekolah Rakyat di Pandeglang
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Hujan Tak Hentikan Aksi Solidaritas untuk Demonstran Iran di Washington
• 13 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.