EtIndonesia. Iran memasuki hari ketiga pemutusan total jaringan telepon dan internet nasional, sebuah langkah darurat yang diambil pemerintah untuk menekan gelombang protes anti-rezim yang terus meluas.
Meski demikian, arus informasi dari dalam negeri tidak sepenuhnya terputus. Dengan bantuan layanan internet satelit milik Elon Musk, rekaman video dan laporan lapangan tetap berhasil dikirim ke luar Iran dan menyebar luas di media internasional.
Kawasan Elit Punak Jatuh ke Tangan Demonstran
Pada malam Jumat, 10 Januari 2026, situasi di kawasan Punak-e, Teheran Barat, berubah drastis. Rekaman video menunjukkan pasukan keamanan tidak lagi terlihat melakukan penindasan di wilayah tersebut. Sebaliknya, suasana perayaan justru muncul, dengan kembang api dinyalakan di tengah kerumunan massa.
Diperkirakan lebih dari 100.000 demonstran memadati alun-alun Punak-e. Ribuan ponsel dinyalakan serentak, menciptakan lautan cahaya, sementara massa meneriakkan slogan “Hidup Raja!” serta secara terbuka menyerukan kembalinya Dinasti Pahlavi.
Punake memiliki makna politik yang sangat sensitif. Kawasan ini dikenal sebagai permukiman elite internal lingkar kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, termasuk pejabat tinggi militer dan keluarga yang memiliki hubungan dekat dengan rezim. Secara simbolis, wilayah ini kerap disamakan dengan Zhongnanhai di Beijing, pusat kekuasaan tertinggi Partai Komunis Tiongkok.
Pendudukan Punak-e oleh demonstran menyampaikan pesan yang tegas dan tanpa ambiguitas: tidak ada lagi wilayah terlarang atau tabu bagi perlawanan rakyat.
Kantor Polisi Dikuasai, Balai Kota Dibakar
Gelombang perlawanan tidak hanya terkonsentrasi di ibu kota. Di kota Babol, Iran Utara, warga dilaporkan berhasil menguasai kantor polisi setempat dan membebaskan para tahanan.
Sementara itu, pada Sabtu, 11 Januari 2026, beredar luas video yang memperlihatkan gedung balai kota Karaj dibakar massa. Karaj merupakan ibu kota Provinsi Alborz, berjarak sekitar 40 kilometer dari Teheran, serta termasuk salah satu kota terpadat dan paling sensitif secara politik dan keamanan di Iran. Pembakaran fasilitas pemerintahan di kota ini dipandang sebagai eskalasi besar dalam skala dan keberanian aksi.
Serangan terhadap Aparat dan Status Siaga Tingkat Perang
Sebelum menyasar institusi negara secara terbuka, massa protes dilaporkan lebih dulu menargetkan aparat-aparat kunci rezim. Dalam sebuah insiden terbaru, Kepala Kepolisian Shaur, Mohammad Haghighat, diserang ketika berada di dalam kendaraan yang sedang melaju.
Kelompok bersenjata anti-pemerintah “Tentara Keadilan” secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Media Israel melaporkan bahwa Ali Khamenei telah menaikkan status kesiapsiagaan nasional Iran ke tingkat “di atas masa perang”, sebuah indikator bahwa rezim memandang situasi ini sebagai ancaman eksistensial.
Seorang warganet Iran menuliskan komentar yang banyak dibagikan: “Inilah ciri khas kediktatoran—perang melawan rakyat selalu lebih penting daripada perang melawan musuh asing.”
Sinyal Keras dari Washington
Di tengah eskalasi krisis, pada 10 Januari 2026, Donald Trump menulis di platform Truth Social bahwa Iran sedang menuju cahaya kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap memberikan bantuan kapan saja.
Laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa pemerintahan Trump mulai mendiskusikan berbagai skenario militer terhadap Iran, termasuk opsi serangan udara besar-besaran terhadap target-target militer strategis Iran.
Sejumlah akun intelijen sumber terbuka (OSINT) juga melaporkan bahwa Amerika Serikat tengah melakukan pengangkutan militer skala besar ke Timur Tengah, memperkuat spekulasi tentang kemungkinan eskalasi regional.
Korban Jiwa dan Pembakaran Simbol Ideologi
Namun, harga yang dibayar rakyat Iran sangat mahal. Pada 10 Januari 2026, berdasarkan estimasi Iran International TV, sedikitnya 2.000 demonstran dilaporkan tewas hanya dalam 48 jam terakhir, akibat tindakan represif pasukan pemerintah.
Rezim Iran juga secara terbuka mengancam hukuman mati bagi siapa pun yang merusak tempat ibadah. Meski demikian, perlawanan tidak surut.
Analis militer dan pertahanan Iran, Babak Taghvaei, menyatakan bahwa ratusan masjid, sekolah agama, dan seminari telah dibakar massa di berbagai wilayah Iran.
Salah satu peristiwa paling simbolis terjadi pada malam 10 Januari 2026, ketika Masjid Abuzar di Teheran dibakar demonstran. Di Iran, masjid bukan sekadar bangunan keagamaan, melainkan pilar utama ideologi Republik Islam.
Pembakaran masjid menandai bahwa protes telah melampaui seluruh “garis merah”, berubah dari penolakan terhadap penguasa menjadi penolakan total terhadap sistem politik yang ada.
Efek Domino: Ketakutan Menyebar ke Tiongkok
Menariknya, pihak yang disebut-sebut paling merasakan ketakutan atas potensi perubahan rezim di Iran justru adalah Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Sejak gelombang protes Iran meledak, polisi antihuru-hara dan kendaraan lapis baja Tiongkok dilaporkan terlihat di berbagai kota besar. Di Chongqing, ratusan polisi dikerahkan untuk menjaga ketat bank-bank utama. Di Shenyang, kendaraan lapis baja dengan senapan mesin berat dikerahkan di Jalan Zhongjie—perlengkapan yang lebih menyerupai operasi semi-militer ketimbang patroli sipil.
Di Taiyuan, Provinsi Shanxi, aparat bahkan mengaktifkan platform komando pengawasan ketinggian, menempatkan pasukan khusus di posisi tinggi untuk memantau dan mengendalikan kerumunan dari atas. Bahkan kota tingkat empat seperti Zhumadian, Henan, dilaporkan memasuki status siaga tinggi, sementara di Xincai, jalan tol ditutup untuk mencegah potensi pengumpulan massa.
Seorang netizen Tiongkok menyimpulkan situasi tersebut dengan tajam: “Rezim yang mengaku melayani rakyat justru paling takut rakyat turun ke jalan. Stabilitas menjadi naluri, ketakutan tercermin dalam tindakan. Mereka tidak menyelesaikan masalah, tetapi menyingkirkan orang yang mengajukan masalah—itulah wajah asli kekuasaan PKT.”




