Prabowo Resmikan Kilang Raksasa RDMP Balikpapan Senilai Rp123 Triliun

bisnis.com
6 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BALIKPAPAN — Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin (12/1/2026).

"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim pada sore ini, Senin, 12 Januari 2026, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia dengan ini meresmikan infrastruktur energi terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan," ucap Prabowo dalam acara peresmian.

Prabowo pun mengapresiasi para pemangku kepentingan yang sudah bekerja keras mewujudkan RDMP Balikpapan. Menurutnya, keberadaan kilang raksasa itu dapat mendorong Indonesia menuju swasembada energi. 

Apalagi, RDMP Balikpapan mampu meningkatkan produksi minyak dari 260.000 barel per hari (bph) menjadi 360.000 bph. Tak hanya itu, BBM yang dihasilkan pun kualitasnya meningkat menjadi Euro V.

"Saya bahagia dan bangga hari ini satu langkah lagi di bidang energi kita menuju mandiri, berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tak boleh bergantung energi kita dari luar," ucap Prabowo.

Proyek besutan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) itu mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.

Proyek strategis nasional (PSN) yang dibangun sejak 2019 ini, dinilai menjadi tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi.
Pasalnya, proyek dengan total investasi setara Rp123 triliun ini bertujuan untuk memodernisasi kilang eksisting. Oleh karena itu, RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi dari penyediaan bahan baku, pipa transfer hingga produksinya.

Proyek RDMP ini juga dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi. Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.

Adapun, early work menjadi pondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.

Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri atas 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung.

Pertamina tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.

Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.

Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.

Cara Kerja RDMP Balikpapan


Proyek RDMP Balikpapan adalah sebuah ekosistem energi canggih yang dirancang PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) untuk mewujudkan swasembada energi nasional. RDMP Balikpapan merupakanPSN senilai Rp123 triliun yang digarap sejak 2016 lalu.

Untuk memahami bagaimana infrastruktur ini bekerja, bayangkan sebuah dapur raksasa yang modern. Sebuah dapur tidak hanya butuh kompor, tapi juga butuh pipa kokoh untuk mengalirkan gas yang stabil, gudang penyimpanan bahan baku yang luas, hingga sistem distribusi masakan yang efisien.

Agar kilang bisa memasak minyak mentah dengan lebih efisien, ia membutuhkan energi panas yang besar. Pipa Gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 km berfungsi sebagai "selang gas" yang mengalirkan energi ke dalam kilang. Dengan kapasitas alir 125 MMscfd, infrastruktur ini memastikan "kompor" kilang tetap menyala stabil untuk mengolah minyak tanpa henti.  

Sebelum dimasak, bahan baku (minyak mentah) harus didatangkan dan disimpan. Di perairan Kabupaten Penajam Paser Utara, Pertamina membangun infrastruktur penerimaan minyak mentah, sebuah dermaga terapung yang kokoh sebagai sarana tambat di tengah laut atau Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 Dead Weight Ton (DWT) yang mampu menerima Very Large Crude Carrier (VLCC), kapal pengangkut minyak mentah berukuran raksasa.

Masih dari Lawe-Lawe, Pertamina juga membangun dua tangki raksasa dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel sebagai “gudang” bahan baku. Dua tangki tersebut menambah total cadangan penyimpanan menjadi 7,6 juta barel. 

Hal ini ibarat memiliki gudang bahan makanan yang sangat besar, sehingga stok "masakan" untuk nasional selalu aman. Tangki dan SPM Lawe-Lawe dihubungkan melalui pipa sepanjang sekitar 20 kilometer yang membentang di darat dan bawah laut.

Selanjutnya, meracik bahan baku menjadi hidangan menarik adalah tugas dari koki. Inilah peran fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). 

Dengan kapasitas yang ditingkatkan menjadi 360 ribu barel minyak per hari, CDU sebagai jantung dari Kilang Balikpapan kini bisa mengolah minyak lebih banyak dari sebelumnya yang hanya 260 ribu barel. 

Sementara itu, unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) bertindak sebagai "koki ahli" yang mampu mengubah residu sisa olahan menjadi produk yang bernilai tinggi.

Sebagai koki, CDU dan RFCC serta unit produksi lainnya Kilang Balikpapan merupakan koki canggih yang serba bisa, memasak bahan baku menjadi berbagai variasi “makanan” berkualitas tinggi seperti BBM Gasoline, Diesel dan Avtur dengan standar EURO V yang ramah lingkungan, LPG, serta produk Petrokimia turunan lainnya seperti Propylene dan sulfur.

Setelah BBM selesai diproduksi, selanjutnya akan dikirimkan ke masyarakat. Terminal BBM Tanjung Batu dengan kapasitas 125 ribu KL berfungsi sebagai salah satu titik distribusi “masakan” yang dihasilkan dari Kilang Balikpapan.

Seluruh infrastruktur di atas saling menunjang satu dengan yang lain. Tanpa pipa gas, kilang tidak efisien. Tanpa sarana tambat Lawe-Lawe, kilang tidak bisa menerima bahan baku dalam jumlah besar. Tanpa tangki raksasa, cadangan bahan baku akan menjadi terbatas. 

Keharmonisan sistem ini memberikan dampak nyata berupa pengurangan impor BBM, yang juga akan memberikan manfaat pada penghematan devisa dan mendukung swasembada energi nasional.

Baca Juga

  • RDMP Balikpapan Diresmikan Hari Ini, Bahlil Tegaskan RI Setop Impor Solar
  • Prabowo Optimistis Peresmian RDMP Balikpapan Akan Kurangi Impor BBM
  • Prabowo Bakal Resmikan Proyek Kilang Balikpapan Senilai Rp123 Triliun Hari Ini

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tutup Putaran Pertama dengan 4 Kekalahan Beruntun, Manajemen Wajib Penuhi Permintaan Pelatih PSM Tomas Trucha Datangkan Pemain Baru
• 12 jam laluharianfajar
thumb
IHSG Dibuka Menguat ke 8.975 Didorong Penguatan AMMN, ASII & BMRI Cs
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Go Ahead Eales vs Fortuna Sittard, Gol Laurt Justin Huber Buyarkan Kemenangan Kowet
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Presiden Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan, Tonggak Kedaulatan Energi Nasional
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
3 Koridor TransJakarta Alami Keterlambatan Imbas Hujan Jakarta
• 14 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.