Venezuela Kecam Serangan Militer AS sebagai Kejahatan Perang dan Serukan Tanggung Jawab Global

pantau.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Pemerintah Venezuela mengecam keras operasi militer Amerika Serikat di wilayahnya, yang disebut sebagai kejahatan perang oleh Menteri Komunikasi dan Informasi Venezuela, Freddy Nanez.

Dalam pernyataannya pada Minggu, 11 Januari 2026 di Caracas, Nanez menegaskan bahwa serangan militer AS merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.

Kecaman itu ia sampaikan dalam sebuah acara budaya internasional yang dihadiri oleh seniman dan intelektual dari berbagai negara.

Nanez menyoroti bahwa tindakan AS bukan hanya agresi militer, tetapi juga bentuk pelecehan terhadap hukum internasional yang seharusnya dijunjung tinggi oleh komunitas global.

Ia menekankan bahwa komunitas budaya internasional memiliki tanggung jawab historis di tengah meningkatnya kekerasan dan pelemahan tatanan hukum global.

Serangan AS dan Dampaknya terhadap Venezuela

Pada 3 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer bertajuk Operation Absolute Resolve di Venezuela.

Operasi itu mencakup serangan udara serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, yang kemudian dibawa ke AS untuk menghadapi dakwaan internasional terkait narkoba dan terorisme.

Serangan tersebut menyebabkan puluhan korban jiwa, termasuk personel keamanan dan warga sipil Venezuela.

Menurut laporan Antara News, korban tewas akibat serangan itu mencapai lebih dari 80 orang.

Tindakan militer AS ini memicu kecaman luas dari berbagai negara dan organisasi internasional, termasuk dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.

Banyak pihak menilai operasi itu melanggar prinsip kedaulatan negara dan tidak sah menurut hukum internasional.

Kritik terhadap Motif dan Seruan untuk Aksi Etis

Freddy Nanez mengkritik keras motif di balik serangan tersebut, menyatakan bahwa stigma terhadap Venezuela lebih dipicu oleh kepentingan ekonomi atas sumber daya alam negara itu, bukan karena ideologi atau alasan moral.

Ia juga mengingatkan tentang preseden sejarah campur tangan asing yang telah menghancurkan banyak negara di masa lalu.

Sejak 2019, lanjut Nanez, Venezuela telah menghadapi peningkatan permusuhan dari AS, termasuk sanksi ekonomi, operasi intelijen rahasia, dan perampasan aset negara secara ilegal.

Meski demikian, Nanez menegaskan bahwa Venezuela tidak akan menyerah terhadap tekanan atau agresi dari pihak luar.

Sebagai penutup, ia menyerukan kepada para penyair, seniman, dan kaum intelektual di seluruh dunia untuk memikul tanggung jawab etis dan aktif dalam membela hak masyarakat dalam menentukan nasibnya sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pelayaran Perdana Tol Laut 2026, Pelni Jangkau Rute 3TP Baru Wanci–Namrole
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Hindari Bubble Properti, Vietnam Pangkas Target Pertumbuhan Kredit
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo Bertolak ke Balikpapan dan IKN Usai Resmikan Sekolah Rakyat di Kalsel
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
Di Tahun 2025, Ada Lebih dari 6,4 Juta Unit Motor Terjual
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Daftar Beasiswa 2026 Jenjang S1 dan S2, Ini Estimasi Pembukaan Pendaftarannya
• 12 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.