Donald Trump Klaim Presiden Ukraina Sangat Tergantung pada Dirinya

mediaindonesia.com
20 jam lalu
Cover Berita

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan pernyataan tajam terkait posisi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terkait konflik berkepanjangan melawan Rusia. 

Dalam sebuah wawancara terbaru dengan The New York Times (NYT), Trump menyebut bahwa Zelenskyy saat ini berada dalam posisi yang sangat lemah tanpa dukungan personal darinya.

Trump menilai Zelenskyy sama sekali tidak memiliki posisi tawar atau "kartu" untuk dimainkan di panggung geopolitik saat ini. Menurutnya, satu-satunya faktor yang membuat posisi Ukraina tetap bertahan adalah peran dirinya.

"Ia [Zelenskyy] tak punya kartu. Sejak hari pertama ia tidak punya kartu. Ia hanya punya satu hal, yaitu Donald Trump," klaim Trump dalam wawancara tersebut, dikutip dari laporan RIA Novosti, Senin (12/1).

Klaim Penyelamat dari Bencana

Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa jika dirinya tidak turun tangan dalam dinamika konflik tersebut, situasi di Ukraina saat ini diyakini akan berubah menjadi bencana total. 

Ia mengklaim bahwa realitas ini sebenarnya disadari dengan baik, tidak hanya oleh Zelenskyy, tetapi juga oleh para pemimpin di Eropa.

Bahkan, Trump kembali melontarkan pernyataan spekulatif bahwa tanpa peran yang ia mainkan, Rusia kemungkinan besar sudah berhasil menguasai seluruh wilayah Ukraina. 

Keyakinan ini didasari pada pandangannya bahwa diplomasi personalnya mampu meredam ambisi militer Kremlin lebih efektif dibandingkan kebijakan saat ini.

"Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa," tambah Trump singkat kepada The New York Times.

Sinyal Kesepakatan dengan Putin

Terkait hubungannya dengan Moskow, Trump memberikan indikasi bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sebenarnya memiliki keinginan untuk mengakhiri konflik melalui jalur negosiasi. 

Meski begitu, Trump mengakui bahwa sejauh ini memang belum ada tenggat waktu atau kerangka kerja yang jelas mengenai kapan kesepakatan tersebut dapat tercapai.

Di sisi lain, konflik yang bermula sejak 24 Februari 2022 ini masih terus berlangsung. Pihak Rusia secara konsisten menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk melindungi warga di wilayah Donbas dari apa yang mereka sebut sebagai genosida oleh pemerintah Kiev.

Vladimir Putin menegaskan bahwa tujuan akhir dari operasi militer Rusia tetap pada pembebasan wilayah Donbas serta menciptakan jaminan keamanan bagi Rusia, yang mencakup langkah-langkah demiliterisasi dan denazifikasi terhadap Ukraina. (Ant/Z-1)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ketua RT Ungkap Dugaan Motif Pedagang Cilok Ditusuk Rekan Sejawatnya di Kembangan
• 5 jam laludisway.id
thumb
Hasil undian Piala FA: masih minim big match di putaran keempat
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Rapor Paruh Pertama BRI Super League 2025/2026: Penonton Hampir Tembus 1 Juta, Laga Persija Paling Banyak Peminat
• 18 jam lalubola.com
thumb
Jet Li Ikut Antri Membeli, Maextro S800 Kalahkan Penjualan Porsche dan BMW di Segmen Mobil Listrik Mewah
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Rencana John Herdman untuk Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
• 11 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.