Persebaya Surabaya di Era Bernardo Tavares: Membaca Peluang Marselino Ferdinan dan Ricky Kambuaya Pulang ke Pelukan Bajul Ijo

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA — Kedatangan Bernardo Tavares ke Persebaya Surabaya bukan sekadar pergantian pelatih. Ia menandai perubahan cara pandang klub dalam membangun tim: lebih terstruktur, lebih sabar, dan lebih berani menaruh kepercayaan pada pemain lokal—terutama mereka yang berada di usia emas atau fase transisi karier.

Dalam konteks itu, dua nama kembali mengemuka di benak publik Surabaya: Marselino Ferdinan dan Ricky Kambuaya.

Keduanya bukan figur asing bagi Bajul Ijo. Keduanya pula berada pada titik karier yang membutuhkan ruang, kejelasan peran, dan sistem yang mampu memaksimalkan potensi—sesuatu yang selama ini menjadi ciri khas tangan dingin Bernardo Tavares.

Bernardo Tavares dan DNA Pemain Lokal

Bernardo Tavares dikenal luas sebagai pelatih yang tidak menjadikan pemain lokal sekadar pelengkap. Di PSM Makassar, ia membuktikan bahwa struktur, disiplin, dan kejelasan peran bisa mengangkat pemain domestik ke level tertinggi, bahkan tanpa kekuatan finansial besar.

Dalam wawancaranya dengan jurnalis Portugal, Inês Antunes (Sport Informas Sapo), Tavares pernah menegaskan:

“Uang sangat membantu, tetapi uang saja tidak cukup untuk memenangkan pertandingan.”

Filosofi ini tercermin dalam cara ia memperlakukan pemain muda: tidak dimanjakan, tetapi dilindungi oleh sistem. Tidak dibebaskan tanpa arah, tetapi diberi tanggung jawab yang jelas.

Marselino Ferdinan: Talenta Liar yang Butuh Struktur

Marselino Ferdinan adalah simbol generasi baru Persebaya. Ia tumbuh dari kompetisi internal klub, menyerap atmosfer Gelora Bung Tomo, lalu dilepas ke Eropa dengan ekspektasi besar.

Namun, perjalanan di luar negeri tak selalu berjalan linier. Adaptasi, menit bermain, dan dinamika klub membuat perkembangan Marselino berada dalam fase “mencari bentuk”.

Dalam konteks inilah, nama Bernardo Tavares menjadi relevan.

Marselino dikenal sebagai pemain dengan keberanian tinggi, agresif, dan gemar mengambil risiko. Namun, karakter itu justru bisa berkembang lebih matang dalam sistem Tavares—sistem yang menuntut disiplin posisi, timing, dan tanggung jawab kolektif.

Di PSM, banyak pemain muda justru mencapai performa terbaiknya karena tahu kapan harus kreatif dan kapan harus patuh pada struktur. Marselino, dengan energi dan visi bermainnya, berpotensi mengalami transformasi serupa jika suatu saat kembali ke Surabaya.

Momentum PSSI Awards: Sinyal Kepercayaan yang Belum Padam

Nama Marselino kembali masuk radar publik setelah masuk nominasi Men’s Young Player of The Year PSSI Awards 2025, bersaing dengan Arkhan Fikri, Fajar Fathurrahman, Dony Tri Pamungkas, dan Rayhan Hannan.

Masuknya Marselino dalam daftar tersebut—meski kariernya sedang berproses di luar negeri—menunjukkan satu hal: kepercayaan terhadap potensinya belum pudar.

Jika suatu saat ia kembali ke Liga Indonesia, Persebaya di era Bernardo Tavares akan menjadi rumah yang paling logis, baik secara emosional maupun teknis.

Ricky Kambuaya: Energi Box-to-Box yang Cocok dengan Filosofi Tavares

Selain Marselino, nama Ricky Kambuaya juga layak dibaca dalam konteks Persebaya era baru.

Gelandang Timnas Indonesia yang kini membela Dewa United itu tengah berada di usia matang. Musim ini, ia telah tampil dalam 17 pertandingan dan mencatatkan tiga assist—kontribusi yang mungkin tak selalu mencolok di angka, tetapi krusial dalam ritme permainan.

Sejak debut bersama Timnas Indonesia pada 2021, Kambuaya telah mengoleksi 43 caps dan mencetak lima gol. Profilnya sebagai gelandang box-to-box yang agresif, kuat dalam duel, dan berani membawa bola sangat dekat dengan kebutuhan tim-tim Tavares.

Menariknya, Kambuaya kini dikaitkan dengan Persija Jakarta. Aktivitasnya di media sosial yang merespons komentar warganet soal Persija memperkuat spekulasi tersebut. Namun, di balik rumor itu, muncul pertanyaan lain: apakah Persebaya akan diam?

Dalam sistem Bernardo Tavares, gelandang seperti Kambuaya bisa menjadi mesin transisi—menjembatani lini belakang dan depan, menekan lawan, sekaligus memberi intensitas sepanjang laga.

Bursa Transfer dan Persaingan Ambisi

Jendela transfer paruh musim Super League 2025/2026 resmi dibuka pada 10 Januari 2026. Sejumlah klub besar bergerak agresif, termasuk Persija Jakarta yang membidik pemain-pemain lokal berpengalaman seperti Kambuaya dan Fajar Fathurrahman.

Langkah Persija menunjukkan satu hal: perebutan gelar akan ditentukan bukan hanya oleh pemain asing, tetapi juga kualitas pemain lokal di tulang punggung tim.

Bagi Persebaya, era Bernardo Tavares membuka peluang untuk bermain di jalur berbeda—tidak reaktif, tidak tergesa, tetapi selektif dan sesuai kebutuhan sistem.

Jika Marselino dan Kambuaya suatu hari berada di persimpangan karier yang sama, Surabaya bisa menjadi titik temu ideal: klub besar dengan basis suporter kuat, pelatih dengan filosofi jelas, dan sistem yang memberi ruang berkembang tanpa kehilangan arah.

Di era baru ini, Persebaya tak sekadar membangun skuad. Mereka sedang membangun identitas. Dan dalam identitas itu, pemain seperti Marselino Ferdinan dan Ricky Kambuaya bukan sekadar rumor—melainkan potensi cerita besar berikutnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Pertumbuhan Ekonomi Bagus, tapi Dirasakan Rakyat Enggak?
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Media Belanda Ikut Soroti Ancaman Pembunuhan yang Diterima Thom Haye usai Laga Persib vs Persija: Kecewa
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Banjir Rendam Enam Titik di Kabupaten Bekasi
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cegah Anemia Sejak Remaja, Ini Bekal Gizi yang Perlu Dipahami
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Saham Pakuwon (PWON) Terbang usai Komentar Yudo Sadewa, Simak Kata Analis
• 12 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.