Liputan6.com, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta pelajaran gizi masuk ke dalam kurikulum sekolah. Permintaan ini sudah disampaikan BGN kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
"Saya kemarin sudah bertemu dengan Kemendikdasmen, saya meminta agar di sekolah-sekolah nanti ada jam pelajaran gizi," kata Wakil Ketua BGN, Nanik Sudaryati Deyang, Selasa (13/1/2026).
Advertisement
Nanik berharap, melalui penambahan jam pelajaran tentang ilmu gizi, pengetahuan siswa menjadi meningkat, sehingga muncul pemahaman dan kesadaran tentang dampak pemenuhan gizi yang baik. Dengan munculnya kesadaran itu, siswa menjadi suka makan sayur, lauk, buah, dan susu, sehingga jumlah makanan yang terbuang bisa dikurangi.
Nanik juga menjelaskan tentang Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 28 Tahun 2025 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Pelaksanaan Program MBG. Tim Koordinasi yang terdiri dari 17 kementerian dan lembaga itu diketuai Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
“Jadi, berdasarkan Keppres, BGN tidak lagi bekerja sendiri dalam mengelola Program MBG, termasuk juga dalam upaya sosialisasi gizi dan pemenuhan gizi," ujar dia, dilansir Antara.
Menurutnya, jika selama ini pendidikan gizi dilaksanakan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekolah-sekolah penerima manfaat secara berkala, maka nantinya para guru akan dilibatkan. Bahkan mendapat peran utama dalam pemberian ilmu gizi di sekolah-sekolah mereka.
BGN juga akan menggelar kerja sama riset tentang berbagai aspek pelaksanaan MBG bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) yang akan melibatkan para pakar pangan, gizi, dan kesehatan masyarakat dari perguruan tinggi. BGN juga akan melibatkan para mahasiswa yang sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) agar turut menjadi penyuluh gizi di daerah-daerah tujuan KKN.

