Meluruskan Stigma tentang Tuli lewat Bahasa dan Identitas

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Indonesia memperingati Hari Tuli Nasional setiap 11 Januari. Hari tersebut mulanya merupakan hari lahirnya organisasi Tuli pertama di Indonesia, yaitu Serikat Kaum Tuli-Bisu Indonesia (SERKATUBI) yang dibentuk pada 11 Januari 1960.

Hal tersebut ditetapkan oleh Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Nasional dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 21-23 September 2017. Dipilihnya tanggal 11 Januari sebagai pengingat akan perjuangan komunitas Tuli di Indonesia.

Hingga kini, komunitas Tuli masih memperjuangkan haknya. Lantas, bagaimana orang Tuli memandang kehidupaan ini?

Phieter Angdika, Guru dan Peneliti Pejuang Hak Komunitas Tuli

Abdurrahman Phieter Angdika (36) merupakan dosen Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) di Universitas Indonesia (UI). Pria kelahiran 1990 yang akrab dipanggil Phieter itu terlahir sebagai Tuli.

Sebagai seorang Tuli, Phieter pernah menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD) yang sudah lama dia tinggalkan. Menurut Phieter, ABD bukanlah satu-satunya jalan untuk teman Tuli bisa berkomunikasi seperti teman Dengar lainnya. Sayangnya, kata dia, masih banyak yang menganggap bahwa ABD adalah solusi utama dan jalan menuju kesuksesan Tuli.

"Sebaiknya, anak Tuli dikenalkan bahasa isyarat seperti BISINDO sejak dini karena akses bahasa dalam bentuk visual sangat penting. Tapi Tuli itu beragam, itu [ada] yang pakai isyarat, verbal, punya sisa dengar, atau [baru] menjadi Tuli belakangan (pendengaran menurun)," ungkap Phieter saat dihubungi kumparan pada Jumat (9/1).

Setiap Tuli, kata Phieter, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi solusinya bukan hanya satu, tapi ada berbagai cara dengan memperhatikan pendekatan untuk anak Tuli yang menyesuaikan kebutuhan anak tersebut dengan memastikan akses bahasa sejak awal, yaitu dengan bahasa isyarat.

CEO dan Founder dari PT Pusat Tuli Indonesia itu mengatakan, dirinya pernah belajar berbicara, tetapi solusi tersebut tidak tepat menurutnya karena gerakan bibir yang membingungkan karena adanya kata dengan gerakan bibir yang mirip jika dilafalkan, seperti kayu, gayung, sapu, dan masih banyak lagi. Menurutnya, bahasa isyarat itu tepat bagi komunitas Tuli.

Perlu diingat juga untuk membiasakan diri menggunakan istilah "Tuli" bukan dengan istilah "tuna rungu". Phieter sendiri mengaku lebih suka dipanggil Tuli daripada tuna rungu yang menurut masyarakat lebih sopan, padahal tidak.

"Sebetulnya mereka (orang Dengar) menganggap [istilah] Tuli itu tidak sopan itu salah fatal. Sebenarnya Tuli itu berdasarkan identitas," ujar Phieter.

Oleh karena itu, kata dia, huruf T dalam kata "Tuli" harus ditulis kapital karena termasuk identitas. Contohnya seperti warga Jawa, warga Bugis, dan lain-lain yang huruf awalnya ditulis kapital untuk menunjukkan identitasnya. Jika "Tuli" ditulis dengan huruf kecil seperti "tuli", hal tersebut tidak sopan. Mengubah nama "Tuli" menjadi "Tuna Rungu", kata Phieter, sama saja seperti mengubah identitas dari komunitas Tuli itu sendiri.

Begitu pula dengan penggunaan kata "normal" yang merujuk pada orang non-disabilitas. Menurut pandangan Phieter dan komunitas Tuli, kata "normal" bersifat superior atau menganggap orang Tuli sebagai tidak normal.

"Sebetulnya, normal artinya punya akal budi, kami Tuli tetap normal juga," ungkap Phieter.

Menurut Phieter, faktor penyebab Tuli bermacam-macam, bisa karena sakit atau keturunan. Akan tetapi, tidak semua pasangan Tuli otomatis memiliki anak yang juga Tuli. Phieter yang istrinya juga seorang Tuli dikaruniai anak yang bisa mendengar.

Selain itu, terdapat stigma bahwa Orang Tuli sudah pasti bisu di masyarakat. Phieter mengatakan bahwa tuli itu bukan bisu. Fokus dari Tuli bukan terletak pada bisa atau tidaknya seseorang berbicara, tapi pada kesanggupan seseorang dalam mendengar dan menggunakan bahasa isyarat untuk komunikasi. Baik bisu dan tuli, kata Phieter, adalah dua hal yang berbeda, tidak bisa disamaratakan.

