Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kota yang terus bergerak menuju wajah yang lebih rapi, tertib, dan modern, masih ada denyut kehidupan ekonomi yang bertahan di jalur-jalur sempit, trotoar, dan ruang-ruang abu-abu yang luput dari perencanaan.

Pedagang kacang, kuaci, permen (cangcimen) atau asongan menjadi bagian dari lanskap tersebut, hadir tanpa etalase, papan nama, maupun kepastian ruang.

Mereka berjalan kaki dari satu titik ke titik lain, menawarkan kebutuhan kecil yang sering kali tidak direncanakan, tetapi terasa dibutuhkan ketika muncul di hadapan mata.

Baca juga: Tak Bertuan di Kawasan Cagar Budaya, Bekas Kantor Batavia Jadi Hunian Liar

KOMPAS.com/HAFIZH WAHYU DARMAWAN Hidayat (52) saat sedang menunggu pembeli di Jalan Matraman Jakarta Timur Senin (12/1/2026).
Keberadaan pedagang cangcimen kerap dipandang sebagai sisa masa lalu yang belum sepenuhnya tersapu oleh modernisasi kota.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar bayangan nostalgia, melainkan aktor ekonomi yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman.

var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Pedagang asongan, indepth, pedagang cangcimen&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8xMy8xNDA2MDU2MS9wZWRhZ2FuZy1jYW5nY2ltZW4tamFrYXJ0YS10ZXJ1cy1iZXJ0YWhhbi1kaS1jZWxhaC1rb3RhLXlhbmctc2VtYWtpbg==&q=Pedagang Cangcimen Jakarta Terus Bertahan di Celah Kota yang Semakin Tertata§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `
${response.judul}
Artikel Kompas.id
`; document.querySelector('.kompasidRec').innerHTML = htmlString; } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } else { document.querySelector(".kompasidRec").remove(); } } }); xhr.open("GET", endpoint); xhr.send(); Bertahan di Bawah Radar Regulasi Kota

Pedagang cangcimen tidak beroperasi di ruang yang sepenuhnya legal, tetapi juga tidak bisa disebut ilegal secara tegas.

Mereka berada di wilayah abu-abu regulasi, memanfaatkan celah aturan yang tidak secara eksplisit melarang keberadaan mereka di banyak ruang publik.

Pengamat sosial Rissalwan Habdy Lubis menilai, keberadaan pedagang cangcimen merupakan bentuk mekanisme bertahan hidup yang berkembang di kalangan masyarakat kelas bawah perkotaan.

Ia menilai, aktivitas ini bukan sekadar pilihan ekonomi, tetapi juga inovasi sosial yang lahir dari keterbatasan ruang dan kesempatan.

“Ini memang salah satu strategi atau coping mechanism. Jadi, mekanisme bertahan yang bisa kita sebut sebagai suatu inovasi sosial bagi masyarakat kelas menengah bawah agar mereka itu bisa bertahan dengan cara menjadi penyedia kebutuhan," kata Rissalwan saat dihubungi, Senin (12/1/2026).

Ia menjelaskan, pedagang cangcimen memahami betul bahwa pasar yang mereka hadapi semakin kecil dan risiko penertiban selalu mengintai.

Namun, selama aturan tidak diterapkan secara tegas dan seragam, ruang untuk bertahan masih terbuka.

Baca juga: Masa Depan Bajaj di Jakarta yang Kian Tergerus Moda Transportasi Modern

“Jadi mereka tahu nih, mereka bertahan di situ pasarnya kecil, kemudian mungkin bisa dikejar-kejar sama Satpol PP. Tapi sekali lagi itu kan aturannya juga tidak pernah di eksplisit, tidak pernah tegas di tempat-tempat tertentu, mungkin beda dengan misalnya di kereta di KRL,” ungkapnya.

Peluang dari Luar dan Harapan dari Dalam

Keputusan pedagang cangcimen untuk tetap bertahan bukan semata-mata didorong oleh kebutuhan ekonomi, tetapi juga oleh kombinasi antara peluang dan harapan.

Rissalwan menilai, rasa belas kasihan masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang membuat aktivitas ini tetap berjalan.

Di sisi lain, para pedagang menyimpan harapan sederhana agar dagangan tersebut cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari di kota besar.

“Jadi mereka bertahan ini karena memang ada dua hal, pertama itu karena ada peluang, kemudian yang kedua karena ada harapan ya. Jadi peluang itu dari faktor dari luar si pelakunya, tapi peluang yang kedua itu adalah rasa atau belas kasihan orang," ujarnya.

Aktivitas Ekonomi yang Murni

Dalam pandangan Rissalwan, pedagang cangcimen menjalankan aktivitas ekonomi yang sangat pragmatis dan transaksional.

Mereka tidak membangun ikatan jangka panjang dengan pelanggan, tidak menetap di satu lokasi dan tidak menggantungkan hidup pada loyalitas konsumen tertentu. Mobilitas justru menjadi kunci utama untuk bertahan.

“Saya kira memang murni ekonomi ya, ini sifatnya transaksional dan karena ini kan pedagang keseluruhan ini kan mobile ya, dan dia tidak di satu tempat," kata dia.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display('div-gpt-for-outstream'); });
.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
LazyLoadSlot("div-gpt-ad-Zone_OSM", "/31800665/KOMPAS.COM/news", [[300,250], [1,1], [384, 100]], "zone_osm", "zone_osm"); /** Init div-gpt-ad-Zone_OSM **/ function LazyLoadSlot(divGptSlot, adUnitName, sizeSlot, posName, posName_kg){ var observerAds = new IntersectionObserver(function(entires){ entires.forEach(function(entry) { if(entry.intersectionRatio > 0){ showAds(entry.target) } }); }, { threshold: 0 }); observerAds.observe(document.getElementById('wrap_lazy_'+divGptSlot)); function showAds(element){ console.log('show_ads lazy : '+divGptSlot); observerAds.unobserve(element); observerAds.disconnect(); googletag.cmd.push(function() { var slotOsm = googletag.defineSlot(adUnitName, sizeSlot, divGptSlot) .setTargeting('Pos',[posName]) .setTargeting('kg_pos',[posName_kg]) .addService(googletag.pubads()); googletag.display(divGptSlot); googletag.pubads().refresh([slotOsm]); }); } }

Baca juga: Putus Sekolah, Anak-anak di Kramat Pulo Menopang Hidup lewat Ondel-ondel


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Michael Carrick calon kuat latih sementara MU
• 16 jam laluantaranews.com
thumb
13 Acara TV dan Drama Kim Hye-Yoon Terbaik, Terbaru Ada ‘No Tail to Tell’!
• 38 menit lalutheasianparent.com
thumb
Van Gastel Realistis soal Kans PSIM di BRI Super League: Belum Saatnya Bicara Gelar
• 19 jam lalubola.com
thumb
Makanan Kukusan Lagi Tren, Pakar Ungkap Manfaatnya untuk Tubuh
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sudah Bekerja Sama dengan John Herdman Sejak 2010, Cesar Meylan Pede Bisa Berkontribusi untuk Timnas Indonesia
• 2 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.