PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membuka babak baru di bisnis energi bersih. Perseroan menyebut akan mengembangkan usaha di sektor pembangkit listrik berbasis green energy atau energi baru terbarukan (EBT) pada tahun ini. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan dalam memperluas portofolio bisnis berkelanjutan di luar lini usaha utama.
Meski begitu, manajemen BNBR menyampaikan pada 2026 perusahaan tetap akan memfokuskan pengembangan pada bisnis inti di bidang manufaktur dan infrastruktur. Kedua sektor tersebut disebut sebagai bisnis utama BNBR sebagai emiten sektor industri.
Di sisi lain, perseroan juga mulai mengembangkan bisnis baru yang sejalan dengan prinsip ekonomi hijau dan berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik lewat anak usahanya yang bergerak di segmen bus listrik, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
Menurut manajemen, bisnis kendaraan listrik menjadi salah satu pilar pengembangan usaha berkelanjutan perseroan, yang tetap memiliki keterkaitan erat dengan sektor manufaktur.
“Tentunya bisnis-bisnis baru tersebut masih berkaitan dengan bidang manufaktur,” kata manajemen BNBR dalam laporan hasil paparan publik dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Selasa (13/1).
Selain kendaraan listrik, BNBR juga mengembangkan bisnis energi bersih melalui anak usahanya, PT Helio Synar Energi (HSE). Perusahaan ini berfokus pada pengembangan pembangkit listrik berbasis energi hijau, khususnya tenaga surya. HSE merupakan entitas anak yang 99,75% sahamnya dimiliki oleh BNBR.
Dalam pengembangan bisnis EBT, HSE mengusung sejumlah misi, antara lain meningkatkan kemitraan dengan pemerintah Indonesia dan berbagai pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi potensi energi surya. Lalu menyediakan energi alternatif berkelanjutan pengganti diesel dengan biaya lebih rendah melalui pemanfaatan Komponen Tingkat Dalam Negeri, menawarkan solusi yang lebih maju dan lebih baik bagi Pemerintah Indonesia.
Serta meningkatkan pemerataan distribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui penyediaan tenaga listrik bagi daerah-daerah dengan Sistem Tenaga Listrik Terisolasi (IPS).
Saat ini, HSE tengah mengerjakan sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Di antaranya PLTS Kei Besar di Kabupaten Maluku Tenggara dengan kapasitas sekitar 200 kWp untuk klien PT PLM di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Selain itu, terdapat proyek PLTS Selayar di Sulawesi Selatan berkapasitas 1,3 MWp untuk PT PLN Unit Induk Wilayah Sulawesi Selatan.
HSE juga mengembangkan PLTS atap di Kuningan, Jakarta Selatan, dengan kapasitas 15 kWp, serta proyek PLTS Nule di Nusa Tenggara Timur berkapasitas 250 kWp. Di Bekasi, perusahaan menggarap PLTS PT BMC berkapasitas 317,75 kWp dan PLTS PT BPI dengan kapasitas 500 kWp.
Dari kinerja sahamnya, harga saham BNBR ditutup naik 9,80% atau naik 20 poin ke level 224 pada penutupan perdagangan Senin (12/1). Harga saham BNBR juga terpantau stabil saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok secara intraday kemarin.
Selain itu, sejak perseroan mengakuisisi 100% saham operator jalan tol Cimanggis–Cibitung, PT Cimanggis Cibitung Tollways (CTT), kinerja saham BNBR mengalami kenaikan signifikan. Harga saham BNBR yang sempat berada di level Rp 50 kini melesat ke level 224. Secara tahunan (year on year), saham BNBR telah mencatatkan kenaikan sebesar 433,33%.


