Balikpapan: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan berbagai drama mewarnai pembangunan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Hal ini disampaikan oleh Bahli di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat peresmian infrastruktur terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan.
Bahlil mencontohkan insiden kebakaran yang sempat terjadi di area kilang. Insiden kebakaran tersebut menyebabkan penyelesaian proyek senilai USD7,4 juta atau setara Rp123 triliun itu meleset dari target awal Mei 2024.
“Proyek RDMP Balikpapan ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Saya harus jujur katakan, seharusnya sudah jadi awal Mei 2024, tapi terjadi kebakaran. Ada bagian yang dibakar. Saya tidak mengerti apakah terbakar karena kecelakaan atau ada faktor lain,” ujar Bahlil dalam sambutannya, di Balikpapan, Kalimatan Timur, Senin, 12 Januari 2026.
Pada Agustus 2024, dia langsung memerintahkan tim inspektorat Kementerian ESDM untuk menginvestigasi kebakaran itu. Dari hasil investigasi, kata dia, ditemukan indikasi kepentingan tertentu yang menghambat penyelesaian proyek strategis nasional tersebut.
“Ternyata barang ini, Pak, ada udang di balik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau Indonesia punya cadangan dan swasembada energi. Maunya impor terus, impor terus. Ini yang harus kita hadapi dan kita selesaikan,” tegas Bahlil.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan RDMP Balikpapan, Kilang Minyak Terbesar di Indonesia
RDMP Kilang Balikpapan. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti
Bahlil menegaskan RDMP Balikpapan merupakan proyek vital. Ini merupakan RDMP terbesar di Indonesia dan berperan penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Melalui proyek tersebut, kapasitas kilang diklaim dapat meningkat signifikan dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Selain itu, kualitas bahan bakar yang dihasilkan mendekati standar Euro 5 dan mendukung target Net Zero Emission.
“Dengan RDMP ini, kita bisa menghemat devisa sekitar Rp60 triliun lebih. Karena ada tambahan 100 ribu barel, kita bisa menghasilkan bensin sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun,” jelas Bahlil.




