JAKARTA, KOMPAS.com – Kesemrawutan lalu lintas di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, menjadi polemik yang tak kunjung usai.
Di tengah keluhan masyarakat soal kemacetan, pedagang kaki lima (PKL) dan sopir bajaj justru saling lempar tanggung jawab mengenai siapa penyebab utama tersendatnya arus kendaraan.
Pantauan Kompas.com, Minggu (11/1/2026), area sisi kiri jalan dsn trotoar yang seharusnya steril bagi pejalan kaki dan lalu lintas tersebut dikuasai oleh lapak pedagang dan parkir liar.
Padahal, spanduk larangan sesuai Perda DKI Nomor 8 Tahun 2007 terpampang jelas di lokasi mereka menggelar lapak.
"Dilarang berdagang/berniaga di bagian jalan/trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang, dan tempat-tempat umum lainnya, sesuai Perda Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007," bunyi tulisan di spanduk tersebut.
Baca juga: Depan RSCM Dipadati Pedagang dan Parkir Liar, padahal Ada Spanduk Larangan
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=macet jakarta, rscm macet, macet di rscm, penyebab rscm macet&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMy8wNzQ5MDk0MS9zYWxpbmctdHVuanVrLXBlbnllYmFiLW1hY2V0LWRlcGFuLXJzY20tc29waXItYmFqYWotbWVyYXNhLXRhay1zYWxhaC1wa2w=&q=Saling Tunjuk Penyebab Macet Depan RSCM: Sopir Bajaj Merasa Tak Salah, PKL Tak Terima§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Asep (45), bukan nama sebenarnya, seorang pedagang cilok di lokasi, menolak anggapan jika PKL dijadikan satu-satunya kambing hitam atas kemacetan yang terjadi.
Ia mengakui aktivitasnya memakan badan jalan, tetapi ia menilai dampak angkutan umum seperti bajaj yang ngetem lebih parah.
"Kalau dibilang sadar macet, ya saya kan bisa lihat kalau macet. Tapi kayaknya enggak deh (kalau kami satu-satunya biang kerok)," ujar Asep saat ditemui Kompas.com di lokasi, Minggu.
Asep lantas menunjuk barisan bajaj dan ojek online yang kerap ngetem hingga memakan dua lajur jalan untuk menunggu penumpang sebagai pemicu utama penyempitan jalan.
"Coba itu di depan kan banyak itu bajaj, kan sama kalau soal bikin macet. Kalau kami liar, parkir juga liar. Jangan mentang-mentang kami pedagang kecil, terus kami yang paling disalahin," kata Asep.
Baca juga: PKL Tak Terima Disebut Biang Macet di RSCM, Tuding Bajaj yang Ngetem
Bajaj di atas jalur sepedaSementara Abdul (52), bukan nama sebenarnya, sopir bajaj yang kedapatan memarkir kendaraannya tepat di atas marka jalur sepeda berwarna hijau, merasa tidak ada yang salah dengan tindakannya.
Ia berdalih jalur tersebut memang sangat jarang dilewati pesepeda, sehingga lebih baik dijadikan "shelter" bagi bajaj.
"Iya tahu ini jalur sepeda. Tapi, ya gimana, kita namanya mangkal. Enggak ada yang lewat juga sih sebenarnya," kata Abdul.
Ia bahkan mempertanyakan kebijakan pemerintah yang dinilainya tidak adil dalam membagi ruang jalan.
"Masa sepeda dibikinin (jalan), tapi kita enggak dikasih tempat mangkal," keluh dia.




