Presiden Prabowo Subianto menyampaikan harapannya agar peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan dapat mempercepat pencapaian swasembada energi dalam kurun waktu lima tahun ke depan atau lebih.
Hal tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada acara peresmian di Halaman Kantor Besar PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Balikpapan, Senin (12/1/2026) sore.
Prabowo menegaskan bahwa target swasembada energi bukanlah hal mustahil selama diupayakan dengan kerja keras serta dukungan dan kolaborasi semua pihak.
"Hari ini saya bangga dan bahagia karena kita mengambil lagi satu langkah dalam bidang energi menuju kemampuan untuk mandiri, untuk berdiri di atas kaki sendiri. Kita tidak boleh bergantung pada energi dari luar," tegasnya.
"Kita mampu karena kita telah diberi segala karunia oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal kita mau atau tidak, sebagai sebuah bangsa," tambah Presiden.
Ia pun mengingatkan pencapaian swasembada beras yang ditargetkan dalam empat tahun, ternyata dapat direalisasikan hanya dalam setahun. Capaian itu, menurutnya, tidak diduga-duga banyak pihak.
Prabowo menekankan bahwa negara modern dan berdaulat bergantung pada kemandirian di bidang esensial, seperti pangan dan energi.
"Kedua, juga soal energi. Energi harus bisa kita hasilkan sendiri. Alhamdulillah, sebenarnya bangsa Indonesia diberi karunia luar biasa oleh Tuhan. Kita punya sumber-sumber energi yang besar," ujarnya.
Ia menyebutkan beberapa contoh, seperti cadangan batu bara yang sangat besar, kemampuan mengelola biodiesel dari kelapa sawit, dan produksi Dimethyl Ether (DME) sebagai pengganti elpiji impor. Selain itu, Indonesia juga memiliki cadangan panas bumi (geothermal) terbesar di dunia yang belum dimanfaatkan sepenuhnya, serta energi air (PLTA) dan tenaga surya yang berlimpah.
"Semua itu jika dimanfaatkan secara benar dan baik, Indonesia tidak perlu lagi impor," kata Prabowo.
"Ini sasaran kita. Kita harapkan dalam lima tahun dapat mencapai itu. Tidak masalah jika butuh tahun keenam atau ketujuh. Yang penting kita harus menuju ke situ. Tapi, siapa tahu dengan kerja keras kita bisa mencapainya lebih cepat," tandasnya.
Presiden juga mengakui bahwa birokrasi dan perizinan menjadi tantangan dalam mencapai swasembada energi. Oleh karena itu, pemerintah akan serius memangkas perizinan yang berbelit dan tidak masuk akal.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Sekolah Rakyat adalah Keberanian Negara Ubah Nasib Anak Bangsa
Ia menganalogikan dengan reformasi di sektor pupuk. Dulu, ada 145 peraturan yang melibatkan 11 Kementerian/Lembaga dan membutuhkan 13 tanda tangan dari pabrik hingga ke petani, sehingga pupuk bersubsidi pun sulit didapat.
"Bayangkan, kita hilangkan itu semua. 145 aturan kita hapus," ucap Presiden.
Usai meresmikan kilang terbesar di Indonesia tersebut, Presiden Prabowo melanjutkan agenda dengan bermalam di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam acara tersebut, Presiden didampingi sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menko Infrastruktur dan Kewilayahan AHY, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (nama diperbaiki untuk akurasi), Mensesneg Prasetyo Hadi, Seskab Teddy Wijaya, serta pimpinan TNI, Polri, BPK, dan Direksi Pertamina.
Turut hadir pula pimpinan Komisi VI dan XII DPR RI, Gubernur Kalimantan Timur, Panglima Kodam Mulawarman, Kapolda Kaltim, dan Wali Kota Balikpapan.





