Pantau - Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa pemerintah berhasil menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen, sebuah pencapaian yang disebut sebagai yang pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia.
Penurunan harga pupuk ini merupakan hasil dari reformasi besar-besaran yang dilakukan pemerintah terhadap sistem regulasi dan distribusi pupuk nasional.
Dalam sambutannya saat meresmikan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur secara daring, Presiden menekankan bahwa kebijakan tersebut berdampak langsung bagi para petani.
Ia menyatakan, "Kita berhasil pertama kali dalam sejarah bangsa kita, kita berhasil menurunkan harga pupuk sebesar 20 persen," ungkapnya.
Reformasi Distribusi dan Regulasi PupukPemerintah memfokuskan upaya pada pemangkasan regulasi yang selama ini menghambat proses distribusi pupuk dari pabrik hingga ke tangan petani.
Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo menjadikan reformasi sektor pertanian sebagai bagian dari agenda besar swasembada pangan nasional.
Lebih dari 145 aturan yang melibatkan 11 kementerian/lembaga serta pemerintah daerah dihapus karena dianggap memperlambat penyaluran pupuk.
"Kita hilangkan itu semua, 145 peraturan kita hapus dan sekarang tidak perlu 13 tanda tangan, cukup 1 tanda tangan, 1 instruksi. Kemudian pupuk itu langsung ke petani dan petani tidak perlu pakai macam-macam, cukup kartu penduduk," ia mengungkapkan.
Penyederhanaan mekanisme ini membuat proses distribusi menjadi lebih efisien, yang berdampak langsung terhadap harga pupuk dan kemudahan akses bagi petani.
Dampak Langsung bagi PetaniMenurut Presiden, penurunan harga pupuk telah memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani.
Harga pupuk kini lebih terjangkau dan ketersediaannya lebih pasti dibandingkan sebelumnya.
Volume penyaluran pupuk juga meningkat signifikan hingga mencapai 700 ribu ton.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan bahwa potensi penurunan harga pupuk sebenarnya bisa mencapai 25 persen, namun Presiden memilih menahan sebagian penurunan agar pabrik pupuk tetap memperoleh margin keuntungan yang wajar.
Selain harga pupuk yang lebih murah, nilai tukar petani (NTP) juga meningkat dari 106 menjadi 125, yang disebut sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia.
"Perberasan petani-petani beras sekarang penghasilannya naik. Nilai tukar petani naik, dari 106 jadi 125, tertinggi selama sejarah Republik Indonesia. Cadangan kita juga tertinggi, produksi kita, beras kita tertinggi selama sejarah Republik Indonesia," ujar Presiden.
Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari sinergi berbagai kementerian dan lembaga, serta menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri nasional dalam mencapai kemandirian pangan dan ekonomi.




