Gen Z, Hijrah Finansial, dan Masa Depan Ekonomi Syariah Indonesia

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi Gen Z. (Dokumentasi CNBC Indonesia)

Di berbagai linimasa media sosial kita hari ini, ada satu fenomena menarik yang pelan-pelan membentuk wajah baru ekonomi Indonesia, yaitu generasi muda yang tidak hanya sibuk dengan gaya hidup digital, tapi juga mulai memiliki kesadaran religius dan sosial yang semakin kuat. Mereka adalah generasi yang lahir setelah pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an atau sering kita sebut sebagai Gen Z.

Baca: Resolusi Ekonomi Syariah Tahun 2026


Generasi yang tumbuh dalam dunia serba cepat, penuh distraksi, namun pada saat yang sama memiliki idealisme yang tidak kecil. Salah satu wujud idealisme itu tampak dalam apa yang sering disebut sebagai "hijrah finansial", yaitu sebuah gerakan kesadaran untuk mengelola keuangan secara lebih bertanggung jawab, lebih etis, dan bagi sebagian mereka lebih sesuai dengan prinsip syariah.

Fenomena ini mungkin tidak terlalu bising dalam seminar-seminar akademik, tetapi sangat hidup di Instagram, TikTok, X, YouTube, podcast, dan komunitas-komunitas online. Bagi sebagian orang tua atau kalangan senior di dunia ekonomi, ini mungkin terlihat sebagai romantisme religius.

Namun bagi Gen Z, ini adalah cara memaknai hidup, identitas, sekaligus masa depan mereka. Pertanyaannya ialah apakah fenomena ini sekadar tren sesaat, atau benar-benar akan membentuk masa depan sistem ekonomi syariah kita?

Istilah "hijrah finansial" tidak lahir dari kajian teoritis melainkan tumbuh dari percakapan sehari-hari, dari ceramah-ceramah singkat, postingan influencer, obrolan grup WhatsApp, dan keresahan personal generasi muda. Terdapat dimensi spiritual seperti keinginan hidup lebih sesuai dengan nilai agama, menjauh dari riba, sekaligus merasa "lebih tenang" dalam urusan harta.

Namun jangan salah terdapat pula dimensi rasional yang kuat. Gen Z sangat akrab dengan literasi keuangan digital. Mereka membaca, membandingkan, mengkritisi, dan melakukan riset sederhana sebelum memilih produk finansial. Mereka tahu bahwa riba bukan hanya isu fikih, tapi juga berkaitan dengan ketidakadilan, eksploitasi, dan jerat utang yang merusak masa depan.

Selain itu, hijrah finansial bagi Gen Z juga memiliki dimensi sosial. Mereka tumbuh dalam dunia yang memperlihatkan ketimpangan secara telanjang.

Di satu sisi, mereka melihat kekayaan yang tak terbatas di media sosial; di sisi lain, mereka menyaksikan teman, tetangga, atau bahkan keluarga sendiri terjebak dalam ekonomi yang sulit. Ekonomi syariah dengan narasi keadilan, keberlanjutan sosial, dan keberpihakan pada yang lemah, bagi mereka bukan sekadar doktrin agama, tetapi tawaran etika sosial yang terasa masuk akal.

Di sinilah ekonomi syariah menemukan "roh" baru. Ia tidak lagi sekadar tampil sebagai sistem alternatif, tidak hanya dinarasikan dalam bahasa formal atau administratif, melainkan mulai hidup dalam keseharian generasi muda sebagai pilihan gaya hidup yang memiliki argumentasi etis, emosional, sekaligus ekonomis.

Banyak orang mengira bahwa generasi digital adalah generasi yang dangkal, hanya peduli pada hiburan, fesyen, dan popularitas. Pandangan ini tentu terlalu menyederhanakan.

