Para korban bencana Sumatra mulai memanfaat sebagian kayu gelondongan yang terbawa hanyut saat bencana banjir dan longsor. Pengamat Tata Ruang Yayat Supriatna menilai kayu-kayu tersebut masih bisa dimanfaatkan, asal tetap dipilah meski sempat terendam air dan lumpur.
“Ada beberapa jenis kayu yang kuat seperti kayu besi (pohon ulin), itu justru terendam air tidak masalah,” kata Yayat, saat dihubungi Katadata pada Senin (12/1).
Yayat menjelaskan, ada pohon-pohon tertentu yang secara khusus bisa dimanfaatkan untuk kegiatan konstruksi, seperti pohon ulin atau pohon meranti. Namun, kayu-kayu industri yang biasanya digunakan untuk memproduksi kertas, tidak bisa digunakan.
Ia pun menekankan pentingnya pendataan jenis, usia, kualitas, tingkat kekeringan, ukuran kayu, beserta tingkat kebutuhan hunian sementara. “Kalau ada Kementerian Kehutanan yang membantu memproses, mengolah, dan mengumpulkan, artinya memang tahu mana yang terbaik,” tambahnya.
Selain untuk membangun hunian sementara bagi para korban, kayu-kayu tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk fasilitas lainnya, seperti dapur darurat atau pusat MCK. Namun, Yayat memberi catatan, bahwa bangunan yang bersifat permanen harus menggunakan kayu-kayu berkualitas lebih baik atau menggunakan baja sebagai material utamanya.
Kementerian Kehutanan mencatat, ada 13 huntara di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, yang dibangun dengan material kayu bekas hanyutan banjir. Sebanyak 10 unit masih dalam proses pembangunan, tiga unit lainnya sudah dihuni warga Desa Geudumbak.
Per 11 Januari 2026, Tim Balai Pengelolaan Hutan Lestari bersama Dinas Lingkungan Hidup Aceh telah mengukur 938 batang kayu hanyutan, dengan total volume mencapai 1.506,08 meter kubik. Kayu-kayu ini yang kemudian akan dimanfaatkan bagi keperluan korban bencana.
Sementara itu, kayu-kayu hanyutan di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol di Sumatera Utara tengah memasuki tahap penatausahaan dan pemanfaatan. Hingga 11 Januari 2026, terkumpul 1.376 keping kayu olahan dari wilayah Garoga dengan total volume 19,5755 meter kubik. Sebanyak 752 keping atau 9,9373 meter kubik kayu telah diangkut ke lokasi huntara di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menyatakan, pihaknya fokus memastikan kayu hanyutan yang sudah dimanfaatkan warga ini tidak akan menimbulkan persoalan baru di lapangan.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470789/original/070707600_1768227283-Jepretan_Layar_2026-01-10_pukul_21.10.19.png)