Jakarta (ANTARA) - Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY mengatakan negara, termasuk di dalamnya pemerintah dan para pemimpin, bertanggung jawab untuk memastikan bangsa Indonesia tetap rukun hingga kapan pun.
SBY saat Perayaan Natal Nasional dan Tahun Baru 2026 Partai Demokrat di Jakarta, Senin, mengingatkan bahwa banyak negara di dunia yang tidak memiliki harapan akan masa depan karena gagal merajut kerukunan.
“Negara, pemerintah, para pemimpin bertanggung jawab secara moral untuk memastikan bangsa kita ini sampai kapan pun akan tetap rukun, bersatu dengan persaudaraan yang tinggi,” kata SBY dalam pidatonya.
Menurut dia, bangsa yang gagal menjalin persaudaraan akan terpecah belah dan terus dalam suasana pertikaian. Kondisi itu, kata dia, harus betul-betul dihindari oleh Indonesia sebagai sebuah bangsa.
“Tentu bukan contoh seperti itu yang ingin kita bangun dan tuju di negeri ini. Bukan itu pilihan yang mesti dipilih oleh bangsa kita,” tutur Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.
Bagi SBY, menjaga persatuan dan kerukunan merupakan sebuah keharusan yang tidak terhingga. Ia pun menekankan hal itu menjadi misi, kewajiban, dan tanggung jawab setiap pemimpin di Indonesia, termasuk pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan pejabat negara.
Dia meyakini bahwa persaudaraan dan kerukunan merupakan modal utama bangsa Indonesia untuk terus maju ke depan, di samping pikiran cerdas dan kepemimpinan efektif yang merata di seluruh negeri.
Ia pun mengakui dunia saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Oleh karena itu, para pemimpin, utamanya, mempunyai tanggung jawab moral agar dunia tidak melaju ke arah yang keliru.
“Semua bertanggung jawab dan do something (lakukan sesuatu) untuk memastikan dunia yang kita cintai makin ke depan makin damai, makin adil, dan makin sejahtera,” pesan SBY.
Baca juga: Menkominfo harap Natal Nasional gaungkan perdamaian dan kerukunan
Baca juga: Indeks kerukunan umat beragama naik, tertinggi dalam 11 tahun
Baca juga: Menag: Natal momentum perkuat kerukunan antarumat beragama
SBY saat Perayaan Natal Nasional dan Tahun Baru 2026 Partai Demokrat di Jakarta, Senin, mengingatkan bahwa banyak negara di dunia yang tidak memiliki harapan akan masa depan karena gagal merajut kerukunan.
“Negara, pemerintah, para pemimpin bertanggung jawab secara moral untuk memastikan bangsa kita ini sampai kapan pun akan tetap rukun, bersatu dengan persaudaraan yang tinggi,” kata SBY dalam pidatonya.
Menurut dia, bangsa yang gagal menjalin persaudaraan akan terpecah belah dan terus dalam suasana pertikaian. Kondisi itu, kata dia, harus betul-betul dihindari oleh Indonesia sebagai sebuah bangsa.
“Tentu bukan contoh seperti itu yang ingin kita bangun dan tuju di negeri ini. Bukan itu pilihan yang mesti dipilih oleh bangsa kita,” tutur Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu.
Bagi SBY, menjaga persatuan dan kerukunan merupakan sebuah keharusan yang tidak terhingga. Ia pun menekankan hal itu menjadi misi, kewajiban, dan tanggung jawab setiap pemimpin di Indonesia, termasuk pemimpin agama, tokoh masyarakat, dan pejabat negara.
Dia meyakini bahwa persaudaraan dan kerukunan merupakan modal utama bangsa Indonesia untuk terus maju ke depan, di samping pikiran cerdas dan kepemimpinan efektif yang merata di seluruh negeri.
Ia pun mengakui dunia saat ini sedang dalam keadaan tidak baik. Oleh karena itu, para pemimpin, utamanya, mempunyai tanggung jawab moral agar dunia tidak melaju ke arah yang keliru.
“Semua bertanggung jawab dan do something (lakukan sesuatu) untuk memastikan dunia yang kita cintai makin ke depan makin damai, makin adil, dan makin sejahtera,” pesan SBY.
Baca juga: Menkominfo harap Natal Nasional gaungkan perdamaian dan kerukunan
Baca juga: Indeks kerukunan umat beragama naik, tertinggi dalam 11 tahun
Baca juga: Menag: Natal momentum perkuat kerukunan antarumat beragama