Gen Z justru adalah generasi yang paling banyak terekspos pada krisis dimana mereka menyaksikan pandemi COVID-19 menghantam ekonomi keluarga, melihat PHK besar-besaran, mendengar cerita hutang yang mencekik, dan mengalami langsung tekanan hidup yang jauh dari stabil. Bagi banyak Gen Z, isu finansial bukan lagi soal "kemewahan", melainkan soal bertahan hidup dengan bermartabat.

Di sinilah muncul keinginan untuk belajar finansial sejak dini. Banyak anak muda mengikuti kelas literasi keuangan, menonton video edukasi finansial, mengikuti akun-akun pengelolaan keuangan, dan mulai bertanya seperti bagaimana cara hidup yang tidak terjebak utang? bagaimana mengatur cashflow? bagaimana berinvestasi dengan aman? Dan bagi sebagian mereka, pertanyaan itu lanjut menjadi yaitu bagaimana melakukan semua itu tanpa meninggalkan nilai agama?

Gen Z adalah generasi yang religius, tetapi religiusitas mereka unik yaitu tidak kaku, tidak sekadar ritual, melainkan kritis dan diskursif. Mereka bisa bertanya tentang halal-haram sambil membuka aplikasi untuk membandingkan beberapa platform untuk melihat return investasi.

Mereka bisa mendengar ustaz, tetapi juga membandingkan dengan literatur ekonomi, membaca diskusi ulama, dan melihat praktik global. Hasilnya adalah tipe keberagamaan yang rasional dan reflektif yaitu ingin taat, tapi juga ingin paham, ingin sesuai syariah, tapi juga ingin relevan dengan zaman.

Maka jangan heran jika kemudian bank syariah, fintech syariah, platform zakat digital, crowdfunding wakaf, hingga marketplace halal mulai menjadikan Gen Z sebagai segmen penting. Mereka bukan hanya konsumen masa depan, tetapi mereka adalah penentu arah perubahan hari ini.

Selama bertahun-tahun, salah satu kritik terbesar terhadap industri keuangan syariah adalah bahwa terlalu "label oriented". Produk dibuat mirip bank konvensional, hanya diberi istilah Arab, akan tetapi sistem tetap berorientasi profit dan kadang-kadang justru terasa lebih rumit dan tidak kompetitif. Kritik ini sering datang dari akademisi, praktisi, hingga masyarakat Muslim sendiri. Banyak yang akhirnya bertanya lalu apa bedanya secara nyata?

Namun kehadiran Gen Z dengan kesadaran kritisnya memberikan tantangan baru sekaligus peluang besar. Mereka tidak lagi puas dengan label "syariah". Mereka ingin transparansi, ingin kejelasan akad, ingin komitmen sosial, ingin dampak nyata pada ekonomi rakyat.

Jika bank syariah hanya menjadi "konvensional berlabel syariah", mereka akan kritis, bertanya, bahkan beralih. Tetapi jika ekonomi syariah mampu membuktikan bahwa ia benar-benar membawa keadilan, inklusi, dan keberlanjutan, maka mereka akan menjadi penggerak, bukan hanya pengguna.

Kondisi inilah momentum penting yaitu ekonomi syariah harus naik kelas. Ekonomi syariah harus berpindah dari sekadar simbol ke substansi. Dari sekadar industri ke ekosistem. Dari sekadar transaksi ke transformasi sosial. Dari sekadar bank ke gerakan ekonomi yang menyentuh UMKM, pendidikan, kesehatan, perumahan, dan pemberdayaan kelompok rentan. Jika tidak, ekonomi syariah akan kehilangan generasi emasnya.

Satu hal yang tidak bisa dimungkiri ialah Gen Z adalah generasi digital. Mereka melakukan hampir semua hal lewat ponsel mulai belajar, bekerja, bersosialisasi, hingga beribadah. Jika ekonomi syariah ingin relevan bagi mereka, maka kuncinya adalah digitalisasi. Platform zakat dan sedekah digital memungkinkan anak muda berinfak kapan saja, bahkan dengan nominal kecil.

