Jakarta (ANTARA) - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengatakan rata-rata lifting minyak bumi pada tahun 2025 yang melampaui target dalam APBN menunjukkan kerja nyata Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Bambang, dalam keterangan diterima di Jakarta, Senin, mengatakan capaian tersebut merupakan kemajuan penting setelah dalam delapan tahun terakhir realisasi lifting minyak nasional berada di bawah asumsi APBN.
"Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, target lifting minyak APBN dapat dicapai dan dilampaui. Ini menunjukkan leadership (kepemimpinan) yang kuat dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta kerja nyata yang terukur di lapangan," kata dia.
Ia menyebut keberhasilan itu menandai pembalikan tren stagnasi produksi minyak nasional yang selama ini menjadi tantangan struktural sektor minyak dan gas (migas). “Pemerintah berhasil menghadirkan perbaikan nyata dalam pengelolaan sektor hulu migas,” ujarnya.
Pemerintah, imbuh Bambang, telah mendorong optimalisasi lapangan yang sudah ada, percepatan pengembangan lapangan, serta penguatan koordinasi antara Kementerian ESDM, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Langkah-langkah tersebut dinilai efektif menjaga kesinambungan produksi di tengah tantangan penurunan alamiah lapangan tua.
Selain berdampak pada produksi, Bambang menyoroti kinerja fiskal sektor ESDM yang menunjukkan peningkatan signifikan, yakni penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mengalami kenaikan hingga sekitar 180 persen.
Capaian lifting minyak di atas target APBN dan lonjakan PNBP ESDM dinilai memberikan dampak positif terhadap penerimaan negara serta membantu mengurangi tekanan impor minyak. Kondisi ini disebut turut memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan kredibilitas asumsi makro APBN.
Bambang mengingatkan bahwa ESDM merupakan salah satu penopang utama keuangan negara. Oleh karena itu, peningkatan kinerja ini secara keseluruhan memiliki arti strategis bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Ia meyakini, capaian lifting minyak dan PNBP sektor ESDM pada 2025 menjadi modal penting untuk mencapai target lifting minyak nasional pada tahun 2026 dan penerimaan negara ke depannya.
“Dengan fondasi produksi yang lebih kuat, peningkatan PNBP yang signifikan, serta kepemimpinan yang solid di Kementerian ESDM, kami optimistis kinerja sektor hulu migas dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan dan kontribusi sektor ESDM secara keseluruhan,” demikian Bambang.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata lifting minyak bumi sepanjang 2025 mencapai 605,3 ribu barel minyak per hari (MBOPD) atau 100,5 persen dari target dalam APBN sebesar 605 MBOPD.
“Target kita di APBN, lifting itu 605 MBOPD. Alhamdulillah mencapai target, bahkan melampaui sekalipun sedikit,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1).
Bahlil menyampaikan bahwa nyaris selama 10 tahun, target lifting minyak bumi di APBN tidak tercapai. Terakhir, kata dia, pemerintah mencatat peningkatan produksi minyak dan gas bumi adalah pada 2016.
Baca juga: Menteri Bahlil catat lifting minyak 2025 lampaui target APBN
Baca juga: Anggota DPR: Capaian lifting migas 2025 pulihkan kepercayaan
Bambang, dalam keterangan diterima di Jakarta, Senin, mengatakan capaian tersebut merupakan kemajuan penting setelah dalam delapan tahun terakhir realisasi lifting minyak nasional berada di bawah asumsi APBN.
"Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, target lifting minyak APBN dapat dicapai dan dilampaui. Ini menunjukkan leadership (kepemimpinan) yang kuat dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia serta kerja nyata yang terukur di lapangan," kata dia.
Ia menyebut keberhasilan itu menandai pembalikan tren stagnasi produksi minyak nasional yang selama ini menjadi tantangan struktural sektor minyak dan gas (migas). “Pemerintah berhasil menghadirkan perbaikan nyata dalam pengelolaan sektor hulu migas,” ujarnya.
Pemerintah, imbuh Bambang, telah mendorong optimalisasi lapangan yang sudah ada, percepatan pengembangan lapangan, serta penguatan koordinasi antara Kementerian ESDM, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Langkah-langkah tersebut dinilai efektif menjaga kesinambungan produksi di tengah tantangan penurunan alamiah lapangan tua.
Selain berdampak pada produksi, Bambang menyoroti kinerja fiskal sektor ESDM yang menunjukkan peningkatan signifikan, yakni penerimaan negara bukan pajak (PNBP) yang mengalami kenaikan hingga sekitar 180 persen.
Capaian lifting minyak di atas target APBN dan lonjakan PNBP ESDM dinilai memberikan dampak positif terhadap penerimaan negara serta membantu mengurangi tekanan impor minyak. Kondisi ini disebut turut memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan kredibilitas asumsi makro APBN.
Bambang mengingatkan bahwa ESDM merupakan salah satu penopang utama keuangan negara. Oleh karena itu, peningkatan kinerja ini secara keseluruhan memiliki arti strategis bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Ia meyakini, capaian lifting minyak dan PNBP sektor ESDM pada 2025 menjadi modal penting untuk mencapai target lifting minyak nasional pada tahun 2026 dan penerimaan negara ke depannya.
“Dengan fondasi produksi yang lebih kuat, peningkatan PNBP yang signifikan, serta kepemimpinan yang solid di Kementerian ESDM, kami optimistis kinerja sektor hulu migas dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan dan kontribusi sektor ESDM secara keseluruhan,” demikian Bambang.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata lifting minyak bumi sepanjang 2025 mencapai 605,3 ribu barel minyak per hari (MBOPD) atau 100,5 persen dari target dalam APBN sebesar 605 MBOPD.
“Target kita di APBN, lifting itu 605 MBOPD. Alhamdulillah mencapai target, bahkan melampaui sekalipun sedikit,” ucap Bahlil dalam Konferensi Pers Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2025 yang digelar di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (8/1).
Bahlil menyampaikan bahwa nyaris selama 10 tahun, target lifting minyak bumi di APBN tidak tercapai. Terakhir, kata dia, pemerintah mencatat peningkatan produksi minyak dan gas bumi adalah pada 2016.
Baca juga: Menteri Bahlil catat lifting minyak 2025 lampaui target APBN
Baca juga: Anggota DPR: Capaian lifting migas 2025 pulihkan kepercayaan