Dalam segi komunikasi, Phieter dan teman-temannya tengah memperjuangkan BISINDO daripada SIBI yang menurutnya bukanlah bahasa. Sayangnya, BISINDO masih dianggap sebagai bahasa gaul dibandingkan SIBI. SIBI cenderung lebih menyerupai sistem dibandingkan bahasa karena diadopsi dari American Sign Language (ASL) dan dibuat oleh orang Dengar. ASL adalah sistem bahasa isyarat Amerika yang berbeda dengan BISINDO.

Menurut Phieter, BISINDO berkembang di komunitas Tuli Indonesia itu sendiri sehingga lebih natural dan bisa lebih mewakili ekspresi Tuli di Indonesia. BISINDO kini banyak dipelajari baik oleh orang Tuli maupun Dengar. Phieter mengaku selama dia mengajar, semua muridnya adalah orang Dengar. Perusahaan Phieter, Pusat Tuli Indonesia, berencana untuk membuka pelatihan BISINDO untuk Tuli.

Saat ini, Phieter merupakan CEO dan Founder dari PT Perusahaan Tuli Indonesia. Perusahaan tersebut memiliki empat brand, yaitu Ruang Isyarat, Beriuh Podcast, Darsana Tuli, dan Tuli Cendekia. PTI (Perusahaan Tuli Indonesia) terinspirasi dari American Deaf Centered yang memiliki data terkait Tuli, seperti berapa jumlah Tuli yang punya usaha, jumlah Tuli yang memiliki anak Dengar, dan lain-lain.

Kisah Resty, Mahasiswa Tuli Jurusan Desain Mode UNJ

Di sisi lain, Restiah Nurhalizah (27), mahasiswa dari Program Studi Sarjana Terapan Desain Mode di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) juga memiliki ceritanya sendiri. Perjuangan mahasiswa yang akrab dipanggil Resty ini sebagai seorang Tuli tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Resty didiagnosa Tuli sejak bayi dengan kondisi telinga kanan masih bisa mendengar sedikit dan telinga kiri yang tidak bisa mendengar sama sekali. Sejak TK hingga SD, Resty bersekolah di SLB Alfiany Cengkareng. Barulah ketika masuk di bangku SMP, Resty mulai bersekolah di sekolah umum hingga lulus SMK, yaitu SMPN 191 Duri Kepa dan SMKN 27 Pasar Baru.

"Alhamdulillah, dapat sekolah terbaik terus yang menerima siswa berkebutuhan khusus," ungkap Resty saat dihubungi tim kumparan pada Jumat (9/1).

Ibunya berprofesi sebagai penjahit dan penjual kue rumahan. Dia turut mendampingi Resty selama menempuh pendidikan sekolah, meninggalkan pekerjaan menjahitnya di rumah.

Resty juga mengaku tidak nyaman jika disuruh bicara. Dia lebih nyaman menggunakan bahasa isyarat untuk berinteraksi dengan orang lain. Menurutnya, orang Tuli yang bisa bicara tidak bisa dijadikan tolak ukur kepintaran seseorang. Semua memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Semasa kuliah, Resty mulai didampingi oleh relawan Juru Bahasa Isyarat (JBI) dari Relawan Disabilitas UNJ, unit pendukung mahasiswa disabilitas Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Karena bersifat sukarela, teman relawan JBI Resty tidak minta dibayar. Mereka mendampingi Resty secara sukarela.

Sistem pengajuan JBI di UNJ bisa dibilang cukup mudah. Hanya perlu menghubungi anggota Relawan Disabilitas UNJ, Resty mengaku hanya butuh waktu dua hari hingga permintaannya diproses. Resty menggunakan pendampingan JBI hanya saat tugas presentasi saja yang menurutnya membantu di masa perkuliahannya.

Terkait layanan publik lainnya seperti transportasi umum hingga kesehatan, Resty mengaku masih mengalami kesulitan karena tidak semuanya paham bahasa isyarat. Cara Resty menghadapi kesulitan tersebut adalah dengan tulisan tangan atau mengetik melalui ponsel. Meskipun begitu, mulai dari transportasi umum hingga layanan kesehatan menurut Resty sudah cukup baik dan ramah.

Resty mengaku dia tidak menggunakan Alat Bantu Dengar (ABD) yang disarankan oleh dokter untuk telinga kanannya. ABD yang cocok untuk telinganya seharga 13 juta. BPJS hanya bisa digunakan untuk pemeriksaannya saja, tetapi tidak untuk pembelian ABD-nya. Karena keterbatasan biaya, Resty tidak menggunakan ABD.