Crowdfunding wakaf membuka kesempatan bagi mereka untuk ikut membiayai pembangunan rumah sakit, sekolah, hingga beasiswa. Aplikasi bank syariah yang semakin modern memudahkan mereka menabung, investasi, atau melakukan pembayaran tanpa harus datang ke kantor cabang.

Fintech syariah menawarkan pembiayaan yang lebih etis dan adil bagi pelaku usaha kecil. Semua ini menciptakan pengalaman spiritual sekaligus finansial yang personal, mudah, dan terasa dekat.

Namun digitalisasi bukan sekadar soal aplikasi tetapi menyentuh pula hal yang lebih dasar, yaitu cara bercerita. Narasi ekonomi syariah harus hadir dalam bahasa yang dipahami Gen Z. Tidak melulu dengan istilah fikih yang teknis, tetapi dengan cerita tentang dampak sosial, kebermanfaatan, keberlanjutan, dan nilai kemanusiaan.

Ketika ekonomi syariah mampu hadir dengan cerita yang kuat bahwa uang yang mereka simpan, investasikan, atau wakafkan benar-benar mengubah kehidupan orang lain, di situlah keterikatan emosional terbentuk.

Dan sekali Gen Z terikat secara emosional dan ideologis, mereka akan menjadi pengguna yang loyal, sekaligus advokat sukarela yang menyebarkan gagasan ini ke orang lain. Namun tentu saja, perjalanan menuju masa depan ekonomi syariah yang ideal tidak selalu mulus. Masih ada berbagai tantangan yang perlu diselesaikan jika kita ingin benar-benar memanfaatkan momentum "hijrah finansial" Gen Z ini.

Pertama, tantangan literasi. Meski minat generasi muda terhadap ekonomi syariah meningkat, pemahaman mereka tidak selalu mendalam. Banyak yang masih terjebak pada simplifikasi yaitu seolah semua yang berlabel syariah pasti lebih adil, lebih murah, atau selalu bebas masalah.

Padahal realitas industri tidak sesederhana itu. Jika literasi tidak diperkuat, kekecewaan mudah terjadi ketika mereka menemukan praktik yang tidak ideal, biaya yang lebih mahal, atau pengalaman layanan yang tidak memuaskan.

Kedua, tantangan kepercayaan. Kepercayaan adalah mata uang utama dalam industri keuangan. Sayangnya, beberapa kasus penyalahgunaan dana sosial, investasi bodong berkedok syariah, hingga konflik kepentingan lembaga, ikut mencederai kepercayaan publik. Generasi muda yang kritis tentu tidak akan tinggal diam. Jika ekonomi syariah gagal menjaga integritas, maka mereka akan berbalik menjauhinya, bahkan dengan suara kritik yang keras di media sosial.

Ketiga, tantangan inovasi. Dunia bergerak cepat, dan Gen Z terbiasa dengan kecepatan itu. Mereka membandingkan pengalaman menggunakan bank syariah bukan dengan masa lalu, tetapi dengan aplikasi-aplikasi terbaik yang mereka gunakan hari ini. Jika industri syariah tertinggal dalam hal teknologi, pengalaman pengguna, kecepatan layanan, dan kemudahan akses, maka klaim idealisme akan kalah oleh realitas praktik.

Keempat, tantangan keberpihakan sosial. Salah satu janji utama ekonomi syariah adalah keberpihakan pada yang lemah. Jika ekonomi syariah hanya memanjakan kelas menengah ke atas, hanya fokus pada profit, dan mengabaikan agenda pemberdayaan, maka generasi muda yang sensitif terhadap isu keadilan sosial akan mempertanyakan relevansinya. Dengan kata lain, ekonomi syariah dituntut tidak hanya "lebih religius", tetapi juga "lebih manusiawi", "lebih modern", dan "lebih kompetitif".

