PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) akan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan baja nasional, terutama untuk mendukung pembangunan sejumlah Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mulai digarap tahun ini. Implementasi PSN dinilai akan mendorong lonjakan konsumsi baja nasional dalam jangka panjang.
Pengamat Industri Baja dan Pertambangan, Widodo Setiadharmaji, menilai konsumsi baja nasional akan meningkat seiring masifnya pembangunan PSN. Tren tersebut diperkirakan berlanjut hingga 2045. Menurut dia, baja adalah komponen strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia, khususnya pada fase percepatan infrastruktur dan industrialisasi.
“PSN 2025–2029 tidak sekadar membangun proyek publik, tetapi membuka struktur permintaan baja baru yang berasal dari tumbuhnya kawasan industri, logistik, manufaktur, dan hilirisasi. Ketika infrastruktur publik terhubung dengan kawasan industri, multiplier konsumsi baja akan bergerak bertahap menuju level negara industri,” ujar Widodo dalam keterangannya, Selasa (13/1).
Ia menjelaskan, kebutuhan baja akan diperkuat oleh pembangunan PSN yang dilakukan secara bertahap pada periode 2025–2029. Proyek tersebut mencakup tujuh kelompok strategis, yakni sektor pangan, air, energi, hilirisasi, transformasi digital, pembangunan manusia, kawasan industri, serta konektivitas.
Dari keseluruhan PSN, kebutuhan baja terbesar berasal dari pembangunan kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang diperkirakan mencapai 12,4 juta ton. Sementara itu, proyek konektivitas seperti jalan, rel kereta, pelabuhan, bandara, dan utilitas kawasan membutuhkan sekitar 8,9 juta ton baja. Kedua sektor ini menjadi fondasi utama ekspansi manufaktur dan logistik nasional.
Dalam kajiannya, Widodo memproyeksikan konsumsi baja nasional pada 2026–2029 akan meningkat dari 23 juta ton menjadi 32 juta ton. Selanjutnya, pada periode 2030–2034 konsumsi baja diperkirakan rata-rata mencapai 36 juta ton per tahun, meningkat menjadi 59,5 juta ton per tahun pada 2035–2039 dan berpotensi menembus 100 juta ton per tahun pada 2040–2045.
Menanggapi proyeksi tersebut, Direktur Utama KRAS Akbar Djohan menyatakan kesiapan perseroan untuk mendukung penuh pelaksanaan PSN. Ia memandang tren peningkatan konsumsi baja sebagai peluang strategis untuk memperkuat kapasitas produksi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor.
“Kami siap bertransformasi dan memperluas kapasitas agar Indonesia tidak lagi bergantung pada baja impor,” ujar Akbar.
Pasok Baja untuk Proyek Pipa Gas Dumai-Sei MangkeiBaru-baru ini, KRAS bersama PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Nindya Karya, serta KSO Rabana–Abipraya–SBS–Singgar baru saja menandatangani kontrak pengadaan pipa baja untuk pekerjaan konstruksi terintegrasi rancang bangun Pipa Transmisi Gas Dumai–Sei Mangkei (Dusem) Segmen 1.
Proyek Dusem menjadi salah satu PSN pipa transmisi gas bumi dengan panjang sekitar 541 km yang membentang dari Belawan hingga Duri, Sumatra. Proyek ini dirancang untuk mengalirkan gas dari Wilayah Kerja Andaman menuju Jawa dan ditargetkan mulai konstruksi pada periode 2025–2027.
Di sini, KRAS akan berkontribusi dalam pemenuhan material utama proyek tersebut melalui anak usahanya, PT Krakatau Pipe Industries. Lebih dari 80.000 ton pipa baja dari Krakatau Steel Group akan disuplai untuk mendukung proyek strategis ini.
Pengadaan pipa baja dilakukan oleh Konsorsium Krakatau Steel melalui PT Krakatau Pipe Industries, yang bergerak di bidang manufaktur pipa baja dan jasa pelapisan antikorosi, bersama sejumlah pabrikan dalam negeri lainnya.



