Konflik Trump Vs The Fed Hidupkan Lagi Sentimen 'Sell America'

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Sentimen “Sell America” kembali mengguncang pasar global setelah pemerintahan Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) memicu kekhawatiran atas independensi kebijakan suku bunga.

Melansir Bloomberg pada Senin (12/1/2025), indeks dolar Bloomberg terpantau turun hingga 0,2% di perdagangan Asia, dengan greenback melemah terhadap hampir seluruh mata uang utama negara G10. 

Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 merosot 0,5% hingga pukul 03.00 waktu New York, sementara Nasdaq 100 futures turun 0,8%.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik dua basis poin pada awal perdagangan London, sedangkan yield obligasi 30 tahun meningkat empat basis poin.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });
Baca Juga : Krisis Iran Memanas, Trump Buka Peluang Operasi Militer

Tekanan muncul setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa ancaman dakwaan pidana terhadap dirinya—terkait kesaksiannya di Kongres mengenai renovasi kantor pusat The Fed—merupakan dampak dari perbedaan pandangan soal kebijakan moneter.

Aksi tersebut menjadi babak terbaru dari serangkaian konfrontasi terhadap bank sentral, mulai dari upaya memecat Gubernur The Fed Lisa Cook hingga desakan berulang untuk memangkas suku bunga secara agresif.

Gelombang aksi jual ini kembali memantik perdebatan mengenai sejauh mana presiden AS dapat dan seharusnya memengaruhi arah kebijakan suku bunga, yang selama beberapa dekade terakhir dijaga dari intervensi politik demi memastikan stabilitas harga. 

Situasi ini juga menghidupkan kembali pertanyaan apakah investor perlu mengurangi eksposur terhadap aset-aset AS dan dolar—tema yang sempat mendominasi pasar global pada April lalu ketika Trump mengumumkan tarif universal.

“Setiap perkembangan yang menimbulkan keraguan atas independensi The Fed akan menambah ketidakpastian kebijakan moneter AS,” ujar Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments yang mengelola aset lebih dari US$600 miliar. 

Menurutnya, hal ini berpotensi memperkuat tren diversifikasi keluar dari dolar dan meningkatkan minat terhadap lindung nilai tradisional seperti emas.

Bagi investor, eskalasi konflik ini membuka peluang meningkatnya volatilitas pasar, mengingat dampaknya terhadap arah kebijakan moneter jangka panjang.

JPMorgan Asset Management memperkirakan kurva imbal hasil Treasury akan semakin curam seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih agresif. 

Sementara itu, Lombard Odier menilai dolar dan Treasuries masih berpotensi berada di bawah tekanan, sementara Invesco Asset Management melihat aset non-AS seperti saham Eropa dan Asia menjadi relatif lebih menarik.

Baca Juga : Reli Harga Tembaga Berlanjut, Terdorong Depresiasi Dolar AS dan Pasokan Ketat

Sorotan juga tertuju pada dolar AS yang menjadi tulang punggung perdagangan global dan menyumbang hampir 90% transaksi valuta asing dunia. Anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Francois Villeroy de Galhau pekan lalu memperingatkan bahwa kritik pemerintahan Trump terhadap The Fed dapat mengancam peran dolar sebagai mata uang global.

Perselisihan ini berakar dari konflik panjang antara Trump dan Powell. Presiden AS tersebut menekan The Fed agar memangkas suku bunga lebih cepat guna mendongkrak ekonomi dan menurunkan biaya pinjaman pemerintah. 

Sebaliknya, para pejabat The Fed yang menetapkan suku bunga cenderung berhati-hati karena risiko inflasi. Paul Volcker, Ketua The Fed pada 1979, dikenang karena sikap kerasnya menumpas inflasi—yang menurut banyak pihak sempat dibiarkan karena bank sentral tunduk pada tekanan politik Presiden Richard Nixon kala itu.

“Berita ini berpotensi kembali menyebarkan narasi Sell America menjelang pembukaan pasar,” kata Gerald Gan, chief investment officer Reed Capital Partners yang berbasis di Singapura. 

Menurutnya, dinamika tersebut mencerminkan pemerintahan yang berfokus merebut kembali dukungan publik menjelang pemilu paruh waktu, meski harus mengorbankan kredibilitas institusi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam Pecah Rekor, Tembus Rp2,63 Juta per Gram
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Bantah Penelantaran Anak, Kuasa Hukum Denada Sebut Ressa Dibelikan Mobil dan Ditransfer Uang
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Kampung Nelayan dan Teknologi Maritim Jadi Pilar Ketahanan Pangan Nasional
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tumbangkan Real Madrid 3-2, Barcelona Juara Piala Super Spanyol
• 12 jam lalueranasional.com
thumb
Bersih Maksimal dan Hemat Energi! Ini 5 Mesin Cuci Panasonic Terbaik 2026
• 6 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.