Di hadapan semua tantangan ini, cara pandang kita terhadap Gen Z juga harus berubah. Mereka bukan sekadar target pasar untuk dijual produk syariah. Mereka adalah mitra strategis yang harus dilibatkan dalam merumuskan masa depan ekonomi syariah. Mengapa? Karena merekalah yang paling memahami bahasa, logika, ritme, dan preferensi generasi digital.

Institusi ekonomi syariah baik bank, BMT, fintech, lembaga zakat, maupun nadzir wakaf harus mulai membuka ruang partisipasi generasi muda seperti melibatkan mereka dalam riset produk, mengajak mereka berdialog, mendengar kritik mereka, dan memberi ruang bagi kreativitas mereka. Kolaborasi dengan komunitas anak muda, kampus, organisasi dakwah, hingga kreator konten menjadi penting. Tidak sekadar untuk promosi, tetapi untuk membangun ekosistem gagasan dan gerakan.

Lebih jauh dari itu, Gen Z juga perlu didorong masuk sebagai pelaku seperti menjadi profesional di industri keuangan syariah, menjadi peneliti, inovator fintech, pengelola dana sosial Islam, hingga entrepreneur yang membangun bisnis berbasis nilai syariah.

Dengan begitu, ekonomi syariah tidak hanya dibicarakan oleh mereka, tetapi juga dijalankan oleh tangan mereka sendiri. Pada akhirnya, pertanyaan yang paling esensial adalah mengapa kita perlu membicarakan Gen Z dan hijrah finansial dalam konteks masa depan ekonomi syariah?

Jawabannya sederhana namun mendalam karena masa depan ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi soal nilai. Dunia hari ini sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap sistem ekonomi global yang sering kali melahirkan ketimpangan, eksploitasi, dan ketidakpastian.

Banyak orang mulai mencari sistem yang lebih etis, lebih manusiawi, dan lebih berorientasi keadilan. Ekonomi syariah memiliki modal nilai yang sangat kuat untuk menjawab kegelisahan ini dan Gen Z memiliki energi untuk menggerakkannya.

Jika ekonomi syariah mampu selaras dengan semangat generasi muda spiritual tapi rasional, religius tapi kritis, digital tapi sosial maka ia tidak hanya akan menjadi alternatif, tetapi bisa menjadi arus utama. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dalam percakapan global tentang masa depan ekonomi yang berkeadilan.

Namun semua itu hanya mungkin jika kita memandang ekonomi syariah bukan sekadar sebagai industri, melainkan sebagai gerakan nilai; bukan sekadar sebagai sistem keuangan, melainkan sebagai upaya membangun peradaban ekonomi yang lebih beradab.

Dan di tengah perjalanan besar itu, Gen Z dengan hijrah finansialnya bukan hanya penumpang yang ikut dalam kereta sejarah. Mereka adalah masinis yang kelak menentukan ke mana arah rel ekonomi syariah akan dibawa. Maka tugas kita hari ini jelas yaitu menguatkan literasi, memperbaiki tata kelola, mempercepat inovasi, dan memperdalam keberpihakan sosial.

Jika semua itu dilakukan, maka kita tidak hanya sedang menyambut masa depan ekonomi syariah; kita sedang menyiapkan masa depan bangsa yang lebih adil, lebih berdaya, dan lebih bermakna yaitu bersama generasi muda yang memandang finansial bukan sekadar angka, tetapi bagian dari perjalanan spiritual dan kemanusiaan mereka.


(miq/miq)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tumbangkan Real Madrid 3-2, Barcelona Juara Piala Super Spanyol
• 21 jam lalueranasional.com
thumb
Rupiah Melemah ke Rp16.855 di Awal Pekan, Pasar Cermati Gejolak Iran
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
5 Kecamatan di Serang Banjir Akibat Hujan Deras, 4 Rumah Rusak
• 21 jam laludetik.com
thumb
IHSG Siap Menguat Lebih Tinggi, Simak 5 Rekomendasi Saham Pilihan Analis
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Respons Pihak Denada Terkait Gugatan Dugaan Penelantaran Anak
• 21 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.