Dari London ke Teheran: 30 Ribu Turun ke Jalan, Bayangan Serangan AS Menguat

erabaru.net
6 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi di Iran terus mengalami eskalasi tajam, baik di dalam negeri maupun di panggung internasional. Pada 11 Januari 2026, gelombang dukungan terhadap rakyat Iran meluas hingga ke luar negeri, sementara aktivitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah memicu spekulasi serius mengenai potensi konflik terbuka.

Aksi Solidaritas Global di London

Pada Sabtu, 11 Januari, lebih dari 30.000 orang yang terdiri dari warga Iran diaspora, komunitas Yahudi, serta kelompok patriot Inggris turun ke jalan di pusat kota London. Mereka menggelar aksi solidaritas besar-besaran untuk menyatakan dukungan terhadap rakyat Iran yang terus melakukan perlawanan terhadap rezim berkuasa.

Para demonstran membawa spanduk, bendera, serta meneriakkan seruan dukungan bagi perubahan demokratis di Iran. Aksi ini menjadi salah satu demonstrasi internasional terbesar terkait Iran dalam beberapa tahun terakhir.

“Model Bangladesh” Mulai Diterapkan di Iran

Di dalam negeri, para demonstran Iran mulai menerapkan strategi yang dikenal sebagai “model Bangladesh”, yaitu menandai rumah-rumah pejabat tinggi rezim. Metode ini pernah digunakan dalam gelombang protes di Bangladesh dan terbukti efektif dalam menekan elite kekuasaan dengan cara non-konvensional namun berdampak psikologis besar.

Langkah ini menandai eskalasi baru dalam taktik perlawanan rakyat Iran, yang kini semakin terorganisir dan terarah.

Pesan Simbolik dari Gedung Putih

Di tengah meningkatnya ketegangan, Gedung Putih sebelumnya mengunggah sebuah pesan bernada tegas yang berbunyi: “Tuhan memberkati militer kita. Tuhan memberkati Amerika. Dan ini baru permulaan.”

Unggahan tersebut disertai foto Donald Trump mengenakan topi bertuliskan angka 4547 serta slogan ikonik “Make America Great Again”, yang langsung memicu berbagai spekulasi mengenai langkah lanjutan Washington terhadap Iran.

Aktivitas Militer AS Picu Spekulasi Serangan

Pada Minggu malam, 11 Januari, Gedung Putih mengisyaratkan adanya pergerakan signifikan pesawat militer Amerika Serikat di sekitar wilayah udara Iran. Dalam beberapa jam terakhir, pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135R dan pembom strategis B-52 dilaporkan lepas landas dari Pangkalan Udara Al Udeid, yang terletak di barat daya Doha, Qatar.

Selain itu, pesawat tempur AS terpantau beroperasi di dekat wilayah udara Iran. Yang menarik, beberapa pesawat tersebut berulang kali memasuki wilayah udara Iran lalu berbalik arah menuju Pakistan, pola penerbangan yang dinilai tidak lazim.

KC-135R biasanya beroperasi bersama jet tempur dalam misi jarak jauh, sehingga memunculkan dugaan kuat tentang kehadiran pesawat siluman generasi kelima seperti F-35 atau F-22, yang dikenal sulit dideteksi radar.

Dugaan Keterlibatan Pakistan

Spekulasi semakin menguat setelah muncul laporan bahwa Pakistan diduga kembali menyediakan pangkalan militernya bagi Amerika Serikat sebagai titik operasi potensial terhadap Iran.

Situasi ini diperkuat oleh informasi mengenai pertemuan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dengan delegasi gabungan Israel–Amerika Serikat, yang disebut-sebut membahas kemungkinan serangan terhadap Iran.

Indikator Tak Lazim di Washington

Sinyal lain yang menarik perhatian para pengamat adalah lonjakan tidak biasa jumlah reservasi di Hotel Fitzgerald, yang berlokasi dekat Pentagon. Pola serupa pernah terjadi menjelang sejumlah operasi militer besar Amerika Serikat, termasuk intervensi terhadap Libya di masa lalu.

Bantahan Sumber AS dan Opsi Serangan

Meski demikian, seorang sumber Amerika mengatakan kepada sebuah situs berita politik bahwa saat ini tidak ada pengerahan besar-besaran pasukan atau aset militer AS di Timur Tengah, serta menegaskan bahwa waktu pengambilan keputusan Presiden sangat sempit.

Menurut laporan tersebut, opsi yang sedang dipertimbangkan Presiden meliputi:

Pemerintah AS disebut ingin menghindari korban sipil dalam jumlah besar, sehingga target potensial difokuskan pada sasaran militer, simbol pemerintahan, dan infrastruktur minyak strategis.

Selain itu, Washington juga mempertimbangkan pengiriman terminal internet satelit milik Elon Musk untuk membantu demonstran Iran tetap terhubung di tengah pemutusan jaringan komunikasi.

Dampak Strategis dan Kondisi Pertahanan Iran

Seorang mantan pejabat AS menyatakan bahwa serangan terhadap kepemimpinan tertinggi Iran akan memberikan dampak paling signifikan, namun memerlukan perencanaan matang dan waktu yang lebih panjang.

Situs politik tersebut juga melaporkan bahwa akibat serangan gabungan Israel–AS terhadap program nuklir dan rudal Iran dalam “Perang 12 Hari”, sistem pertahanan udara Iran telah melemah secara drastis dalam setahun terakhir.

Ancaman Balasan dan Seruan Internasional

Ketua Parlemen Iran secara terbuka memperingatkan bahwa jika Amerika Serikat melancarkan serangan, maka seluruh pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah akan menjadi sasaran balasan.

Di sisi lain, Reza Pahlavi kembali menyerukan dukungan internasional bagi transisi demokrasi di Iran, menyatakan bahwa momentum perubahan tidak boleh disia-siakan.

Sementara itu, pada 11 Januari, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyampaikan keterkejutannya atas laporan penggunaan kekuatan ekstrem oleh aparat Iran terhadap demonstran. Ia mendesak otoritas Iran untuk menahan diri semaksimal mungkin dan menghormati hak-hak dasar warganya. (***)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jepang Naikkan Peringatan Perjalanan ke Iran di Tengah Kerusuhan dan Pemadaman Komunikasi
• 11 jam lalupantau.com
thumb
Dua Nasabah Bank Jateng Pati Raih Hadiah Undian Rp75 Juta
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Zulhas: Terobosan Mentan turunkan harga pupuk bersubsidi jadi sejarah
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Prabowo: Target 500 di 2029, Insyaallah Tercapai
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
Banjir Bandang Terjang Donggala, 3 Rumah Hanyut dan 1 Jembatan Ambruk
• 11 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.