Bisnis.com, JAKARTA — Kerugian industri asuransi global akibat bencana alam turun menjadi US$108 miliar sepanjang 2025, berdasarkan laporan perusahaan reasuransi asal Jerman, Munich Re.
Mengutip laporan yang diberitakan Reuters tersebut, nilai kerugian tercatat lebih rendah dibandingkan realisasi 2024 yang mencapai US$147 miliar setelah disesuaikan dengan inflasi. Penurunan ini antara lain dipengaruhi oleh tidak terjadinya badai besar yang melanda daratan utama Amerika Serikat untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.
Estimasi Munich Re tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan perhitungan Swiss Re yang mematok kerugian industri asuransi global sebesar US$107 miliar, sebagaimana dipublikasikan pada Desember lalu.
Munich Re mencatat, kerusakan akibat banjir, kebakaran hutan, dan badai hebat menjadi kontributor utama kerugian yang diasuransikan, dengan total mencapai US$98 miliar. Angka tersebut melampaui rata-rata kerugian sepuluh tahunan yang telah disesuaikan inflasi, yakni sekitar US$60 miliar.
“Tahun ini diawali dengan kondisi yang berat, dengan kerugian sangat besar akibat kebakaran hutan di Los Angeles,” ujar anggota dewan manajemen Munich Re, Thomas Blunck.
Menurut Blunck, Amerika Serikat terhindar dari pendaratan badai besar pada 2025 lebih karena faktor keberuntungan. Namun demikian, negara tersebut tetap menempati peringkat teratas dalam statistik kerugian global.
Baca Juga
- Disinggung Luhut Sebabkan Kerusakan Hutan Tapanuli, Toba Pulp Lestari (INRU) Angkat Suara
- Volume Perdagangan Bursa Karbon Tumbuh 118,46% Sepanjang 2025
- Bank-Bank Wall Street Kantongi Cuan Lebih Besar dari Proyek Hijau
Munich Re menyebut kebakaran hutan di Los Angeles sebagai bencana dengan kerugian yang diasuransikan paling besar sepanjang 2025. Posisi berikutnya ditempati rangkaian badai petir selama beberapa hari di wilayah tengah dan selatan Amerika Serikat pada Maret.
“Dunia yang makin menghangat membuat bencana cuaca ekstrem menjadi makin mungkin terjadi,” kata Kepala Ilmuwan Iklim Munich Re, Tobias Grimm.
Badan Lingkungan Hidup Eropa sebelumnya melaporkan bahwa suhu rata-rata global pada periode 2015–2024 berada 1,24 hingga 1,28 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan level praindustri. Level suhu ini menjadikan periode tersebut sebagai dekade terpanas yang pernah tercatat.
Sementara itu, total kerugian akibat bencana alam secara keseluruhan, termasuk yang tidak diasuransikan, mencapai US$224 miliar pada 2025. Nilai ini lebih rendah dibandingkan rata-rata sepuluh tahun terakhir serta turun signifikan dari US$368 miliar pada 2024.
Munich Re juga mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Maret sebagai bencana termahal kedua dari sisi total kerugian sepanjang 2025. Namun, hanya sebagian kecil dari kerugian tersebut yang tercakup dalam perlindungan asuransi.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460545/original/051726600_1767257018-000_32WF7MJ.jpg)