Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah menargetkan penghentian impor bahan bakar pesawat atau avtur mulai 2027, setelah lebih dulu memastikan impor solar tidak lagi dilakukan tahun ini.
“Sementara untuk solar, tahun ini Alhamdulillah atas perintah Bapak Presiden (Prabowo Subianto) maka mulai yang sekarang kita bicara ini, tidak ada lagi impor solar untuk insyaallah ke depan,” ucap Bahlil dalam gelaran peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).
Bahlil menjelaskan, kebutuhan solar nasional saat ini mencapai sekitar 38 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan tersebut telah ditopang oleh implementasi program campuran biodiesel B40 dan B60. Selain itu, adanya tambahan produksi hampir 5 juta kiloliter membuat sisa impor solar yang sebelumnya sekitar 5 juta kiloliter kini dinilai telah tertutupi, bahkan menciptakan surplus sekitar 1,4 juta kiloliter untuk kebutuhan C48. Adapun impor untuk jenis C51 disebut tinggal sekitar 600 ribu kiloliter.
“Nanti di semester kedua Pertamina saya minta untuk membangun (kapasitas) agar kita tidak impor (solar lagi),” lanjut Bahlil.
Ia menambahkan, melalui proyek RDMP yang baru diresmikan ini, kapasitas produksi berbagai jenis BBM akan ditingkatkan, termasuk RON 92, RON 95, dan RON 98. Langkah ini bertujuan agar kebutuhan bahan bakar dalam negeri dapat dipenuhi dari produksi nasional tanpa bergantung pada impor. “Itu supaya kita tidak impor lagi. Supaya badan-badan usaha swasta ini beli produksi dalam negeri lewat Pertamina,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan kebijakan penguatan produksi energi dalam negeri ini sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. “Perintah Pasal 33 adalah cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat orang banyak harus dikuasai oleh negara. Dan oleh karena itu negara harus menyiapkan,” jelasnya.
Bahlil pun menyatakan setelah impor solar dihentikan, pemerintah menargetkan langkah serupa diterapkan pada avtur mulai 2027. Ke depan, Indonesia hanya akan mengimpor minyak mentah (crude), sementara pengolahan dan pemenuhan kebutuhan bahan bakar dilakukan di dalam negeri.
“Jadi avtur juga 2027 insyaallah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja. Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis,” tutur Bahlil.
Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan hari ini, Senin (12/1). Total investasi yang digelontorkan untuk mega proyek ini mencapai USD 7,4 miliar atau setara Rp 123 triliun.
Dengan diresmikannya proyek ini, Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero) akan menjadi kilang terbesar di Indonesia, dengan kapasitas pengolahan dari 260 ribu barel per hari naik menjadi 360 ribu barel per hari.
"Tentunya saya menyambut bahagia dan sangat bangga atas peresmian hari ini, dan saya ucapkan terima kasih kepada seluruh unsur, pihak, dan jajaran personalia, sehingga kita berhasil mencapai hari ini. Ini prestasi yang sangat penting bagi bangsa,” kata Prabowo saat meresmikan RDMP Balikpapan di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).





