Quarter Life Crisis: Ketika Usia 20-an Terasa Melelahkan

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Usia 20-an sering disebut sebagai masa paling produktif dalam hidup. Namun, bagi sebagian orang, fase ini justru terasa paling membingungkan dan melelahkan. Tekanan untuk segera sukses, memiliki pekerjaan tetap, hidup mandiri, dan terlihat “baik-baik saja” membuat banyak anak muda merasa terjebak dalam kondisi yang dikenal sebagai quarter life crisis.

Quarter life crisis bukan sekadar perasaan galau atau bingung sesaat. Kondisi ini muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidupnya, merasa tertinggal dibandingkan orang lain, serta dipenuhi rasa cemas terhadap masa depan. Media sosial kerap memperparah keadaan. Unggahan tentang pencapaian teman sebaya sering kali menjadi tolok ukur keberhasilan, meskipun kenyataannya setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda.

Banyak anak muda merasa harus segera menemukan tujuan hidup di usia 20-an. Ketika realitas tidak berjalan sesuai ekspektasi, rasa kecewa dan tidak percaya diri pun muncul. Padahal, tidak ada aturan baku tentang kapan seseorang harus “berhasil”. Setiap individu memiliki waktu dan prosesnya masing-masing.

Di tengah tekanan tersebut, penting untuk memahami bahwa merasa lelah, bingung, dan ragu adalah hal yang manusiawi. Quarter life crisis bisa menjadi momen refleksi untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Alih-alih terus membandingkan diri dengan orang lain, anak muda perlu belajar menerima bahwa kegagalan dan ketidakpastian adalah bagian dari proses bertumbuh.

Menghadapi quarter life crisis bukan berarti harus menemukan semua jawaban sekaligus. Langkah kecil seperti menetapkan tujuan realistis, mengurangi konsumsi media sosial yang memicu perbandingan, serta berbicara dengan orang terpercaya dapat membantu meringankan beban pikiran. Merawat kesehatan mental sama pentingnya dengan mengejar pencapaian akademik atau karier.

Pada akhirnya, usia 20-an bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat sukses. Ini adalah fase belajar, mencoba, dan mengenal diri sendiri. Quarter life crisis bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa seseorang sedang berproses menuju versi dirinya yang lebih matang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Alarm Bahaya! Ekspor RI Kian Merosot di 2026
• 17 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Prabowo Sambangi IKN untuk Pertama Kalinya sebagai Presiden RI | SAPA PAGI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Jalan Tergenang, Warga Sunter Sewa Gerobak Rp10 Ribu demi Melintas
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Usulan Trump Soal Bunga Kartu Kredit Diproyeksi Sulit Lolos Kongres AS
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kala Prabowo Hampir Menangis Depan Kamera, Terpesona Lihat Siswa Sekolah Rakyat...
• 19 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.