Pendapat Ahli; Pekerja 35 Tahun ke Atas Perlu Perkaya Kompetensi Hadapi Dilema Karier

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

Ferry Wirawan Tedja Konsultan dan Praktisi Manajemen SDM sekaligus Ketua Asosiasi Psikologi Jawa Timur menyebut satu-satunya solusi mengatasi dilema pekerja usia 35 tahun ke atas adalah memaksimalkan kesempatan kerja yang sedang dipunya.

Menggenggam erat kerjaan yang dipunyai itu menurutnya penting, karena bisa jadi akan mendatangkan peluang kesempatan karier atau bisnis yang jauh lebih baik. Di sisi lain, harus terus mencari peluang dengan memperkaya kompetensi.

“Pada level terendah saya pikir jalani saja apa adanya. Di level berikutnya, harus membuka peluang, membangun kompetensi, untuk berkarier dan berbisnis. Yang ada di tangan ini dipegang dengan sekuat tenaga sambil kita membuka peluang, siapa tahu kita akan mendapat yang lebih baik,” bebernya dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Selasa (13/1/2026).

Di usia 35 tahun ke atas, lanjutnya, merupakan puncak produktivitas seseorang. Perlu mendefinisikan ulang kontribusi diri sendiri di perusahaan tempatnya bekerja agar tetap relevan dan dibutuhkan sehingga tidak masuk daftar yang harus diberhentikan.

“Selama kita memberi kontribusi usia berapapun masih relevan di organisasi,” ungkapnya.

Termasuk bagi yang merasa stuck dengan karier di tempat kerja, ia menyebut, juga perlu memastikan kompetensinya relevan dan tidak bisa digantikan dengan mesin.

Seorang pekerja menurutnya, harus mempunyai strategi membangun karier. Kuncinya, tidak bertahan dengan hanya satu kompetensi.

Idealnya pekerja usia 35 tahun ke atas kariernya bertumbuh secara struktural, artinya memiliki jabatan agar bisa berkontribusi berbasis pengalaman atau dari sisi konseptual. Sementara jika hanya mampu secara teknik, kemampuannya akan terkalahkan oleh pekerja usia muda.

“Usia tengah-tengah itu yang agak rancu, kontribusi 35 tahun ke atas ini mengarah ke konseptual atau teknikal. Kalau teknikal kalah dengan yang muda. Kalau konseptual harus membangun kompetensi entah belajar lagi dan lain-lain,” bebernya.

Untuk membuat seseorang mampu berkontribusi secara konseptual, mengandalkan kemampuan berpikir, perlu kompetensi yang terus diasah lewat belajar dan upaya-upaya lainnya.

Ia mendorong setiap pekerja tidak merasa terpaksa harus bekerja, namun mencintai pekerjaan yang dilakukan, agar selalu punya motivasi untuk menyelesaikan tanggung jawab dan menjalani rutinitas tanpa stres.

“Kalau merasa enggak bisa apa-apa harus kerja, karena ada anggota keluarga sakit, dan sebagainya, itu stres,” ucapnya.

Sementara pesan untuk perusahaan, harus mampu melacak karyawan yang mulai mengalami dilema karier dan motivasi menurun.

“Paling gampang (cirinya) hadir secara fisik, tapi absen secara mental. Para atasan harus punya sense of HRD melihat orang yang dulunya aktif memberi masukan, sekarang enggak ,” imbuhnya.

Ciri lainnya, karyawan mulai pasif memberi kontribusi berdasarkan pendapatnya sendiri, sehingga hanya menjalankan kerja sesuai pola yang biasa terjadi. “Itu jadi catatan penting buat kita,” ungkapnya. (lta/ham)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
5 Drakor Januari 2026 Langsung Raih Rating Tinggi di Awal Penayangan
• 3 jam laluinsertlive.com
thumb
Saat Seratusan Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Terganggu akibat Hujan
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Prabowo Bertolak ke Malang Pagi Ini Usai Menginap di IKN
• 5 jam laluokezone.com
thumb
Polisi Bekuk Kepala Dusun yang Jambret Korbannya hingga Tewas di Pamekasan: Terpaksa Kami Lumpuhkan
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Rakernas PDIP Keluarkan 21 Rekomendasi, Berikut Isinya
• 19 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.