Meski tanpa ABD, Resty tidak menjadikannya alasan untuk berhenti belajar dan terus berkembang. Bahkan, beberapa kali Resty diundang ke dalam acara komunitas Tuli dengan Resty sebagai narasumbernya.

Keterbatasan bukanlah alasan bagi seseorang untuk mundur dari mimpinya. Orang sekitar yang suportif juga menjadi faktor penting, seperti keluarga Resty terutama ibunya yang selalu siap sedia untuk Resty.

"Kata dokter spesialis telinga... 'Resty kamu hebat bisa [belajar] sampai kuliah biarpun tidak dapat mendengar'," kenang Resty.

Persentase Penduduk Tuli di Berbagai Provinsi Indonesia

Tim kumparan melakukan riset terkait persebaran penyandang disabilitas pendengaran di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, setidaknya ada 22 juta penduduk Indonesia yang merupakan masyarakat disabilitas atau sekitar 8,5 persen. Namun, data terkait Tuli memang tidaklah begitu jelas.

Dalam publikasi "Potret Penyandang Disabilitas di Indonesia: Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020" yang dirilis pada 2024 lalu, BPS Indonesia mendefinisikan disabilitas pendengaran sebagai terganggunya fungsi organ pendengaran baik disebabkan oleh bawaan lahir, penyakit, kecelakaan, atau lanjut usia. Disabilitas pendengaran dibagi menjadi dua, yaitu disabilitas tipe 1 dan tipe 3.

Adapun definisi dari disabilitas tipe 1 dan 3 berdasarkan pengukuran disabilitas (Office for National Statistics 2019) dari pertanyaan Washington Group Short Set on Functioning (WG-SS), yaitu:

Berikut adalah grafik persentase penduduk dengan gangguan pendengaran berdasarkan disabilitas tipe 1 di Indonesia tahun 2022.

Berdasarkan data tersebut, Gorontalo menjadi provinsi dengan penduduk penyandang disabilitas pendengaran tipe 1 terbanyak di Indonesia dengan angka 2,65 persen. Sedangkan provinsi dengan persentase penduduk disabilitas pendengaran terendah adalah Kepulauan Riau dengan angka 1.02 persen.

Selain itu, berikut adalah grafik persentase penduduk dengan gangguan disabilitas pendengaran tipe 3 di Indonesia tahun 2022.

Berdasarkan data tersebut, Yogyakarta menjadi provinsi dengan penduduk disabilitas pendengaran tipe 3 terbanyak dengan angka 0,63 persen. Sedangkan provinsi dengan penduduk disabilitas pendengaran tipe 3 paling sedikit adalah Kepulauan Riau dengan angka 0,21 persen. Data tersebut bisa digunakan sebagai catatan oleh pemerintah dalam rangka menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia, termasuk masyarakat berkebutuhan khusus.

Sementara itu, berdasarkan publikasi "Statistik SLB" yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025, jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) di Indonesia adalah 2.366 sekolah baik negeri maupun swasta dan jumlah siswa Tuli yang tercatat dari SLB negeri maupun swasta adalah 26.218.

Berikut adalah tabel data jumlah SLB berdasarkan akreditasinya di 38 provinsi Indonesia tahun ajaran 2024/2025.

Berdasarkan tabel tersebut, Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah SLB terbanyak yaitu 398 sekolah. Sedangkan, provinsi dengan jumlah SLB terendah adalah Papua Pegunungan yang tidak memiliki SLB baik negeri maupun swasta.

Berikut tabel data jumlah peserta didik Tuli SLB di 38 provinsi Indonesia tahun ajaran 2024/2025.

Berdasarkan data tersebut, provinsi dengan murid Tuli terbanyak adalah Jawa Barat dengan jumlah 4.381 siswa. Sedangkan provinsi dengan murid Tuli terendah adalah Papua Pegunungan yang tidak memiliki murid Tuli.

Penulis: Safina Azzahra Rona Imani


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Danantara Ungkap Booster Saham Emiten BUMN di 2026
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
5 Berita Populer: Hesti Purwadinata Diancam; Respons Denada Usai Digugat
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
BNI Pertegas Dukungan Sekolah Rakyat untuk Perluas Pemerataan Pendidikan Nasional
• 12 jam lalusuara.com
thumb
Jalan Daan Mogot Masih Banjir Senin Malam, Lalu Lintas Macet Parah
• 14 jam laluliputan6.com
thumb
BNI (BBNI) Dukung Danantara Serahkan 600 Hunian Layak Pascabencana di Aceh Tamiang
• 20 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.