Menyelam di Air Limbah demi Panen Kerang Hijau, Nelayan Cilincing: Kepala Pusing, Dada Sesak

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Menyelam ke dasar laut sedalam tiga meter demi memanen kerang hijau telah menjadi rutinitas harian sebagian besar warga Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara.

Namun, aktivitas yang menjadi tumpuan hidup itu kini kian berisiko, karena para nelayan harus bergelut dengan perairan laut yang diduga tercemar limbah.

Sebagian besar warga Kalibaru, Cilincing, menggantungkan hidup sebagai nelayan kerang hijau. Dari hasil menyelam dan memanen kerang, mereka berharap bisa memperoleh penghasilan untuk menghidupi keluarga di rumah.

Baca juga: Nasib Pengupas Kerang Hijau di Pesisir Cilincing: Tangan Terluka demi Upah Rp 6.000

Namun, mendapatkan kerang hijau di perairan Cilincing saat ini tidak lagi semudah dulu. Para nelayan harus berhadapan dengan dugaan pencemaran limbah yang kerap muncul, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah Jakarta Utara.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=indepth, in depth, nelayan kerang hijau, limbah laut Cilincing, dampak kesehatan nelayan, pengawasan limbah ilegal&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMy8xMzE2MDM0MS9tZW55ZWxhbS1kaS1haXItbGltYmFoLWRlbWktcGFuZW4ta2VyYW5nLWhpamF1LW5lbGF5YW4tY2lsaW5jaW5nLWtlcGFsYQ==&q=Menyelam di Air Limbah demi Panen Kerang Hijau, Nelayan Cilincing: Kepala Pusing, Dada Sesak§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send();

Padahal, untuk memanen kerang hijau yang telah diternak selama enam bulan, para nelayan harus mengambilnya secara manual dengan cara menyelam hingga kedalaman sekitar tiga meter.

Dalam satu kali panen, nelayan biasanya dapat memperoleh sedikitnya 50 karung kerang hijau yang kemudian dijual kepada para tengkulak.

Namun, puluhan karung kerang tersebut didapatkan dengan penuh perjuangan. Tak jarang, ketika para nelayan menyelam di tengah hujan lebat, perairan laut di sekitar Cilincing dan Marunda justru tercemar limbah.

"Kadang-kadang, waktu hujan besar dikeluarin limbah itu, kalau buangnya pakai apa saya enggak tahu," ungkap nelayan kerang hijau bernama Raspi (60) saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Senin (12/1/2026).

Baca juga: Harapan Untung Tahun Baru Pupus, Nelayan Kerang Hijau Cilincing Rugi Puluhan Juta

Sakit kepala dan dada sesak

Raspi mengaku sering menyelam di tengah air laut yang telah tercampur limbah berwarna kuning dengan aroma menyengat seperti sabun.

Saat menyelam di perairan yang diduga tercemar tersebut, pria asal Indramayu itu kerap merasakan sakit kepala dan dada yang terasa sesak.

"Kalau dibuang pas nelayan lagi menyelam, itu kami puyeng. Saya sering mengalami hal itu, dada juga sesak dan tegang napas juga," jelas Raspi.

Ia menyadari bahwa menyelam di air laut yang tercemar limbah sangat berbahaya bagi kesehatannya. Namun, kondisi itu terpaksa ia lakukan agar perjalanannya ke tengah laut tidak sia-sia dan tetap bisa membawa pulang hasil panen kerang hijau.

Nelayan kerang hijau lainnya, Beny (25), juga mengaku sering terpaksa menyelam di perairan laut yang tercemar limbah demi memanen kerang.

"Ya, gimana daripada kita enggak dapat, kita terpaksa, padahal kita menyelam saja baunya sudah menyengat," ucap Beny.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Menurut Beny, limbah yang kerap terlihat di perairan Cilincing berwarna putih, berbusa, dan mengeluarkan aroma menyengat seperti sabun.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Transformasi Tubuh Ryan Garcia Jelang Lawan Mario Barrios, Mantan Juara Tinju Kini Makin Kekar
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Logo dan Maskot Porprov Babel 2026 Resmi Diluncurkan
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Pakar Soroti Penggunaan Kantong Plastik Dalam MBG, Minta Pemerintah Perketat SOP
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tak Hanya Ijazah, Sertifikat Rumah Sahroni Turut Hilang Dijarah
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Modus Paket Online, Polisi Gagalkan Peredaran Vape Narkotika di Jakbar
• 17 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.