FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali, menegaskan hingga hari ini tidak ada Calon Wakil Presiden sebaik dan sepotensial Gibran Rakabuming Raka
Ali memandang bahwa Gibran merupakan representasi kaum muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki rekam jejak sebagai petahana dengan pengalaman kepemimpinan yang nyata di pemerintahan.
“Masa ada yang lebih baik daripada Gibran hari ini untuk jadi Cawapres. Emang masih ada Calon Wapres yang lebih baik dari pada Gibran? Mewakili anak muda, incumbent, pintar,” kata Ahmad Ali di Podcast Total Politik dilansir dari Youtube, Selasa (13/1).
Lebih lanjut, Ahmad Ali menyoroti pengalaman Gibran yang pernah menjabat sebagai Wali Kota hingga Wakil Presiden sebagai nilai tambah yang signifikan.
la mempertanyakan keberadaan calon lain yang memiliki portofolio kepemimpinan di tingkat wakil presiden, sekaligus menegaskan bahwa status incumbent yang melekat pada Gibran menjadi indikator utama keunggulan dibandingkan kandidat lainnya.
“Pengalaman pasti (karena) pernah jadi wali kota, pernah jadi wapres. Emang calon-calon lain pernah jadi wapres?” tandasnya.
Menanggapi pandangan tersebut, Politisi PSI Dedy Nur Palakka membaca pernyataan Ali dalam konteks yang lebih luas dan sesuai dengan dinamika sejarah.
Menurutnya, nama Gibran Rakabuming Raka baru muncul ke permukaan ketika PDIP menolak menjadi orang nomor dua di Republik Indonesia lewat tokoh politik bernama Ganjar Pranowo .
“Kita ingat-ingat lagi bahwa nama Gibran Rakabuming Raka tidak muncul dalam wacana Wapres RI untuk semua kandidat calon presiden yang hendak bertanding,” kata Dedy Nur.
Itulah kata dia, salah satu alasan fundamental mengapa pernyataan Ahmad Ali soal Gibran Rakabuming Raka menjadi relevan “emang ada calon wapres yang lebih baik daripada Gibran”?
“Perlu juga kita catat bahwa setelah kemunculan nama Gibran Rakabuming Raka ke permukaan sebagai kandidat potensial calon Wapres maka semua kandidat Capres balapan ingin meminangnya menjadi Wapresnya,” tegasnya.
“Anies, Ganjar, Prabowo sangat bersemangat untuk membujuk Gibran Rakabuming Raka untuk bersedia menjadi Wapresnya,” sambung Dedy.
Singkat cerita, sambung Dedy, dari sekian banyak lobi-lobi politik yang terjadi Gibran akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama Prabowo Subianto.
“Dan dari sanalah semua jenis kejengkelan politik berawal, Gibran Rakabuming Raka menjadi penyebab utama mengapa mereka begitu “tantrum” dan jengkel bukan main, karena Gibran Rakabuming Raka memilih tidak berjalan bersama mereka. Kira-kira begitu terjemahan politik yang saya baca dari pernyataan Ketua Harian DPP PSI,” kuncinya. (Pram/fajar)





