Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.853 per Senin, 12 Januari 2026. Posisi rupiah itu melemah 19 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.834 pada perdagangan Jumat, 9 Januari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 13 Januari 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.871 per dolar AS. Posisi itu melemah 16 poin atau 0,09 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.855 per dolar AS.
- ANTARA
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar memantau ketidakpastian politik di Washington, yang terjadi setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve (The Fed) dengan kemungkinan dakwaan pidana.
Ketua Federal Reserve, Jerome Powell mengatakan, bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat. Hal itu dinilai sebagai sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral.
Sementara di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan eceran tumbuh sebesar 1,5 persen secara bulanan alias month-to-month (mtm) pada November 2025. Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 0,6 persen (mtm).
Perkembangan itu tercermin dari hasil survei penjualan eceran (SPE). Mayoritas kelompok tercatat alami peningkatan penjualan, terutama Peralatan Informasi dan Komunikasi (5,5 persen mtm), Suku Cadang dan Aksesori (4,2 persen mtm), Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (2,8 persen mtm), serta Makanan, Minuman, dan Tembakau (1,2 persen mtm).
Sementara secara tahunan alias year-on-year (mtm), penjualan eceran mengalami pertumbuhan sebesar 6,3 persen, lebih tinggi dibandingkan 4,3 persen (yoy) pada Oktober 2025.
Berdasarkan kelompoknya, terjadi kenaikan penjualan terutama di Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (17,7 persen yoy); serta Makanan, Minuman, dan Tembakau (8,5 persen yoy); Barang Budaya dan Rekreasi (8,1 persen yoy); serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (0,8 persen yoy).
Sementara pada bulan selanjutnya atau Desember 2025, BI memproyeksikan kinerja penjualan eceran meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) akhir 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,4 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,3 persen (yoy).

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5470824/original/008923500_1768251978-WhatsApp_Image_2026-01-12_at_21.11.55.jpeg)



