Industri kendaraan listrik menghadapi tantangan baru seiring potensi perubahan besar-besaran dalam regulasi emisi di Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah pasar mobil listrik terbesar kedua setelah Cina.
Badan Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency/EPA) tengah menyiapkan pencabutan dasar ilmiah yang menyatakan emisi gas rumah kaca membahayakan kesehatan publik alias endangerment finding.
Jika dicabut, aturan ini akan meruntuhkan landasan hukum dari berbagai regulasi iklim utama, termasuk pembatasan emisi kendaraan bermotor. September lalu, pemerintah AS telah menghentikan insentif pajak untuk pembelian mobil listrik.
Ini semua seiring dengan keputusan Presiden Donald Trump untuk kembali memosisikan minyak dan gas sebagai sumber energi utama. Pemerintahan Trump telah menghentikan kebijakan efisiensi bahan bakar guna mendorong penjualan mobil berbahan bakar minyak.
Presiden American Petroleum Institute (API) Mike Sommers menyatakan organisasinya mendukung pencabutan endangerment finding terkait emisi kendaraan bermotor, tapi tidak untuk sumber emisi yang tidak bergerak alias stasioner seperti pembangkit listrik.
“Kami tidak akan mendukung pencabutan endangerment finding untuk sumber stasioner,” kata Sommers dilansir dari Reuters, Selasa (13/1).
CEO General Motors (GM) Mary Barra mengungkapkan bahwa perubahan regulasi dari mulai penghapusan insentif pajak kendaraan listrik hingga rencana pelonggaran standar emisi knalpot membuat perusahaan terpaksa mengubah rencana bisnis.
“Kami harus melakukan sejumlah perubahan yang cukup signifikan,” kata Barra, merujuk pada keputusan GM memangkas investasi kendaraan listrik bernilai miliaran dolar dan kembali memberi porsi lebih besar pada kendaraan berbahan bakar minyak.
GM dilaporkan baru saja mencatatkan beban sebesar US$6 miliar untuk membatalkan sebagian investasi kendaraan listrik. Ini menambah beban serupa sebesar US$1,6 miliar pada kuartal ketiga tahun lalu.
Sejumlah produsen otomotif besar lainnya juga mengerem ekspansi di bisnis kendaraan listrik, termasuk rival GM, Ford Motor. Ford mencatatkan koreksi nilai investasi sebesar US$19,5 miliar setelah memangkas sejumlah program EV.
Meski menghadapi tantangan kebijakan, Bara meyakini adopsi kendaraan listrik akan terus berlansung di AS, seiring semakin mudahnya akses pengisian daya dan turunnya harga. Dia masih memandang kendaraan berbasis baterai sebagai “end game” alias arah akhir industri otomotif.
“Tanpa insentif memang akan memakan waktu lebih lama, tetapi saya tetap yakin kita akan sampai ke sana,” ujar Barra.
Kelompok Pegiat Lingkungan Suarakan Kekhawatiran
Potensi perubahan kebijakan di AS memicu kekhawatiran kelompok pegiat lingkungan dan ilmuwan iklim. Mereka menilai aturan emisi kendaraan merupakan instrumen paling penting bagi AS dalam menekan laju emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi, yang menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di negara tersebut.
Presiden Union of Concerned Scientists Gretchen Goldman menegaskan bahwa dasar ilmiah mengenai dampak buruk emisi terhadap kesehatan manusia dan lingkungan justru semakin kuat dibandingkan saat endangerment finding ditetapkan pada 2009. ”Dasar ilmiah itu justru semakin tak terpatahkan,” ujarnya.




